Thursday, 11 December 2014

Menolak Jamaah

Banyak orang yang memilih untuk shalat berjamaah jika ada barengannya. Pahalanya berlipat dua puluh tujuh kali katanya. Aku percaya itu. Di kantor, di kampus, di kost-kostan, di mana pun aku akan shalat dan aku tak sendiri, aku memilih untuk ikut berjamaah. Siapa yang tak ingin pahalanya berlipat sebegitu banyak dalam waktu sangat singkat? Selain itu, karena hafalan surat pendekku hanya sebatas surat pendek qul hu, dengan berjamaah, bacaan surat pendekku tak melulu qul hu. Tapi sesuai yang dibaca oleh imam pada saat itu.

Tetapi semangatku berjamaah tak pernah ada saat di rumah. Mungkin sebagian orang, bahkan banyak orang, tentunya shalat berjamaah pula di rumah. Di luar rumah saja berjamaah, masa di rumah sendiri pahala shalatnya hanya tunggal saja?

Bahkan aku punya mushola di rumah. Bukan, bukan seperti mushola di kompleks rumahku. Hanya sebuah ruuangan yang memang diperuntukkan untuk shalat, cukup untuk lima sampai enam orang. Lengkap dengan tempat wudhu di sebelah, dan banyak mukena serta sajadah. Kupilih cat warna hijau yang sering digunakan sebagai lambang warna agama Islam. Tapi sejatinya aku memilihnya karena senada dengan ruang lain yang ada di sebelahnya.

Aku tak pernah ingin berjamaah di rumah. Bukan tak pernah. Justru karena pernah, aku tak ingin lagi mengulanginya.

Bilang saja aku aneh, sebut saja aku gila. Aku pernah berjamaah dengan Ibuku. Aku didapuknya untuk menjadi saat itu. Aku tak menolak. Karena toh aku sering jadi imam bagi teman-temanku, bergantian, karena kami sama-sama perempuan.

Aku tak tahan dengan suara Ibuku. Bukan karena suaranya buruk. Sebenarnya suara Ibuku merdu. Tetapi suara Ibuku, terutama saat berdoa usai shalat, bergetar. Dengan suara mirip decitan pada beberapa suku kata. Terutama saat beliau menggumamkan “Ya Allah”. Desah nafasnya meremangkan tengkuk. Betapa suaranya begitu memohon, lemah, tak berdaya. Membuat hati mencelos tak karuan. Membuatku didera perasaan tak bersalah tanpa sebab.

Ibuku, yang menjadi panutan banyak orang, disegani semua orang, ditakuti sebagian orang, dihormati beribu orang. Saat ia shalat ia begitu lemah. Semua kekuatannya, disiplinnya, kerasnya, ia letakkan entah di mana. Di saat semua bersandar padanya, ia bersandar hanya pada-Nya. Pada Tuhannya. Saat demikian, aku tak dapat lagi bertahan. Suaranya saat berdoa sama seperti suara saat dia kecewa, saat ia sedih, saat ia lelah, saat ia bingung, saat ia sakit, saat ia nelangsa, saat di mana aku tak dapat berbuat apa-apa. Dan aku benci itu.

Bukan, aku bukan benci pada Ibuku. Tak mungkin aku membencinya. Tapi aku membenci diriku yang tak mampu membuat suara lemahnya berangsur kuat, membuat suaranya yang pelan kembali lantang, membuat kekalutannya berubah tenang. Ibuku selalu bisa menyelesaikan masalahku, tapi aku tak bisa membantunya meneyelesaikan masalahnya. Aku ini anak macam apa??

Perasaan bersalah yang mendadak muncul itu, rasa seperti dipuntir pada perutku ketika mendengar suaranya ketika berdoa itu, membuatku tak ingin shalat berjamaah dengannya. Karena aku tidak kuat. Bacaan shalatku berantakan, shalatku tak khusyuk. Maka dari itu aku hanya bisa memohon dalam sujudku, memohon kepada Tuhan untuk melindunginya. Aku memohon pada Tuhan dalam diam, karena aku tak ingin Ibuku mendengarku menangis meminta perlindungan untuk Ibu pada Tuhan. Karena ia jelas akan bertanya aku kenapa. Biarlah pahalaku ketika shalat di rumah satu saja, aku akan mencari dua puluh tujuh pahala shalat berjamaah di lain tempat. Daripada hatiku teriris mendengar suara Ibu, lalu aku menangis dan membuatnya makin bersedih.

Sepele? Coba saja kau jadi aku, sehari saja.

No comments:

Post a Comment