Wednesday, 11 April 2012

Melepas Pelukan

"Susah buat dapetin kamu," katanya. Aku terdiam di depannya, mendadak menaruh minat besar pada cangkir coklat di tanganku. Ia memandangku terus, tak berkedip, membuatku jengah.
"Aku sudah berusaha untuk bisa membuatmu berubah pikiran, tapi tetap saja kepalamu menggeleng," lanjutnya. Aku mengedarkan pandanganku keluar cafe. Langit senja itu, sama seperti dua tahun lalu. Sama seperti biasanya.
"Aku sudah tanya kamu berkali-kali, aku harus gimana supaya kepalamu itu mengangguk menerimaku?" tanyanya sambil meraih kedua tanganku, menggenggamnya. Aku menoleh menatapnya. Kedua matanya tajam menatapku, berusaha membuatku terpesona mungkin. Aku menghela nafas.
"Berapa kali pun kamu meminta, aku tetep nggak bisa..,"
"Kenapa?" sambarnya. Tangan kiriku yang digenggamnya ditempelkan ke pipinya. Jantungku berdebar. Bukan debar malu atau senang, tapi jengah...juga ada sebersit takut. Tapi entah kenapa aku tidak bisa menarik tanganku.
"Aku tak mau merusak hubungan kita dengan cinta yang semacam itu," jawabku pelan.
"Kita jalanin aja dulu, bersama-sama. Aku yakin pasti bisa,"
"Kamu yang bisa, aku nggak,"
"Kenapa?" tanyanya lagi, memburu. Aku menarik tanganku, menyembunyikannya dari jangkauan tangannya.
"Aku tetap nggak bisa, tolong jangan tanya lagi," kataku tegas sambil mengalihkan pandanganku. Tangannya yang besar dan kekar terulur, menyentuh pipiku. Tapi ia tak bertanya lagi. Ia menyesap kopinya. Mendesah. Lalu memandangku lagi. Rasanya makin lama makin aneh.
"Dua kali aku nembak kamu, dua kali pula kamu menolakku," gumamnya sambil menggeleng. "Aku sudah terlalu sabar," lanjutnya lagi.
"Aku juga sudah mencoba mengalihkan perhatian dan hatiku ke wanita lain," tangannya menekap mulutnya, menopang sikunya di meja. Matanya tak lepas dariku. Dan aku terus menatap luar cafe.
"Tapi aku terus kepikiran kamu, aku nggak bisa lupain kamu," katanya, memajukan badannya ke depan, ke arahku.
"Kamu mungkin tahu, aku sudah pacaran dengan berapa cewek setelah nembak kamu dulu, tapi tak ada yang bertahan lama. Hatiku cuma mau kamu," katanya lagi. Makin lama aku merasa ia seperti berbicara pada batu.
"Aku ingin jalanin ini sama kamu," katanya. Aku menoleh. Menatapnya. Matanya sayu, memohon. Sekali lagi, aku menggeleng. Ia mendesah lagi, frustasi. Ia kemudian beranjak, berjalan ke kursiku, menutup mataku dan aku merasa ada kecupan mendarat di keningku. Aku menatapnya. Ia tersenyum, lalu pergi. Ketika aku melihat punggungnya menghilang dari balik pintu cafe, aku tersadar bahwa aku telah melepas pelukan yang aku butuhkan.

No comments:

Post a Comment