Tuesday, 29 November 2011

Review : Prada and Prejudice

pertama kali liat buku Prada and Prejudice, yang ada dipikiranku waktu itu 'harus beli'. Kata 'Prada' dan covernya yang warna pink menarik perhatianku. Apalagi aku tahu judul itu diplesetkan dari judul novel sastra legendaris Pride and Prejudice.
Akhirnya ketika aku dapet buku Prada and Prejudice ini rasanya seneng banget, dicium-ciumin dulu halamannya, dihirup-hirup baunya *sniff sniff*.
Buku ini mengisahkan Callie, cewek yang ingin jadi salah satu dari sosialita sekolah, sedang mengikuti study tour ke London. Ia kemudian membeli sepatu Prada warna merah dengan model klasik di butik Prada ketika ia berbelanja. Saking senangnya, keluar dari toko ia langsung memakainya. Sayangnya, tiba-tiba ia tersandung dan pingsan. Ketika sadar, suasana di sekitarnya sama sekali berbeda. Bukan lagi aspal dan beton tapi tanah, bukan lagi gedung tinggi nan megah tapi hutan! Ia terdampar di tahun 1800an!
Callie kebingungan dan ketakutan menemukan sebuah kastil tak jauh dari hutan dan meminta izin untuk masuk. Entah untung atau kebetulan, Callie dikira sebagai Rebecca yang datang berkunjung dari Amerika.
Callie akhirnya mau tak mau menyaru sebagai Rebecca. Ia membantu Emily membatalkan pertunangannya dan menikah dg cowok pujaannya, mengikuti berbagai pesta, mengenakan gaun indah dan menyelamatkan Victoria, ibu Alex sang pemilik kastil ketika Victoria pingsan dan dikira meninggal.
Callie sering berseteru dengan Alex. Menurutnya Alex adalah cowok paling arogan dan angkuh yang pernah dikenalnya. Namun seiring berjalannya waktu, cinta tumbuh di antara mereka.
Sayangnya, ketika Callie tahu Alex mulai menyukainya, ia malah kembali ke abad 21, tempat di mana seharusnya ia tinggal.

Sesuai judulnya, Prada and Prejudice, buku ini menceritakan prasangka Callie yang salah terhadap Alex, yang dianggapnya sangat arogan, angkuh dan sombong. Namun setelah Callie mengenal Alex, Callie mengubah anggapannya dan malah mencintai Alex.
Secara garis besar buku ini menarik, mengingat settingnya dari tahun 1800an. Tapi karena bahasa yang digunakan adalah bahasa kini dan bukannya bahasa sastra seperti buku Pride and Prejudice asli, buku ini jadi lebih 'tahan' untuk dibaca, dan bisa memberitahu kita bagaimana suasana dan trend busana pada tahun 1800an.

No comments:

Post a Comment