Saturday, 3 December 2011

#DearMama, a letter to the Angel

Kamis, 1 Desember 2011
Dear Mama,
Lama sekali ya rasanya aku nggak nulis surat buat Mama. Dulu waktu kecil aku suka menulis surat kecil buat Mama. “Semoga Mama betah dengan pekerjaannya” “Selamat Hari Valentine, Mama” “Selamat Hari Ibu, Mama”. Surat-surat kecil itu aku selipkan dengan pita di meja rias Mama. Mama ingat, kan? Betapa tingginya imajinasi anakmu ini. Betapa tinggi harapan anakmu ini. Pasti Mama masih ingat kala aku kecil, aku menggambar seorang wanita sedang berkacak pinggang dengan tulisan “Mama marah” di bawahnya? Tapi Mama nggak pernah marah. Mama malah tertawa.

Mama, ketika dewasa ini,
aku semakin merasa aku berbeda dengan teman-temanku. Bukan perbedaan yang buruk, tetapi bagaimana perilaku hasil didikan Mama yang membuatku bangga. Mama tak pernah menyuarakan kata-kata yang buruk, tak pernah bilang aku nakal, menegurku dengan tenang, meski kadang memang disertai omelan, tapi itu ciri khas Mama, bukan? :)

 Dulu, sejak kecil aku ingin seperti Mama.
Pintar di sekolah, sukses di pekerjaan dan bahagia di rumah. Maafkan aku yang sempat kesal padamu, Ma. Karena Mama begitu sibuk dengan pekerjaan, repot dengan urusan kantor, mengepakkan sayap Mama di dunia karir. Aku merasa kesepian. Di saat aku ingin Mama memelukku di rumah, Mama malah rapat di kantor.

Ma, aku paling suka ketika lampu mati di rumah.
Kita berkumpul di ruang tamu, dengan penerangan seadanya. Tanpa TV, tanpa komputer, tanpa lampu. Mama menceritakan sejarah keluarga yang belum kuketahui. Kita mengenang masa lalu. Ketika masih ada Mbah Uti, ketika masih ada Papa, ketika Om Bambang masih bisa tertawa, ketika Om Innisisri masih manggung sama Om Iwan Fals. Saat itulah aku memiliki Mama benar-benar seutuhnya. Tanpa intervensi dari berkas-berkas kantor, tanpa gangguan suara TV, tanpa dunia maya yang ditawarkan komputer. Kita berbagi cerita, kita berbagi tawa, dan belajar bersama dari pengalaman.

Tahukah, Ma?
Semua orang yang mengenal Mama bilang Mama adalah orang yang sempurna. Itu membanggakanku, tapi juga membebaniku? Tapi aku tahu, Mama tak memaksaku untuk seperti Mama. Mama membolehkanku mengepakkan sayapku sendiri di dunia yang aku sukai kan? Seperti di dunia tulis ini. Yang dulu sempat kau ragukan. Tapi aku membuktikannya pada Mama, kan. Aku bisa, dan aku mampu.

Ma, aku ingin membanggakan Mama.
Lebih dari ini. Aku menyesali bahwa dulu aku pernah iri dengan temanku yang ibunya terlihat lebih asyik dari Mama. Kini aku bersyukur, aku punya ibu seperti Mama. Yang mengajariku segalanya. Mendidikku dengan kasih sayang. Meski aku anak tunggal, tapi tidak semua yang kumau Mama jawab iya. Aku tahu itu untuk kemandirianku.

Ma, aku tahu.
Sebenarnya di balik tegarnya Mama, Mama merasa kesepian. Tak ada yang bisa dibagi keluh kesah ketika Mama sedih, tak ada yang bisa disambati ketika Mama merasa sesak. Mama selalu ada buatku, buat Om dan buat Tante ketika kami butuh bantuan. Mbah Uti, yang menjadi tempat di mana kita bersandar psikologis, telah tiada. Betapa kita mencintainya ya, Ma. Betapa kita merindukannya.

Mama, aku sayang sama Mama.
Aku mencintai Mama melebihi dalamnya samudra dan tingginya langit di angkasa. Aku mencintai Mama melebihi cinta Romeo kepada Juliet. Melebihi karya-karya Kahlil Gibran tentang syair cinta. Melebihi cinta yang dinyanyikan Julio Iglesias. Cinta kepadamu itu candu, yang tak ada habisnya aku reguk seiring perkembangan zaman, seiring menuanya waktu.

Mama, maaf.
Untuk semua gerutuan. Untuk semua kekesalan. Untuk semua kesalahan. Untuk semua kekhilafan. Untuk semua kealpaan. Untuk semua kecerobohan. Untuk semua kebohongan. Untuk semua kesalahan yang pernah kulontarkan dan kugulirkan. Percayalah bahwa sebenarnya aku mencintaimu.

Mama, terima kasih.
Untuk semua hadiah. Untuk semua dukungan. Untuk semua kecupan. Untuk semua dekapan. Untuk semua tangisan. Untuk semua omelan. Untuk semua teguran. Untuk semua belaian. Untuk semua nasihat. Untuk semua cerita. Untuk semua ajaran. Untuk semua bisikan. Untuk semua waktu. Untuk semua tenaga. Untuk semua pikiran. Untuk semua hati. Untuk semua. Yang terus-menerus kau limpahkan. Yang terus-menerus kau curahkan. Yang terus-menerus kau berikan tiada akhir, tiada ujung dan tiada batas untukku. Kata sayang, cinta, love, tresno, ai, amor, dan semua yang menunjukkan itu rasanya tak cukup untuk mewakili perasaan ini.

Mama, I can’t help myself to falling in love with you. Aku bangga, namamu terselip di nama tengahku.

With a lot of LOVE, ~Your daughter, Dhita Rustiyan.~

No comments:

Post a Comment