hujan
aku merindukanmu beberapa hari ini
apa kabarmu?
tak rindukah kau padaku?
aku merindukan suasana sendu yang kau bawa
juga rasa lega yang kau tinggalkan
sama ketika aku menitikkan hujanku sendiri
apakah aku tak cukup membanggakan hingga kau tak terharu?
atau apakah menurutmu aku baik-baik saja hingga tak perlu kau tangisi?
mungkin kau sibuk, mungkin kau tak punya waktu
aku tahu kau tak suka dikekang, begitupun aku
kau suka berpetualang
mencari jiwa yang sedang tak tenang
lalu kau sembuhkan dan kau menghilang
meskipun kadang aku kesal
kala kau terlalu posesif mengenal
tak kunjung juga kau ijinkan matahari bersinar
dan kau tertawa kecil melihatku basah dengan aromamu menguar
aaaah, aroma
aroma yang hanya milikmu
yang tak bisa dipalsu
ingin rasanya dalam-dalam kuhirup
kusimpan dalam paru-paru
aromamu yang segar sekaligus melegakan
mendekapku dengan erat dan nikmat
seperti pasangan yang terlelap dan terbangun bersama keesokan harinya
aaaah, sungguh aku merindukanmu
mampirlah sesekali kemari
akan kuseduhkan teh dan ceritakan perjalananmu yang kemarin
yang membuatmu terlambat datang ke sini
Sunday, 16 October 2011
Monday, 25 April 2011
dawai emosi dan logika
pernahkah kau mengalami hal sesedih ini? aku pernah
pernahkah kau mengalami hal sehampa ini? aku pernah
pernahkah kau berusaha untuk bertahan? aku pernah
pernahkah kau merasa begitu gagal hingga kau merasa bahwa kau patut untuk lenyap?
pernahkah kau merasa begitu berhasil hingga kau merasa bahwa kau patut untuk bersombong?
atas nama cinta, emosi menyetirmu sedemikian mudah
memutar fakta bagaikan memutar roda sepeda
memainkan dusta semudah menghirup udara
atas nama cinta, emosi mendiktemu dengan indah
air mata digulirnya bagai air sungai ke lautan
amarah disulutnya seperti petir menyambar pucuk pohon di hutan
atas nama cinta, logika tak lagi berlaku
ia hanyalah setumpuk daun kering di sudut
teman dipandangnya sebagai musuh
atas nama cinta, logika tak dapat bersuara
alunan tegasnya tertutup melodi emosi yang lembut lagi memuja
eloknya persahabatan tertiup desah angkara
cinta, begitukah kau memberi nama?
dengan dalih cinta, persahabatan dipertaruhkan
manusia diciptakan Ilahi dengan sifat dasar nan buruk rupa
namun Tuhan berbelas kasih dengan meniupkan roh dan memberi akal
agar bagaimanapun hatimu panas dikobar
logika masih bisa berusaha memadamkan
namun akal pun bermuka dua
ia bisa bersikap dewasa
tapi dapat pula memaksa
tidaklah bijak balas berseru
jika di dalam dadamu pun masih beradu
diam pun tak bisa pula kau lakukan
karena alasan masih diperlukan
pernahkah kau mengalami hal sehampa ini? aku pernah
pernahkah kau berusaha untuk bertahan? aku pernah
pernahkah kau merasa begitu gagal hingga kau merasa bahwa kau patut untuk lenyap?
pernahkah kau merasa begitu berhasil hingga kau merasa bahwa kau patut untuk bersombong?
atas nama cinta, emosi menyetirmu sedemikian mudah
memutar fakta bagaikan memutar roda sepeda
memainkan dusta semudah menghirup udara
atas nama cinta, emosi mendiktemu dengan indah
air mata digulirnya bagai air sungai ke lautan
amarah disulutnya seperti petir menyambar pucuk pohon di hutan
atas nama cinta, logika tak lagi berlaku
ia hanyalah setumpuk daun kering di sudut
teman dipandangnya sebagai musuh
atas nama cinta, logika tak dapat bersuara
alunan tegasnya tertutup melodi emosi yang lembut lagi memuja
eloknya persahabatan tertiup desah angkara
cinta, begitukah kau memberi nama?
dengan dalih cinta, persahabatan dipertaruhkan
manusia diciptakan Ilahi dengan sifat dasar nan buruk rupa
namun Tuhan berbelas kasih dengan meniupkan roh dan memberi akal
agar bagaimanapun hatimu panas dikobar
logika masih bisa berusaha memadamkan
namun akal pun bermuka dua
ia bisa bersikap dewasa
tapi dapat pula memaksa
tidaklah bijak balas berseru
jika di dalam dadamu pun masih beradu
diam pun tak bisa pula kau lakukan
karena alasan masih diperlukan
Subscribe to:
Posts (Atom)