Saturday, 17 December 2011

Why I hate Smokers and Cigarettes

Ayah Perokok, Anak Beresiko Leukimia

Membaca artikel di atas, saya hanya bisa tersenyum. Saya juga pernah menjadi korban akibat menjadi perokok pasif. Dulu, di keluarga saya, Papa dan Om saya perokok berat. Papa yang berprofesi sebagai arsitek tentu suka lembur ditemani rokok dan kopi. Gaya hidup kurang sehat di Jakarta yang dianutnya membuat kadar kolesterol dan tekanan darahnya meninggi.

Ketika saya masih berumur 16 hari, saya terpaksa diopname karena tubuh saya membiru. Penyebabnya klep jantung saya tidak mau menutup, yang membuat darah kotor dan darah bersih tercampur. Beruntung saya tertolong. Umur 10 tahun saya sering merasa sesak nafas, pingsan saat upacara dan berat badan saya tidak sesuai, sangat kurus (23kg kala itu). Ketika diperiksa ternyata itu semacam "lanjutan" dari sakit saya dulu. Saya harus minum obat setiap pagi selama dua tahun. Alhamdulillah ketika saya SMP saya dinyatakan sembuh total, berat badan mulai stabil sesuai umur dan tinggi, tidak gampang pingsan dan tidak lagi sesak nafas.

Penyebab utama semua itu? Karena Papa saya perokok. Rokok mempengaruhi kualitas sperma seorang pria, membuatnya menjadi rusak. Sperma rusak ini masih bisa membuahi ovum, tetapi akan berpengaruh pada keturunannya. Papa saya kemudian berhenti merokok ketika terserang stroke sekitar sepuluh tahun lalu. Ayah tiri saya juga perokok berat, berhenti pada tahun 2006. Tetapi hal itu tidak membuatnya luput menderita jantung koroner. Agustus lalu beliau masuk rumah sakit sampai dua kali. Kini beliau sudah berangsur membaik, tetapi harus meminum obat jantung seumur hidupnya.

Pertanyaanya, masihkah anda, para perokok, ingin meneruskan "hobi" merokok anda? :)

No comments:

Post a Comment