Monday, 2 July 2012

Finding You Again - Part II

Aku yakin itu cuma delusiku. Rindu yang berlebihan dan tak tertuntaskan. Malah menyiksaku di awal. Karena seperti candu pada narkotika. Aromanya terus ada di otakku, mendorongku untuk terus menghubunginya tapi tahu bahwa itu sedikit tak beretika. Yang pada akhirnya hanya membuatku menelan kerinduan luar biasa dan keinginan akan menyurukkan kepalaku ke lengannya, ke lengkungan lehernya. Menghirup aromanya. Menyimpannya dalam dada.

Aku menoleh kesana kemari mencari sumber aroma. Aku tak beranjak. Di depanku memang ada pria, tapi bukan dia. Diam-diam aku menarik nafas dengan dalam. Melebarkan diafragma, memperluas ruang dalam paru-paru. Ya, itu aromanya. Tapi sumbernya dari pria di depanku ini. Aku tak mengenalnya, jelas. Penampilannya biasa saja. Tapi cukup menarik. Mungkin kalau di novel-novel, sang penulis akan membuat si tokoh nekat berkenalan, atau tak sengaja menabrak, atau kemungkinan-kemungkinan lain yang aneh. Yang akan sangat membuatku gugup dan tampak konyol jika benar-benar melakukannya.

Terlalu fokus pada aroma itu membuatku tak sadar kalau aku berdiri di tengah jalan. Seorang wanita gemuk menabrakku, membuatku jatuh menabrak punggung pria beraroma sama itu. Wanita itu terus berjalan sambil mengomel. Dan aku mengucapkan kata maaf bertubi-tubi pada pria yang kutubruk. Mampus. Tubrukan itu membuatku makin terperangkap pada wanginya. Oh, good, this is really like at the novel.

"Maaf, mas. Maaf, ya. Nggak sengaja,"
"Nggak apa-apa, nggak apa-apa," balasnya pelan.
Aku bangkit dan mencari bukuku. Tubrukan kami tadi juga menyenggol tumpukan buku dan membuatnya berantakan.
"Aduh, bukuku mana ya?" gumamku sambil mencari di antara buku-buku yang berserakan, sambil menatanya asal saja.
"Ini?" tanya pria itu sambil memberikan buku warna hijau yang tadi kupegang.
"Ah, iya, bener. Makasih ya, maaf," kataku sambil meraihnya dan buru-buru ke kasir. Setelah membayar buku, buru-buru aku keluar toko buku dan ke parkiran. Dan mendadak wajahku pias. Kunci motorku di mana ya?
"Nyari ini?" tanya seseorang sambil nyodorin kunci motorku.
"Ya ampun, makasih, maaf ya mas," dia lagi. Please, aku pengen cepet pergi dari sini sebelum aku menubruknya lagi dengan alasan yang lain.

****


Kuhirup aroma kopi hitam di genggamanku. Banyak yang bilang bau kopi bisa menetralisir indra penciuman. Kusesap cairan hitam pekat mengepul itu, meyakinkan aroma parfum di toko buku yang membuatku gugup tadi bisa hilang tidak hanya di rongga hidung dan paru-paruku, tapi juga dari indra pengecapku. Hangatnya kopi dan aromanya yang kuat sedikit merilekskan pikiranku, juga mengurangi kegugupan dan gemetar badanku.

Aroma parfum itu, sudah lama aku tak menghirupnya. Setelah aku memutuskan untuk mengambil beasiswa satu semester di luar negeri. Saat aku pulang ia tak lagi ada di sini. Tak lagi ada untuk menenangkanku. Dan baru saja aroma yang sama persis menguar dari pribadi yang berbeda. Semestinya nuansanya juga berbeda. Tapi ini.....sama persis seperti dia. Aku bisa saja membeli parfum yang sama. Memuaskan rinduku dengan menghirup aroma parfumnya dari botolnya. Tapi tak akan sama. Panas tubuhnya membuat aroma itu menjadi khas. Aroma yang mencandukan.

"Nina!!!" seru seseorang memanggilku. Kakak!
"Nina, kamu kenapa? Kata tetangga sebelah kamu pulang gemetaran,"
"Aku...bau itu...parfum itu, kak. Aku mencium bau parfum itu lagi," kataku. Kakakku terdiam.
"Di mana? Di mana kamu bertemu dia?" tanya kakakku.
"Di toko buku. Tapi itu bukan dia. Hanya bau parfumnya saja yang sama. Tapi baunya sama persis. Mestinya beda, karena panas tubuhnya beda. Tapi sama, kak," cerocosku.
"Sssst...sudah..sudah. Kamu udah di rumah. Nggak apa-apa, ada kakak," kata kakakku sambil memelukku.

****

to be continue

No comments:

Post a Comment