Friday, 13 September 2024

The Joy of Parenting-nya Ashana

Rutinitas Ashana setiap pagi selalu sama. Bangun pukul empat, menyeduh kopi dan menyesapnya beberapa kali sebelum kemudian berkutat di dapur. Kadang kala, sering sebenarnya, ia kehabisan ide menu masakan. Hingga tanpa sadar menunya terus itu-itu saja. Apalagi kalau putrinya sedang kurang nafsu makan. Entah karena tumbuh gigi atau sakit batuk pilek pada musimnya. Kepala Ashana semakin pening mencari menu makanan yang menggugah selera dan membuat suami dan putrinya lahap.

Setelah masakan selesai, dibantu suaminya bertugas menanak nasi, ia akan membangunkan putrinya untuk mandi bersama. Sembari putrinya berdandan bersama Papanya, Ashana akan berdandan untuk dirinya sendiri dan menyiapkan kotak bekal untuknya dan putrinya. Begitu semua selesai, ia akan berangkat ke kantor dengan mengantar putrinya lebih dulu ke daycare.

Ia akan menjemput putrinya sesuai jam pulang kantornya. Sama seperti hari lain, hari ini pun demikian. Namun karena usia putrinya sudah hampir tiga tahun, anak itu sudah mulai mengerti berbagai emosi, termasuk kesal pada ibunya karena merasa terlalu lama menunggu. Putrinya memanggilnya dari balik pagar daycare dengan kesal, sudah siap lengkap mengenakan jaket dan tasnya serta telah mengenakan sandal. Ia memeluk Mamanya sambil memberengut. 

"Adek kesal ya, Mama jemputnya lama? Maaf ya, Mama hari ini pulangnya agak telat," kata Ashana sambil mengelus punggung putrinya. 

"Yaudah yuk pulang, Mama bawa bakso buat Adek nih," lanjut Ashana. Putrinya sumringah mendengarnya. "Bakso? Ayooo, " katanya ceria. 

Sesampainya di rumah, putrinya menyantap bakso bersama Papanya sedangkan Ashana mandi dan berganti pakaian. Putrinya lanjut makan pisang dan meminta susu. Ashana geleng-geleng dengan tingkah putrinya. Tapi juga bersyukur setelah beberapa hari nafsu makannya menurun karena batuk pilek. Karena dirasa makan sorenya sudah terlalu banyak, Ashana tidak menawari putrinya makan malam.

Ternyata prediksinya salah. Putrinya melihat Papa dan Mamanya makan malam bihun goreng, ia langsung berseru, "Ma, mau mie,"

"Loh, adek kan udah makan banyak tadi, nanti kekenyangan, sakit perutnya," sahut Ashana.

"Mau miiiee," seru putrinya kekeuh. Ashana mengalah. Ia buatkan mie lagi dengan porsi kecil. Setelah selesai, disodorkannya ke hadapan putrinya yang sedang corat coret di buku gambar di meja lipatnya. Putrinya menoleh ke arah mie yang baru matang, lalu membuang muka. "Nggak!" katanya.

Ashana terkesiap. Kesal dengan tingkah putrinya.

"Adek, jangan gitu. Kan adek tadi udah minta makan mie, sudah dibuatkan Mama, makan ya. Dikit aja gapapa, gak habis gapapa, tapi dimakan," bujuk Ashana.

"Nggaaaaak!" kata putrinya setengah berteriak. Tiba-tiba suaminya mencubit kaki putrinya.

"Makan. Papa nggak suka ya kalau kamu kayak gitu, buang-buang makanan! Mama sudah capek-capek masak kok kamu gak mau makan!" hardik suaminya sambil terus mencubit. Ashana terkejut, ketakutan. Ashana tahu suaminya hanya pura-pura mencubit, namun Ashana tetap ketakutan. Ashana membayangkan kekuatan laki-laki yang menurutnya hanya mencubit tidak sakit namun kenyataannya tetap sakit bagi anak-anak. Ashana juga seperti merasa dicubit, seperti dahulu ketika ia kecil. Bahkan dulu sampai membekas memar di pahanya. Dan ia masih ingat rasanya.

Putrinya menangis, tapi hanya sekejap. Mungkin tangisannya adalah tangisan terkejut dengan reaksi Papanya, dan merasa ternyata tidak sakit dicubit Papanya.

Suaminya terus memarahi putrinya. Lalu putrinya memandang Ashana, "Mama, Papa...," katanya.

"Adek takut Papa marah ya?" tanya Ashana.

"Takut Papa mayah..," kata putrinya.

"Adek nggak suka ya dicubit Papa?" tanya Ashana lagi.

"Tak suka dicubit," jawab putrinya lagi.

"Kalau adek nggak mau Papa marah dan nyubit, adek jangan ulangi lagi ya. Kalau minta makan ya harus dimakan. Kalau udah kenyang, ya jangan minta makan dulu. Ngerti?"

"Ngeti...,"

"Udah, sekarang say sorry dulu sama Papa,"

"Sorry, pa...,"

"Iya, Papa juga sorry ya udah cubit adek," sahut suaminya.

"Ayo, sekarang kita berpelukan bertiga," kata Ashana. Dan mereka pun berpelukan, lalu putrinya mendaratkan kecupan di pipinya dan suaminya.

Tak lama Ashana menidurkan putrinya. Dan tersenyum melihat wajah putrinya. Ia kagum, anak sekecil ini mulai merasakan emosi, dan mau menyampaikan emosi yang dirasakannya. Kebanyakan anak-anak akan takut menyampaikan emosinya meskipun sudah dipandu atau ditanyai oleh orang tuanya. Namun putrinya dengan tenang menyampaikan emosinya. Dan dia bangga akan hal itu.

Ashana kemudian beranjak, mengambil posisi duduk yang rileks dan mulai mempraktekkan teknik relaksasi yang diajarkan Bu Kirana. Ia merasa malam ini tenaganya terkuras dengan emosi negatif, dan ia butuh tidur yang tenang. Ia menyalakan musik yang lembut, melakukan gerakan relaksasi dari Bu Kirana dan gerakan lain yang ia butuhkan. Setelah merasa lebih tenang, ia meminum air putih dan beranjak tidur. Sambil berdoa semoga pikirannya tidak meliar lagi malam ini.

Konseling Kedua Ashana

Ashana kembali melajukan motornya ke rumah sakit lagi. Seminggu yang lalu ia konseling pertama kali ke Psikolog dan merasa lebih baik. Terkadang ia sungkan, akankah masalah yang diceritakannya ini sebenarnya adalah sesuatu hal kecil yang remeh? Bahwa sebenarnya masalah yang ia pikirkan hingga sulit tidur ini adalah hal yang tidak penting.

Namun melihat respon Bu Kirana kemarin, ia tidak melihat gelagat yang menunjukkan pendapat seseorang yang meremehkan. Ia menangkap respon orang bersimpati, dan hal itu melegakannya. Ia tumbuh dalam kritikan. Setiap pencapaiannya terasa masih kurang saja bagi ibunya. Ibunya ingin ia dulu selalu ranking tiga besar. Nyatanya dia selalu bertahan menjadi ranking sepuluh. Sekalinya naik menjadi rangking tujuh, ia membayangkan ibunya akan bahagia bukan kepalang. Namun kegembiraannya tersebut ternyata dibalas dengan respon yang di luar bayangannya. Ibunya berbaring santai di sofa sambil memejamkan mata, dan bertanya sambil lalu ia ingin hadiah apa, dengan nada bosan dan seolah informasi kenaikan rankingnya adalah sesuatu hal biasa dan memang seharusnya Ashana lakukan.

Ibunya dulu sering berkata, anak seusia Ashana tugasnya hanya belajar. Ia tidak dibebani kewajiban mencari nafkah di usia anak-anak, tidak memiliki kegiatan lain selain belajar. Merupakan suatu kewajiban bagi Ashana untuk meningkatkan prestasi akademiknya. Ashana kecewa. Seolah perjuangannya menaikkan ranking dari sepuluh menjadi tujuh seperti sia-sia. Ia ingin selebrasi. Ia ingin disanjung dengan gegap gempita. Namun yang ia dapatkan ternyata sebuah reaksi datar yang melebihi datarnya kaca. Belakangan Ashana menyadari, di usia yang beranjak dewasa, peristiwa itu menjadi pelajaran baginya untuk tidak terlalu mengharapkan pujian dari orang lain. Ternyata, mengapresiasi diri sendiri juga merupakan hal yang bisa dan boleh dilakukan, bukan berarti kita menjadi sombong atau tinggi hati.

Ashana melangkah mengikuti prosedur pendaftaran. Hari ini tidak seramai minggu lalu. Ia langsung masuk ke ruang poli psikologi dan tersenyum menatap Bu Kirana.

"Halo," sapa Bu Kirana cerah. Ashana meletakkan jaket dan tasnya, bersamaan dengan Bu Kirana menggelar matras yoga berwarna merah jambu nan ceria.

"Hari ini kita belajar teknik relaksasi ya. Saya beri setidaknya tiga gerakan dulu, biar kamu gak lupa. Nanti ini jadi PR kamu untuk dilakukan di rumah," kata Bu Kirana. Ashana kagum. Baru saja dia akan bertanya atau meminta teknik relaksasi, ternyata Bu Kirana sudah siap akan hal itu.

Ashana melepas sepatunya dan melihat gerakan yang dicontohkan Bu Kirana. Selanjutnya giliran dia untuk mencoba. Setelahnya Ashana kembali duduk di sofa dekat pintu dan berhadapan dengan Bu Kirana.

"Bagaimana seminggu kemarin dengan Mama? Ada kejadian menarik atau tidak?" tanya Bu Kirana. Ashana menceritakannya, pun menceritakan tentang suami dan anaknya. Sesekali Bu Kirana menimpali. Sesi konseling ini terasa seperti dua teman sedang bercerita. Hanya saja, bedanya bukan saling menceritakan keluarga masing-masing, seperti yang biasa terjadi antara Ashana dengan teman-temannya. Bu Kirana menimpali cerita Ashana dengan penjelasan. Inilah mungkin yang membuat konseling ke Psikolog terasa berbeda kelegaannya, dibanding bercerita hal yang sama dengan sahabat atau suami sendiri.

Selesai konseling, Ashana kembali ke kantor dan buru-buru mengambil jurnalnya. Ia menulis poin-poin yang bisa ia ambil dari konseling hari ini. Ashana mengamati ada dua poin besar.

  • Orang tua usia 65 tahun ke atas, naturalnya akan semakin susah diberi pemahaman. Kita sebagai anak menyikapinya dengan pemakluman, bukan pengabaian, atau menuruti semua keinginannya. Ada kalanya kita akan merasa sangat tidak setuju atau tidak nyaman dengan pendapatnya atau sikap mereka yang sulit diberi masukan. Namun kita harus memaklumi bahwa memang orang tua usia 65 tahun ke atas itu secara natural akan demikian.
  • Dampingi pasanganmu dalam hal positif. Terutama jika ia mengalami kesulitan penyesuaian diri di lingkungan baru. Namun, tanggung jawab terbesarmu adalah anakmu. Pemenuhan keinginan (bukan batiniah) suamimu bukan menjadi tanggung jawabmu. Fokuslah ke anakmu karena itu adalah tujuan dan tanggung jawabmu.

Ashana berhenti sejenak. Ia memejam menahan air mata yang akan keluar. Sekarang, setiap kali membahas anak, ia terenyuh. Sebelum menikah dan lahir anak, ia merasa hidupnya seperti tak ada tujuan. Dulu ia merasa seperti tahu tujuan hidup. Lulus SD, memilih SMP tujuan, lanjut SMA tujuan, lanjut kuliah tujuan, lanjut lagi mencari kerja. Itu semua terasa terarah. Setelah semua tercapai, kala itu ia merasa tujuan berikutnya adalah menikah. Namun hingga target usia menikahnya terlewat, ia seperti hilang arah. Setiap pria nampak seperti berlalu lalang di sekitarnya namun tidak ada satu pun yang menoleh dan melihatnya. Seolah ia adalah makhluk tak kasat mata. Bertahun-tahun ia bertanya-tanya apa yang kurang. Apakah kurang cantik? Kurang pintar? Kurang seksi? Kurang manja? Kurang kaya? Atau malah terlalu pintar? Terlalu mandiri? Terlalu tinggi pencapaiannya sehingga membuat para pria minder dan silau mendekatinya?

Hingga akhirnya ia bertemu dengan yang sekarang menjadi suaminya. Ia merasa seperti keluar dari dunia yang hambar menuju dunia yang lebih berwarna. Pun ketika ia mengandung dan melahirkan putrinya. Detik di mana ia pertama kali menggendong putrinya yang baru lahir, ia merasakan tujuan baru. Terasa lebih jelas, lebih utama. Ia mencium lembut putrinya sambil berjanji, putrinya akan menjadi prioritas utamanya mulai dari sekarang.

Thursday, 12 September 2024

Ashana Kembali Jurnaling

Ashana beranjak dari kursi tunggu. Kakinya berjalan melewati banyak pasien yang sedang menunggu giliran periksa. Ia tidak menyangka setiap hari poliklinik rumah sakit menangani sekian banyak pasien. Tapi dari sekian poli, poli psikologi lah yang paling sepi pengunjung.

Sampai saat ini, pentingnya kesehatan mental masih menjadi sesuatu yang diabaikan. Mungkin karena tidak ada batasan yang jelas atau terlihat mata, orang dengan gangguan mental yang perlu bantuan profesional itu pada taraf yang seperti apa. Banyak yang masih mengabaikan gejala-gejala yang dialami karena merasa masih baik-baik saja. Padahal tanpa ia sadari sudah mulai mengganggu aktifitas sehari-harinya.

Selain itu, stigma masyarakat yang menganggap bahwa gangguan mental sama dengan sakit jiwa atau orang gila membuat mereka masih amat enggan untuk memeriksakan dirinya. Dalam sesi konselingnya tadi, Bu Kirana juga bercerita bahwa sampai saat ini, bantuan BPJS untuk poli kejiwaan masih sulit ditembus. Seakan-akan masalah kejiwaan bukan masalah kesehatan yang darurat untuk ditangani. Padahal obat untuk pasien kejiwaan tergolong mahal, dan tidak semua orang memiliki dana untuk membelinya, padahal mereka membutuhkan. Dianggapnya mungkin hanya dengan bercerita saja sudah cukup melegakan. Padahal ternyata banyak pasien psikiater yang mengalami kecemasan berlebihan hingga badan gemetar dan sulit tidur berhari-hari serta mengalami halusinasi karena lama terabaikan.

Orang-orang menunggu parah dulu baru berobat. Kebanyakan demikian. Kesehatan mental jika terus diabaikan dapat mempengaruhi kesehatan fisik juga. Ini yang kurang dipahami masyarakat. Padahal sering kita jumpai, orang-orang yang mengeluh sakit kepala berlebih, ketika general check-up secara fisik semua baik-baik saja. Tapi ia mengeluh sakit kepala hebat dan sulit tidur.

Ashana memikirkan hal ini sambil terus berjalan menuju parkiran. Ia kemudian melajukan motornya ke sebuah kedai kopi. Bu Kirana menyarankan ia untuk melakukan jurnaling. Ia terdiam. Ashana sudah melakukan jurnaling namun mengalami kesulitan untuk konsisten melakukannya.

Ia mencari inspirasi dari Pinterest, yang ada jadi lebih mengutamakan tampilan jurnalingnya daripada isi dan esensi jurnaling untuk mengurai atau mengurangi beban pikirannya. Ia akhirnya memutuskan untuk memulainya lagi. Ia berkomitmen pada dirinya sendiri untuk melakukan jurnaling sesimple mungkin. Yang mana memang benar-benar untuk menuang isi pikirannya. Ia akan mengesampingkan kesempurnaan demi melegakan isi otak dan hatinya.

Sayangnya, ia lupa membawa notes kecilnya. Namun notes kecil itu telah terisi emosi-emosinya sejak awal tahun dan sepertinya sudah waktunya untuk menyerahkan tongkat estafet ke notes lain, meskipun masih ada sisa beberapa lembar.

Ia memutuskan untuk mampir ke sebuah toko buku dan memilih buku notes kecil beserta pulpen, dan bergegas ke sebuah kedai kopi yang sudah lama ingin ia kunjungi.

Kedai kopi di tengah kota, kecil terhimpit di antara dua bangunan besar. Dari luar nampak seperti warung kopi kecil. Siapa sangka kalau kau berjalan di gang sebelahnya, menuju di belakang yang nampak seperti warung tadi, ada beberapa tempat duduk dan meja yang siap menahan berat badanmu dan berat pikiranmu.

Selain itu, jika kau naik melewati tangga yang menempel dinding, kau akan menemukan meja kursi lain dengan pemandangan genteng rumah warga sekitar yang bisa kau lihat sambil menyesap kopi pesananmu.

Ashana memasuki kedai dan disambut barista yang langsung beranjak muncul dari balik bar. Ashana bimbang memandang papan menu. Antara Americano dingin minim kalori untuk menunjang diet dan olahraganya atau Butterscotch Latte untuk memanjakan diri setelah menahan untuk tidak mengkonsumsi gula. Akhirnya ia memutuskan untuk cheat coffee break. Segelas Butterscotch Latte minim gula dengan beberapa potong cireng setelah enam belas hari makan sehat ia rasa tidak akan terlalu berdosa. 

Setelah memesan dan melakukan pembayaran, Ashana berjalan melewati gang di sebelah kedai dan memilih duduk tepat di belakang kedai. Sudah ada dua orang yang duduk di meja pojok. Sekilas tampak sepertinya mereka berusia 20-an. Laki-laki dan perempuan. Mereka mengobrol sesuatu seperti sebuah rencana liburan beramai-ramai. Yang perempuan sembari menghirup vapour.

Ashana tidak habis pikir, tren vapour ini meresahkan untuknya. Dia tidak peduli gender, baginya vapour tetap sama merugikannya seperti rokok konvensional. Vapour malah kau menghirup uap air, bayangkan kau mengantar uap air itu memasuki paru-parumu dan dia akan mengendap di sana. Terakumulasi berhari-hari. Tapi bagaimanapun, itu pilihan orang. Ashana tidak memiliki hak untuk menegur apalagi melarang. Ia hanya menyayangkan dalam hatinya.

Sembari menunggu pesanannya datang, Ashana membuka notes barunya. Ia sempat merenung, apa yang akan ia tulis di jurnal barunya?

Tanpa sadar, ia memulai dengan kata :

Hai, Ashana. Aku ucapkan terima kasih atas keberanianmu melawan dirimu sendiri untuk tidak mengabaikan kebutuhan bantuan profesional atas kesehatan mentalmu. Aku tahu kau merasa baik-baik saja. Saat ini. Tapi kau tidak baik-baik saja kemarin dan beberapa hari sebelumnya. Hari ini kau sudah berhasil mendorong dirimu untuk ke psikolog dan aku bangga denganmu. Tidak menakutkan bukan?

Ashana melanjutkan jurnalingnya dengan membuat daftar rangkuman dari apa saja yang disampaikan dan disarankan oleh Bu Kirana. Sepertinya ia perlu untuk mencatat setiap hasil konseling nantinya. Agar bisa ia baca ulang dan mengingatkan diri sendiri.

Tak lama pesanannya tiba. Ia mengaduk Butterscotch Latte dan mulai menyesapnya. Lidahnya seakan menari dengan sensasi dingin dan manis yang perlahan bergulir dari gelas ke tenggorokannya dengan lembut. Dasarnya ia tak terlalu suka manis. Jadi mengurangi gula  dalam dietnya tak terlalu sulit baginya. Ia beralih ke potongan cireng yang sudah disiram dengan sambal gula di atasnya. Ia meniriskan sambal gula itu ke wadah, dan menggigit pelan. Kekenyalan cireng yang ia santap terasa pas. Mengingat ia pernah merasakan cireng yang terlampau keras sampai-sampai berbunyi saat di lempar ke meja. Ironisnya itu adalah cireng pertama kali dalam hidupnya, dicicip saat berkunjung ke Bogor beberapa tahun yang lalu. Ia mendengus geli mengingatnya. 

Ia telah 'berpuasa' menikmati gorengan bersamaan dengan dimulainya ia konsisten berolahraga. Lemak di perut dan pinggul pasca melahirkan membuatnya sedih. Baju banyak yang mulai kesempitan, sering mengeluh sakit pinggang, naik turun tangga di kantor saja ngos-ngosan.

Setelah habis satu potong cireng, ia kemudian memegang pulpennya lagi dan mulai menuliskan poin-poin konselingnya.
  • Tidak perlu malu dan khawatir menunjukkan kelemahan di depan orang, terutama di depan orang terdekat kita. Tidak perlu terus menerus berusaha menunjukkan bahwa kita selalu bisa dan tidak butuh bantuan.
  • Kelelahan ibu yang memiliki anak di usia 1-5 tahun, ibu pekerja, adalah sebuah hal yang wajar. 
  • Belajar teknik relaksasi untuk menurunkan emosi
  • Usahakan  untuk nggak ketrigger dengan emosinya Mama, terutama yang nggak berhubungan langsung dengan kamu
  • Orang usia 60 tahun ke atas itu makin menua makin kaku, makin susah diberi penjelasan, kita yang harus memaklumi, kembali lagi jangan ketrigger.

Ashana meletakkan pulpennya. Ia merasa sepertinya ini saja sudah cukup untuk pemanasan menulis jurnalnya.  Kurangnya konsistensi membuat kemampuan menulisnya tumpul kembali. Ia ingat masa kuliahnya dulu, di tengah kesibukannya menyusun skripsi, ia sering berkorespondensi dengan salah satu penulis ternama, dan sering mencoba menulis cerita. Tak jarang hasil karyanya dimuat di majalah. Ia rindu masa itu, rindu dengan dirinya yang fokus dan terlena dalam dunia penulisan. Sekarang, bahkan untuk menyelesaikan membaca satu bab buku novel saja dia membutuhkan waktu berhari-hari. Masanya sudah berganti. Kesibukan sebagai ibu pekerja memang sangat menyita pikiran dan tenaga. Sembari menghabiskan kopi dan cireng, ia berdoa dalam hati, semoga para ibu pekerja di luar sana selalu diberikan kekuatan dan ketangguhan, begitupun bagi ibu rumah tangga dan ibu-ibu yang lain.

Konseling Pertama Ashana

Ini bukan Jumat seperti biasanya. Jumat yang biasa Ashana jalani adalah sampai kantor pukul tujuh, saat kantor masih sepi belum berpenghuni, menyapa OB, lalu menyantap bekal sarapan di mejanya sampai satu per satu karyawan kantor berdatangan. Lalu memulai pekerjaan pukul delapan, istirahat pukul dua belas, pulang pukul empat. Begitu seterusnya, Jumat dan hari kerja lainnya.

Tapi hari Jumat ini berbeda. Ashana mengajukan cuti untuk dua hari, Kamis dan Jumat. Kamis kemarin dihabiskannya dengan berolahraga di pagi  hari, sarapan salad buatan sendiri, membersihkan rumah dan membaca e-book sambil menikmati kopi. Terhitung sudah lima belas hari ia rutin berolahraga dan mengatur asupan makannya. Hal yang sering ia abaikan sejak bertahun-tahun yang lalu. Yang mengejutkan, efek dari rutin olahraga ini membuatnya candu. Selain lemak tubuh nampak berkurang, ia merasa moodnya jadi cukup baik dan terkontrol.

Hari ini, ia awali paginya dengan olahraga lagi. Lalu pukul sembilan, kakinya sudah melangkah di koridor rumah sakit. Tidak, ia tidak cidera. Ia tidak juga sakit fisik. Tapi ia merasa perlu bantuan untuk pikirannya.

Ia agak linglung masuk area rumah sakit. Dari area parkir ia langsung ke loket pendaftaran. Sepanjang menuju loket pendaftaran ia melihat banyak orang mengantri di depan poliklinik. Anak-anak batuk pilek bermain perosotan kecil di depan poli anak, beberapa orang tua duduk di depan poli mata, beberapa orang lain membuat ia bingung menentukan mereka pasien untuk poli apa karena mereka duduk di antara dua poli. Area loket pendaftaran dipenuhi orang-orang mengantre, beberapa dari mereka bahkan sudah duduk di kursi roda atau malah berbaring di stretcher, istilah untuk hospital bed yang mudah untuk mentransfer dan memindahkan pasien dari ruangan yang berbeda.

Ashana menghampiri loket yang kosong, berkata bahwa ia telah melakukan janji dengan psikolog. Ia diarahkan untuk mengambil nomor antrian dulu di lobby, lalu kembali ke loket pendaftaran. Ia mencari lobby, kebingungan di antara koridor yang nampak berputar-putar, alih-alih langsung mengarah dengan jelas. Akhirnya ia menemukannya, petugas resepsionis langsung tanggap. Ashana kembali ke loket pendaftaran dan melakukan pembayaran di kasir lalu berjalan ke poli psikologi. Kaget melewati koridor poli internis yang penuh pasien. Rata-rata usia tua, ada yang kondisinya nampak sehat bugar, ada yang sehat tapi terlihat lelah, ada yang nampak lemah tak berdaya. Ia ingat ayahnya pernah menjadi salah satu dari mereka. Entah apakah ayahnya masih melakukan kontrol atau tidak.

Sampai di depan poli psikologi, ia menengok layar ponselnya. Ada pesan masuk yang menyuruh dia langsung masuk saja karena pintu tidak dikunci. Ia melakukannya.

Ia langsung disambut wanita muda berbatik kuning cerah. Dialah Bu Kirana, psikolognya. Sesuai namanya, ia tampak cantik dan bersinar. Jantung Ashana berdegup. Tapi tidak seperti yang ia bayangkan. Ia membayangan ia akan gugup, menangis, lalu mulai bercerita tanpa henti.

Bu Kirana menyuruhnya duduk di sofa dekat pintu, sedangkan Bu Kirana sendiri duduk di kursi kampus dengan selembar kertas asesmen dan pulpen. Ia mengawali sesi konseling dengan mengajukan beberapa pertanyaan untuk Ashana. Pertanyaan seperti apakah ia sering ketakutan, sering sakit kepala, sering sakit perut, merasa tidak berguna, hilang minat berbagai hal, sampai pertanyaan apakah pernah terbersit keinginannya untuk mengakhiri hidupnya. Ashana sedikit bergidik dengan pertanyaan paling akhir. Jujur, ia takut dengan kematian. Ada tanggung jawab besar yang harus ia penuhi. Dan ia selalu berdoa kepada Tuhan agar dipanjangkan umurnya agar bisa melakukan tanggung jawab itu hingga benar-benar tuntas.

"Nah, gimana, mbak Ashana. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bu Kirana dengan senyum tipisnya.

Ashana terdiam. Ia sempat membayangkan ia akan menangis dan memuntahkan semua isi pikirannya. Tapi malah ia terpaku dan kebingungan mau mulai dari mana. Semua terasa seperti akumulasi baginya. Bukan satu masalah terbaru saja yang membebani pikirannya. Terlalu banyak.

"Saya bingung, Bu, mau mulai dari mana," sahut Ashana. Bu Kirana tersenyum.

"Mulailah dari masalah yang paling memberatkan mbak Ashana saat ini," katanya.

Ashana akhirnya mulai bercerita. Entah karena efek olahraga atau bagaimana. Kegundahan yang setiap hari ia rasakan, yang membuatnya hari ini kemari, terasa seperti biasa saja. Perasaan gundah itu masih ada, tapi ibarat orang mengetuk pintu meminta keluar, ia mengetuk dengan sopan. Bukan lagi menggedor dengan brutal. Cerita mulai bergulir dari bibirnya dengan tenang. Sesekali ia memandang ke jendela. Pucuk pohon besar di luar bergoyang diterpa angin seperti cheerleader mengayunkan pom-pomnya, memberi semangat bagi para atlet yang sedang bertanding. Bu Kirana memandanganya, sesekali mengangguk, sesekali menulis sesuatu di balik kertas asesmen.

Setelah dirasanya cukup, Ashana berhenti bercerita. Bu Kirana juga mengangguk lagi dengan anggukan lebih dalam dan lebih mantap. Seakan ikut menegaskan bahwa cerita Ashana telah selesai.

"Mbak Ashana, dari hasil asesmen singkat saya, serta dari cerita mbak Ashana, mbak Ashana ini mengalami gangguan kecemasan. Pertama, saya mau bilang ke mbak Ashana, hal ini di usia mbak Ashana, dengan status mbak Ashana yang sudah menikah dan punya anak, adalah hal yang wajar. Apalagi, kita baru saja melewati masa pandemi, tingkat kecemasan masyarakat meningkat cukup signifikan. Sayangnya, meskipun kebanyakan orang sudah mulai aware dengan pentingnya kesehatan mental, mereka masih belum punya keberanian untuk meminta bantuan profesional untuk mengurai dan meredakan kecemasan mereka. Jadi, sebelum saya lanjutkan, saya mau bilang terima kasih dan selamat untuk mbak Ashana yang sudah mau mendengar kebutuhan jiwanya untuk pulih dan tidak menunggu parah terlebih dahulu," ucap Bu Kirana dengan lembut namun tegas.

Ashana tersenyum lega. Apresiasi seperti ini jarang sekali ia dapatkan dari orang terdekat pertamanya, ibu kandungnya. Ashana lebih sering dipuji cantik pada moment tertentu, jarang dipuji pintar kecuali untuk hal yang benar-benar tidak bisa dilakukan oleh ibunya seperti menyetir. Jadi, apresiasi semacam ini seperti oase baginya.

"Mbak Ashana, menjadi generasi sandwich memang menyebalkan. Dan nggak ada salahnya, bahkan menurut saya harus, mbak Ashana harus bisa menolak jika dimintai bantuan yang mbak Ashana nggak bisa. Jangan memaksakan sesuatu yang mbak Ashana nggak bisa dan malah membuat masalah baru. Mbak Ashana butuh support, dan support ini dari orang-orang terdekat mbak Ashana. Berat, iya. Tapi terkadang kita nggak tahu kan respon seseorang itu persis seperti yang kita bayangkan atau nggak? Kalau ternyata benar, latih pikiran mbak Ashana untuk berterima kasih ke tubuh dan pikiran mbak Ashana karena telah memberikan warning, sehingga rasanya akan tidak terlalu nggak enak," lanjut Bu Kirana.

"Saran saya, jangan ketrigger sama Mamanya ya. Kalau ketrigger, nanti jadi timbul masalah baru. Nggak ada salahnya kok kita yang minta bantuan, nggak apa-apa kita nampak lemah, kita nggak harus terus-terusan menunjukkan ke orang lain kalau kita kuat dan bisa. Boleh banget kok kita ngomong kita butuh," kata Bu Kirana.

"Bu, kalau saya masih merasa marah gimana? Marahnya kayak yang gemes banget pengen keluar gitu," tanya Ashana.

"Belajar teknik relaksasi ya, saya rasa belum butuh obat, masih bisa ditangani kok dengan olah pikiran. Sesi minggu depan, kita belajar bareng ya kalau masih kesulitan," jawab Bu Kirana.

Ashana mengangguk dan mengakhiri sesinya hari ini. Ia keluar dari ruangan merasa lebih ringan. Yang ia herankan, ia sudah sering sekali curhat masalah yang sama ke suami dan teman terdekatnya, tapi belum pernah seringan ini rasanya. Padahal mereka juga mendengarkan dan tidak menghakimi.

Sebelum beranjak pulang, ia duduk dulu di salah satu kursi tunggu di depan poli. Ia melihat ada anak remaja perempuan memegang buku notes erat-erat, memandang lantai dengan kosong, sambil menggigit kukunya. Bahkan ia menggigit sambil sedikit menariknya. Ia duduk di sebelah wanita muda, nampaknya kakaknya, yang ikut menunggu sambil bermain ponsel sendiri. Anak itu kemudian menoleh ketika namanya dipanggil Bu Kirana, dan bergegas masuk ke dalam poli. Ashana berdoa dalam hati, semoga anak itu segera pulih.

Friday, 17 March 2023

Suzume, dan Perjalanan Menuju Penyembuhan Innerchild Yang Terluka

poster film Suzume, comot dari Google


Hai, apa kabar?

Kusapa dulu semua baik blog ini maupun kalian yang menyempatkan waktu dan diri untuk membaca postingan ini. Blog yang sudah lama kutinggal namun tidak kutinggalkan. Namun kali ini, ada hal yang begitu ingin kubagikan meskipun sebelumnya aku sudah membahasnya ratusan kali dengan pasangan hidupku maupun sudah kutulis dalam buku jurnalku.

Lama tidak menulis di blog, mungkin membuat bahasaku menjadi kikuk dan tidak seluwes dulu saat aku masih aktif menulis. Tapi aku berusaha membuatnya mudah untuk dibaca. Jadi, terima kasih.

Akhir-akhir ini aku dan pasangan hidupku selalu menyempatkan diri untuk berkencan tanpa anak. Hal ini kami rasa sebagai salah satu untuk mempertahankan hubungan, merilekskan pikiran, dan "membayar" hutang pacaran yang belum sempat kami rasakan karena sudah ada anak.  Salah satu kencan kami seperti orang-orang kok, nonton di bioskop. Kebetulan di Blitar sekarang sudah ada bioskop, jadi kami tidak perlu ke luar kota untuk nonton, terutama film-film yang kami ingin tonton.

Minggu lalu, pasangan hidupku mengajak menonton film Suzume di bioskop. Awalnya aku skeptis, masa anime aja pake nonton di bioskop. Tunggu di aplikasi nonton gratis juga nanti ada. Tapi dia kekeuh mau nonton di bioskop karena sudah liat teasernya dan dia tidak sabar. Kupikir, ya sudahlah. Toh kami memang suka nonton anime, jadi pengen tahu juga rasanya nonton anime di bioskop.

Film dimulai, sepanjang film kami menerka bahwa ini film petualangan beneran. Petualangan di dunia fantasi khas anime. Sempat juga kami mengira ini menceritakan dongeng asal muasal Jepang sering gempa. Film buatan Makoto Shinkai ini memang beberapa kali membahas tentang bencana alam. Sebelumnya ada Kimi no Nawa yang berlatar meteor jatuh dan Tenki no Ko yang berlatar hujan dan banjir.

Sepanjang film kami ikut deg-degan dengan alur cerita. Suzume yang anak yatim piatu, diasuh oleh tantenya di kota kecil bernama Kyushu, jadi berpetualang sampai ke Tokyo setelah bertemu dengan Shouta, pemuda yang mencari tempat terbengkalai yang ternyata ada pintu menuju dunia Ever After. Di mana Suzume tidak sengaja membuka pintu tersebut menyebabkan cacing dari Ever After keluar dan jatuh ke bumi, mengakibatkan gempa di Jepang. Suzume merasa bersalah dan bersama Shouta, ia berpetualang hingga ke Tokyo berusaha menutup pintu-pintu yang terbuka, mencegah si cacing keluar lalu jatuh dan mengakibatkan gempa hebat di Jepang.

Sampai kemudian tiba di akhir cerita, ketika Suzume melihat anak kecil yang ternyata dirinya di masa lalu, di situlah aku dan pasangan hidupku menangis dan tersadar, bahwa film ini bukan sekedar film petualangan fantasi. Melainkan ada makna tentang penyembuhan innerchild yang terluka. Suzume yang ditinggal mati ibunya di usia 4 tahun, saking traumanya sampai tidak mau mengingat bahkan hingga terlupa dengan kejadian tersebut. Mengakibatkan ingatan masa kecilnya kabur dan samar. Dia hanya ingat pernah tersesat di Ever After ketika berusaha mencari ibunya.

Kami mengibaratkan, petualangan Suzume ke kota-kota dari Kyushu ke Tokyo, menutup pintu-pintu menuju Ever After yang hanya bisa ditemukan di tempat yang terbengkalai, adalah menutup luka-luka yang pernah tertoreh sepanjang perjalanan usia. Dari kecil hingga dewasa. Luka-luka yang terabaikan (pintu di tempat terbengkalai) adalah luka yang akan terus terasa sakit. Namun ketika kita menyempatkan diri untuk mengunjungi, memvalidasinya dan mengembalikannya bahwa itu adalah hal yang tidak dapat dipungkiri dan merupakan kehendak Tuhan untuk kita belajar, maka kita akan dapat berdamai dengan diri kita, menutup dan mengunci ingatan luka tersebut dengan ikhlas dan damai.

Kami juga mengibaratkan, cacing besar yang jatuh dan menyebabkan gempa adalah ego, emosi, dan luka yang jika dibiarkan akan menumpuk dan jatuh menyebabkan kerusakan bagi diri kita di kemudian hari. Bayangkan orang yang sejak lama memendam emosi dan amarahnya, memendam traumanya dan tidak mampu berdamai dengan lukanya. Maka suatu ketika ia akan dapat meledak dan tentunya itu tidak hanya akan merugikan dirinya sendiri tapi juga orang lain.

Adegan terakhir di mana Suzume ketemu sama Suzume kecil, kemudian berusaha menenangkan Suzume kecil, Suzume sempat kewalahan dan ikut sedih lagi. Tapi kemudian dia bangkit dan bilang ke Suzume kecil, bahwa semua baik-baik saja. Masa depan tidak semenakutkan itu. Di situ aku menangis. Aku merasa seperti Suzume itu aku yang ternyata mengabaikan dan terlupa akan trauma masa kecil, lalu dihadapkan dengan dirinya versi anak-anak. Bahkan kata-kata Suzume ke Suzume kecil pun adalah kata-kata yang ingin aku dengar dari orangtuaku sejak dulu. Bahwa semua baik-baik saja. Kamu pasti bisa.

Film ini sungguh di luar ekspektasi. Ada humor di sana-sini yang membuat segar dan nggak monoton. Ada humanity yang tersampaikan juga di situ. Tapi jangan berharap ada adegan romantis kinyis-kinyis yaa. Kemarin aku dengar ada penonton yang bilang film ini kurang romantis. Yaah, segmentasinya beda lah. Di sini keliatan banget Makoto Shinkai ingin menyampaikan tentang pentingnya menyembuhkan innerchild yang terluka dengan alur cerita yang sama sekali nggak ketebak. Keluar dari studio bioskop rasanya bener-bener kayak abis dari isekai rasanya.

Sungguh, film ini masuk daftar film terbaik menurutku dari segi cerita dan animasinya. Dan masuk daftar film kedua yang sukses bikin aku nangis kejer setelah Avatar The Way of Water. Kuucapkan selamat bagi Makoto Shinkai. Kutunggu lagi karyamu berikutnya, Sensei!


P.S : liat Suzume kecil jadi inget Onyx yang tiap sore nunggu dijemput Mamanya. 😭 Pantes dia selalu bahagia tiap kujemput dan selalu kegirangan kalau kujemput lebih awal. I love you, nak! 

Thursday, 2 September 2021

Pregnancy Diaries : Morning Sickness & Ngidam, Benarkah Suatu Keharusan?

Banyak orang di sekitarku yang bercerita ketika ia atau istrinya hamil, mengalami morning sickness yang cukup parah. Ada yang tidak kuat dengan aroma nasi matang, tidak mau mencium aroma suaminya, muntah-muntah berlebihan, dan lain-lain. Cerita-cerita itu agak membuatku khawatir juga, seperti apa morning sickness yang akan kuhadapi nantinya. Mengingat di usia kandungan lima minggu ini aku belum merasakan apa-apa, hanya menunggu flek ini berhenti dengan sendirinya.


Aku teringat dokter kandungan pertama yang kukunjungi, dalam kalimatnya ia seolah berkata karena aku belum mual, itu adalah tanda janin lambat berkembang. Aku jadi merasa mual adalah suatu keharusan dalam menjalani trimester pertama kehamilan.

Ini yang membuatku mengobrol dengan si bayi, aku tak apa-apa mual asal ia tumbuh berkembang. Aku siap dengan mual, sehebat apapun itu, asal itu memang tanda ia berkembang.

Tapi dr. Adyuta tidak mengisyaratkan bahwa mual adalah keharusan. Ia hanya bertanya apakah aku mual, dan tidak berkata apa-apa lagi ketika kujawab tidak.

Setelah kunjungan ke dr. Adyuta yang kedua karena aku meminta tambahan surat ijin istirahat, dr. Adyuta hanya menambahkan obat penguat kandungan yang dosisnya dikurangi dan tambahan vitamin zat besi. Dua hari berikutnya flekku berhenti. Sebagai gantinya aku mulai merasa mual.

Penciumanku menjadi lebih tajam dari biasanya. Aku benci aroma parfum yang biasa kukenakan, membuatku pusing seharian. Aku tidak suka aroma suamiku, yang biasa kuendus setiap pagi dan malam sebelum tidur. Aku langsung mual ketika membuang sampah, yang biasanya kulakukan dengan tenang mau sebusuk apapun baunya.

Tapi aku bersyukur mualku tidak sampai mual muntah heboh. Lebih banyak hanya merasa eneg. Kalaupun sampai muntah, hanya sekali dua kali dan tidak keluar apa-apa.

Hanya saja enegnya memang tidak segera hilang. Dan ia baru hilang kalau aku mengkonsumsi yoghurt paling asam atau makan bakso dengan kuah panas mengepul.

Jadilah hampir dua minggu lebih aku lebih banyak mengkonsumsi yoghurt, bakso panas, dan buah-buahan banyak air seperti semangka dan mangga.

Aku, yang bisa dibilang tidak pernah makan buah kalau tidak sedang kepingin sekali, sekarang setiap hari selalu ada buah di kulkas untuk kumakan. Aku bisa menghabiskan satu buah mangga, dua buah pear, dua buah apel, dan seperempat semangka potong untukku sendiri dalam sehari. Sepertinya bayiku memang lebih suka makanan sehat daripada makanan cepat saji.

Aku yang biasanya suka beli gorengan dan makanan cepat saji lainnya, hampir tidak pernah ada keinginan untuk menikmati itu lagi sekarang.

Satu hal lagi yang berubah. Aku sama sekali tidak menyentuh kopi sejak aku mulai hamil. Aku yang setiap pagi baru bangun tidur selalu menyeduh kopi, sekarang tidak pernah sama sekali. Pernah aku karena kangen dan kepingin mencicip sedikit, baru setengah gelas, aku ngeflek lagi. Kenyataan ini membuatku harus menghentikan konsumsi kopi selama aku hamil. Dan aku rela melakukannya. Toh aku tidak lagi merasakan urgensi untuk meminum kopi seperti yang biasa kulakukan selama ini.

 

Blitar, 26 Juni 2021

Thursday, 26 August 2021

Pregnancy Diaries : Dokter Ketiga, Opsi Kedua dan Kelegaan Tiada Tara

Tidurku tak nyenyak. Pagi aku terbangun dengan perasaan hampa. Aku menulis ijin lewat chat ke beberapa orang kantor yang berwenang. Termasuk aku memberi tahu teman seruanganku. Tak kusangka ia langsung meneleponku.


"Hei, kamu kenapa?? Habis jatuh apa gimana??" serangnya begitu teleponnya kuangkat. Aku menceritakan kronologi semalam dengan suara berat dan serak karena menangis semalaman.

"Dengar, kusarankan, sebaiknya kamu ganti dokter. Cari dokter yang reputasinya bagus. Beneran. Coba opsi lain. Siapa tahu diagnosenya berbeda. Kalaupun ternyata sama, setidaknya dia dokter bagus yang akan menjamin kesehatanmu seterusnya," katanya.

Kata-kata temanku semakin menguatkan keinginanku yang memang sejak tadi sudah terbersit di pikiranku. Aku ingin mencoba ke dokter kandungan lain lagi, sekalian yang perempuan seperti yang aku inginkan sejak awal. Setidaknya, jika diagnosenya pun sama, yang melakukan tindakan adalah dokter perempuan. Sehingga aku merasa agak lebih nyaman.

Akhirnya agenda kami yang tadinya meminta rujukan BPJS, beralih ke dokter kandungan di rumah sakit yang lain. Suamiku terus menerus menenangkanku. Mungkin karena ia melihat ekspresiku yang begitu tegang. Untungnya teknis pendaftaran di rumah sakit yang ini cukup menyenangkan. Tidak bertele-tele. Begitu namaku dipanggil, aku masuk ruangan dan disambut dengan sapaan yang menyenangkan.

"Pagi ibu, ada keluhan nggak nih?" kata dokternya.

Akhirnya aku menceritakan riwayat kehamilanku mulai dari awal tes sampai diagnose dokter kedua. Kutunjukkan pula foto USG dari dua dokter sebelumnya. dr. Adyuta, nama dokter yang kukunjungi ini, memeriksanya dan mengangguk kemudian memintaku untuk rebah di tempat periksa dan melakukan pemeriksaan dengan USG transvaginal. Ia terdiam sesaat, mengangguk lagi. Lalu mulai berkata.

"Baik, kita lihat bareng-bareng ya. Ini bayinya, ini jantungnya, berdenyut. Kalo kayak gini saya nggak berani kuret. Kalaupun misal, nih, misal, ternyata gak tertolong, gak akan langsung saya kuret juga. Saya kasih obat, kita kasih waktu buat keluar dengan sendirinya. Tapi ini ada kok, ukuran janin sama usia kandungannya sesuai. Bismillah yuk, diusahain bareng-bareng yaa,"

Aku hampir tidak percaya dengan yang kudengar. Bayiku ada! Dia tidak apa-apa! Akhirnya dokter memintaku untuk meneruskan obat penguat kandungan yang sudah kutebus dari resep dokter yang pertama, dan ia memberiku vitamin untuk kehamilan serta menuliskan surat ijin istirahat untuk kepentingan administrasi kantorku.

Aku keluar ruang periksa nyaris melompat.

"Gimana?" tanya suamiku. Kalau aku tidak ingat bahwa kami masih di rumah sakit, aku mungkin akan memeluk suamiku dengan erat.

"The baby is here....," jawabku.

"Bayinya ada??"

"Iya, dan dia baik-baik aja. Dia nggak apa-apa," jawabku lagi.

Suamiku menahan diri untuk tidak melompat kegirangan, aku bisa melihatnya dari raut wajahnya. Sambil berjalan ke apotik, ia mulai mengomel kredibilitas dokter kedua yang kemarin mendiagnoseku untuk menyerah dengan janinku. Ia langsung menelepon orang tuanya. Ternyata mereka pun tidak tidur semalaman setelah semalam ditelepon oleh suamiku perkara dokter yang mendiagnoseku untuk kuret. Kami kemudian segera pulang untuk istirahat. Dan memberikan hadiah bagi diri kami dengan memesan makanan enak!

 

Blitar, 23 Juni 2021

 


 

 

Tuesday, 24 August 2021

Pregnancy Diaries : Dokter Kedua, Dalam Kepanikan

Esoknya aku berkegiatan seperti biasa. Aku ke kantor bahkan menyiapkan kegiatan sosialisasi di sebuah sekolah dan menyetir cukup jauh. Mencoba untuk mengalihkan pikiranku dari diagnose dokter yang mengkhawatirkanku. Seharian itu aku memang merasa nyeri yang agak aneh di perutku. Aku mengelus perutku dan mengajak ngobrol janinku, berdoa agar ia tumbuh sehat dan kuat.

Malamnya selesai mandi, aku sedang menunggu suamiku bersiap untuk kami makan malam di luar. Namun tiba-tiba saat aku beranjak dari dudukku, aku merasa ada darah keluar di bawah sana. Banyak. Aku panik, jelas. Bahkan aku sampai pakai pembalut. Kepalaku saat itu sudah tak bisa berpikir positif. Yang ada dalam benakku hanyalah kemungkinan terburuk. Aku dan suamiku bergegas ke Rumah Sakit terdekat, dengan dokter kandungan yang berbeda. Harapan kami diagnosenya berbeda, dan baik-baik saja.

Aku mendapat urutan terakhir. Kami menunggu lama sekali. Sampai kami sempat untuk makan malam di area luar Rumah Sakit. Pukul sebelas malam akhirnya namaku dipanggil. Begitu kami masuk ruang periksa, dokter tak melihatku sama sekali. Asyik masyuk dengan ponselnya. Dan bertanya, "Ada keluhan apa?" sambil terus menatap ponselnya. Kuceritakan yang kualami. Dan kemudian ia mendeteksi rahimku dengan USG.

Ia melihat ke layar, lalu berkata, "Sudah kisut ini. Kalau saya sih nggak saya teruskan."

Aku terdiam. "Lalu baiknya bagaimana, Dok?"

"Kuret. Secepatnya," katanya cuek. Aku mencelos.

"Mau umum apa BPJS?" tanyanya lagi.

"Umum berapa, Dok?"

"Lima juta," sahutnya cepat.

"Eh...BPJS saja, dok....," sahutku lirih. Dokter itu menanyakan Faskes Tingkat I-ku dan menuliskan rujukan. Kemudian asistennya menyarankanku untuk mendaftar sekalian malam ini untuk kunjungan besok. Kejutan, aku sudah berada di nomor urut dua belas untuk besok!

Begitu masuk mobil aku hanya bisa menangis. Terus menangis. Kuajak ngobrol lagi si janin, "Ayo nak....kuat nak....sama Mama ya...," Sampai rumah pun aku masih terus menangis. Sedihnya begitu menusuk. Pilu sekali. Suamiku terus menenangkanku. Ia berusaha ikhlas jika memang begitu adanya.

"Rasanya gimana?" tanyanya pelan.

"Tadi siang terasa, lho....," jawabku sambil terus menangis.

"Tadi....tadi terasa ada lembuuut sekali. Sekarang....sekarang....sekarang kenapa gak terasa....," lanjutku. Tangisku lebih keras.

"Iya..iya, tadi terasa ya? Tadi pagi kamu mau berangkat aku peluk, aku juga bilang aku ngerasa juga kan ya," kata suamiku. Tiba-tiba, ketegarannya runtuh.

"Tuhan....," katanya. Suaranya mulai bergetar.

"Aku tahu aku mungkin bukan hamba favorit-Mu. Aku tahu aku sering abai dalam kewajibanku beribadah kepada-Mu. Tapi aku mohon, Tuhan. Jangan buat istriku bersedih dan terluka hatinya. Aku tidak sanggup melihatnya terluka. Tolong, Tuhan, lindungilah dia. Lindungilah anak kami," lanjutnya sambil menangis.

Malam itu kami berdoa bersama, lebih kuat dari biasanya, dan tidur sembari bergandengan tangan.

 

Blitar, 22 Juni 2021


 

Friday, 20 August 2021

Pregnancy Diaries : Memilih Dokter


Aku bersyukur hidup di era di mana kita sudah memiliki banyak pilihan. Termasuk memilih dokter kandungan. Aku merasa bahwa aku harus memilih dokter kandungan yang membuatku nyaman, bukan serta merta karena dia terkenal dan pasiennya banyak. Reputasi itu penting, karena juga bisa menjadi tolok ukur kepiawaiannya sebagai dokter kandungan. Tapi aku merasa aku nyaman kalau dokter kandunganku adalah perempuan. Tolong jangan berpikir aku feminis. Tapi memang murni aku merasa nyaman jika dokternya perempuan. Ayolah, selama sembilan bulan ke depan dia tentu akan melihat kelaminku kan? Dokternya mungkin nggak ada masalah, aku sebagai pasien kalau kurang nyaman ya bagaimana.


Aku mencari info tentang dokter kandungan perempuan di kotaku. Aku kagum juga sudah mulai cukup banyak dokter kandungan perempuan di sini, setelah sebelumnya lebih banyak laki-laki. Jaman ibuku dulu malah cuma dua dokter kandungan di sini dan semua laki-laki.

Hari di mana aku melakukan tes kehamilan mandiri waktu itu Sabtu, tanggal 19 Juni, yang mana tidak ada jadwal dokter kandungan perempuan. Ya sudah aku menunggu hari Senin tentunya. Tapi hari Minggu ternyata keluar flek, dan aku agak khawatir dengan itu. Sedangkan Senin pagi aku masih ke kantor, jadi Senin sore aku coba ke dokter kandungan terdekat dari rumahku, siapa saja deh yang penting aku bisa segera tahu kondisiku. Aku sengaja tidak ijin kantor untuk periksa kehamilan, sejujurnya aku belum ingin memberi kabar ini ke lebih banyak orang sampai kira-kira tiga bulan. Itu sebabnya agak susah bagiku menemukan dokter kandungan perempuan yang buka praktek sore hari.

Akhirnya aku diperiksa dengan USG. Dokter yang ini vibes-nya cukup bagus. Menyapa dengan riang dan bertanya apa keluhanku. Kuceritakan aku mengalami flek dan baru dua hari lalu aku tes kehamilan mandiri. Dari USG pada saat itu usia kandunganku terdeteksi lima minggu. Dokter pertama ini (di sini aku sebut dokter pertama, karena sampai nanti aku cerita, aku sudah ganti dokter sampai ketiga kalinya) berkata bahwa ada dua kemungkinan : janin belum berkembang atau tidak berkembang. Tentunya ia berharap janin belum berkembang, sehingga dua minggu lagi sudah bisa terdeteksi detak jantungnya. Dokter memberiku obat penguat kandungan. Dan aku pulang dengan perasaan campur aduk tak keruan. Aku tak bisa menahan tangisku saat itu. Suamiku mencoba menguatkanku. Aku tahu ia sendiri juga ada ketakutan, tapi mungkin karena melihatku menangis, ia berusaha tegar. Ia berkata, jika memang rejeki kami, tentu bayi ini akan terus bersama kami. Tapi jika belum rejeki, maka kami harus ikhlas. Tentu aku ingin mendengar bahwa kehamilanku baik-baik saja. Tapi catatan dari dokter tadi membuatku takut juga. Apalagi dokter sempat menyebutkan kuret pula. Aku sudah membayangkan berbagai macam hal. Malam itu aku langsung membeli obatnya, yang tidak sembarang apotek punya, dan meminumnya sebelum tidur.

Blitar, 21 Juni 2021

 


 

Friday, 6 August 2021

Pregnancy Diaries : I'm Pregnant???

Kalau aku ditanya, apakah aku sangat menginginkan hamil? Aku rasa aku akan agak bingung menjawabnya. Bukan karena aku tidak menginginkannya. Aku jelas menginginkannya. Tapi ada sisi diriku yang mempertanyakan kesiapan diriku sendiri untuk memiliki anak. Bukan sekedar hamil, melahirkan, memberinya makan. Tetapi menghidupinya pula. Bertanggung jawab tidak hanya pada fisiknya saja tetapi juga pada mentalnya, pendidikannya, dan segala aspek kebutuhan hidupnya sampai ia mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Dibutuhkan waktu, finansial, dan mental yang siap untuk itu semua. Menjaganya untuk tumbuh dan berkembang dengan sehat secara fisik dan mental. Menjaga diriku sendiri untuk menjadi orang tua yang ia butuhkan. Bukan yang aku kira ia butuhkan.


Yang menjadi konsentrasiku adalah kesehatan mentalku sendiri. Aku sedang berada pada fase menyembuhkan luka diri, berdamai dengan trauma masa kecil dan berteman dengan anak kecil dalam diriku sendiri (inner child). Dan aku tidak bilang aku sudah sembuh total. Aku pernah menjalani proses konseling, tapi terpaksa berhenti karena pandemi. Aku tentunya tidak ingin anakku nanti menjalani hidup penuh tekanan untuk menjadi sempurna seperti yang aku alami. Tapi aku sendiri juga tidak bisa serta merta mengesampingkan gambaran ideal anak yang sukses menurut versiku berdasarkan apa yang ditanamkan dalam pemahamanku selama ini.

Aku menikah pada akhir Januari, aku dan suami tidak ingin menunda punya bayi juga. Ia berharap aku segera hamil, malah. Katanya karena usiaku sudah masuk kepala tiga, ia mengkhawatirkan kemampuan fisik dan kondisi kesehatanku apabila aku belum kunjung hamil. Suamiku sendiri usianya jauh lebih muda dariku. Tapi dia juga tidak menekan, dan kami sempat sepakat memberi diri kami waktu setahun untuk mencoba sambil perlahan menyesuaikan diri satu sama lain. Kalau setelah setahun aku belum kunjung hamil, bisa lah kami membuat jadwal kunjungan untuk program hamil.

Sampai kemudian, pada bulan Juni aku merasa ada perubahan di tubuhku. Suatu siang di hari Jumat, aku baru menghabiskan makan siangku dan tiba-tiba merasa perutku sesak. Sampai aku harus membetulkan postur tubuhku untuk membuatku agak nyaman. Ini agak di luar kebiasaan. Lalu aku teringat, itu sudah tanggal delapan belas. Sedangkan bulan lalu aku mulai menstruasi tanggal tiga belas. Mundurnya lumayan juga. Pulang kantor diam-diam aku membeli alat tes kehamilan dan melakukan tes pada urineku di pagi hari berikutnya. Dan aku bisa bilang aku sudah memprediksinya. Garisnya dua.

Aku menunjukkannya ke suamiku. Wajahnya campuran antara senang tapi menahan diri untuk tidak terlalu menggebu. Dan pada saat itu dia baru merasakan beberapa kekhawatiranku tentang kesiapan diri dalam menjadi orang tua. Tapi ia tetap begitu senang sampai langsung menelepon orang tuanya memberitahukan kabar itu. Aku sendiri malah tidak segera mengumumkannya ke orang tuaku. Aku ingin memastikannya dulu ke dokter kandungan, baru mengumumkannya.

Tapi ternyata aku sendiri tidak bisa menahan diriku untuk tidak mengabarkannya. Hanya saja aku selektif. Bukan orangtuaku yang pertama kuberi tahu. Tapi Om-ku, yang sudah seperti ayahku sendiri. Beliau nampak senang, tapi juga menahan diri untuk tidak menangis terharu. Dasar laki-laki. 

 

Blitar, 19  Juni 2021

Aku melihat garis dua.




Sunday, 1 August 2021

Pregnancy Diaries : Prologue

Ada sekitar empat tahun sejak aku menulis karyaku yang paling baru. Waktu itu aku terinspirasi dengan puisi pendek dan prosa yang sedang menjadi tren di dunia sastra, karya pendek penuh makna yang tidak memerlukan linimasa dan skenario tertentu. Sejak itu, aku kehilangan hasrat menulisku. Bahkan untuk mempublikasikan tulisanku itu pun aku enggan. Hanya sekedar minta tolong teman di percetakan untuk menjilidnya serupa buku, menerbitkannya pada penerbit independen, dan baru memberikan tautan belanjanya jika ada yang bertanya. Mungkin ketidakpercaya dirianku yang rendah terhadap karyaku sendiri membuatku dan karyaku tidak ke mana-mana. Dan aku tidak menyarankan itu untuk siapa pun di dunia ini.



Bahkan ketika aku menjalani hubungan percintaan penuh drama yang nyaris sama dengan sinetron pun tidak mendorongku untuk menulisnya menjadi sebuah karya. Jangankan menuangkannya dalam sebuah tulisan, aku kehilangan minat akan semua hal yang menyenangkanku. Fotografi, menulis, membaca, bahkan menyanyi asal-asalan pun aku enggan. Salah satu ciri depresi? Mungkin. Aku kemudian memaksa diriku untuk kembali membaca, satu hal yang biasanya tidak bisa digugat sejak aku kecil. Dan aku menyadari buku-buku yang menarik perhatianku kala itu adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kesehatan mental dan hubungan dengan dirimu sendiri.


Writer's block? Banyak yang menggunakan istilah itu, tapi ada satu penulis Indonesia favoritku yang cukup akrab denganku, Primadonna Angela, pernah berkata, buat dia tidak ada istilah writer's block karena ia terus mendorong dirinya sendiri untuk menulis setiap hari, sehingga menjadi sebuah kebiasaan yang jika tidak ia lakukan maka ia akan merasa ada yang kurang lengkap dalam kesehariannya. Ia juga melatih dirinya sendiri untuk membuat sesuatu hal yang biasa yang ia temui, lihat, rasa, raba, dengar setiap harinya menjadi sesuatu yang dapat ia kembangkan menjadi sebuah tulisan. Ia terus melatih dirinya sendiri dan membiarkan dirinya berkembang. Maka writer's block itu tidak ada.


Lalu saat ini, aku mulai menulis, dan aku bertanya kepada diriku sendiri apakah yang membuatku sangat terdorong untuk menulis lagi? Meletakkan ponselku bahkan buku yang kucoba untuk kubaca ulang dan menyalakan laptopku dan mulai menulis?

Aku sedang mengalami dan menjalani sebuah momen hidup yang banyak dinanti dan dinikmati banyak wanita. Dan aku ingin mengabadikan pengalaman pertamaku ini dalam sebuah tulisan. Sampai nanti ia lahir, bahkan mungkin aku akan terus menulis tentang perkembangannya menjadi sebuah karya tulisku lagi.

Yes, I'm pregnant!


 

 


 

Tuesday, 16 April 2019

Jika Tidak Ingin Hitam, Pun Tidak Memilih Putih

Suatu ketika, seorang sahabat mengirim pesan via aplikasi Whatsapp, merangkum cerita wayang yang pernah kami diskusikan bersama. Yang kami jadikan salah satu referensi tentang perspektif kehidupan, cermin dari peristiwa yang ada di dunia. Dongeng lama tentang kebaikan dan keburukan. Atau, yang ingin dipercaya sebagaimana demikian. Izinkan saya mengutip rangkuman sahabat saya dalam postingan di sini.
 
Tadi pagi dapat cerita lucu dari seorang teman tentang Pandawa dan Kurawa yang sama-sama berjuang untuk sebuah kemenangan. Kita tentu sudah tahu sifat Kurawa seperti apa dan sebaliknya sifat Pandawa juga seperti apa. Dalam cerita, selalu disebutkan bahwa Pandawa memiliki sifat yang baik dan tak pernah jahat, sebaliknya Kurawa identik dengan sifat iri dengki dan penuh tipu muslihat.
Tapi perlu diingat dan diperhatikan, bahwa Pandawa memperoleh kemenangan di Baratayudha juga dengan beberapa kecurangan yang dilakukan dengan sengaja dan melanggar aturan dalam suatu peperangan.

Jika yang anda inginkan saat ini adalah sebuah kemenangan, maka silahkan pilih tokoh yang sesuai dari yang anda inginkan baik dari sifat-sifat Kurawa maupun Pandawa.

Tapi saya sendiri tidak ingin memilih kemenangan tersebut karena kemenangan yang diperoleh Pandawa didapat dengan suatu pengorbanan. Seperti contoh, tokoh yang terkenal paling jujur Yudistira pernah menyampaikan berita hoax yang menyebabkan gurunya terbunuh. Tokoh satria yang gagah dan diidolakan wanita yaitu Arjuna, dia hanya bisa mengalahkan lawan tandingnya dengan senjata panah yang sakti pada saat lawannya sedang tidak mengangkat senjata untuk berperang. Tokoh yang gagah berani dan perkasa Bima, dia hanya bisa mengalahkan lawan tandingnya dengan memukulkan gada saktinya ke arah (bagian terlarang) dari tubuh lawannya. Dan juga terkaparnya sang penjaga Hastina Pura Bisma tentu dengan kecurangan yang dilakukan pihak Pandawa.

Kesimpulannya yaitu saya akan menjaga diri saya dan tetap percaya akan adanya karma, karena diceritakan kembali oleh teman saya bahwa tidak satupun anak-anak dari Pandawa yang tidak terbunuh oleh Kurawa karena mungkin itu karma dari para orang tuanya.
 
Ini hanya bagian cerita dari suatu karya seni dalam kitab Mahabarata.
 
Semoga ada manfaatnya bagi kita 🙏🏼🙏🏼🙏🏼

Dongeng tentang Pandawa dan Kurawa sudah sejak dulu diceritakan dengan berbagai pengemasan. Dari apa yang disampaikan oleh sahabat saya, jika dihadapkan pada suatu peristiwa di mana harus memilih menjadi baik atau buruk untuk memenangkan suatu hal dalam arena, diam bisa menjadi pilihan. Tidak menjadi baik, pun tidak memilih untuk buruk. Tidak selamanya baik adalah yang terbaik, tidak selamanya buruk itu buruk. Tidak selalu harus menjadi hitam, tidak mesti harus selalu putih. Bukan berarti pula abu-abu. Ada masa di mana kamu tak harus memihak. Ada masa di mana kamu tak perlu memilih. Tapi menjadi dirimu sendiri. Bagi kebanyakan orang, mungkin diam bukanlah satu-satunya solusi, diam mungkin tidak akan membuat masalah benar-benar selesai, tetapi setidaknya, diam yang kita lakukan tidak akan semakin menyakiti yang lainnya. Karena kita bukan mereka.

Tulisan ini mungkin akan menimbulkan sebuah pertanyaan, memunculkan kesimpulan, atau bahkan membentuk sebuah keyakinan. Silakan saja, itu hak Anda. Tak perlu ada klarifikasi apapun. Karena terkadang, bahkan mungkin sering, manusia hanya ingin mendengar apa yang ingin dia dengar. Tanpa peduli fakta yang sebenarnya dari sebuah peristiwa.



Blitar, 16 April 2019
Satu badai telah usai. Tunas baru telah disemai.

 

Sunday, 15 October 2017

Salah Satu Alasan Aku Mencintai Kopi, Aku Bertemu Banyak Orang Baik Melalui Kopi

Aku pernah membaca sebuah buku kompilasi cerita tentang kopi. Dari sekian banyak cerita yang kubaca dalam buku itu, satu kutipan yang langsung tertanam di otakku : Kopi yang enak memanggil orang-orang baik. 
Dan aku langsung teringat akan orang-orang di sekitarku, yang setiap hari meminum kopi untuk mengawali hari.

Aku teringat akan Papa. Pekerjaannya dulu sebagai arsitek, ditambah sifatnya yang workaholic, mendorongnya untuk bekerja larut malam. Tak jarang hingga fajar datang. Dan untuk membantunya tetap terjaga, ia butuh kopi dalam hidupnya.
Aku penasaran bagaimana kopi hitam bisa dipadukan hingga tercipta berbagai rasa. Sampai aku kemudian mulai membaca beberapa jenis kopi. Tapi aku tak pernah benar-benar mendalaminya. Aku membiarkan diriku hanya sebagai penikmat. Beberapa pecinta kopi fanatik bahkan bisa menentukan apakah kopi tersebut dipanggang (atau digoreng) dengan tepat atau terlalu lama. Apakah kopi tersebut diseduh dengan suhu air sekian, dan lain-lain. Aku biarkan saja posisiku berada di tengah-tengah. Tidak terlalu buta, tapi tidak ahli.

Kembali ke kutipan tadi. Sepertinya memang benar jika kopi bisa memanggil orang-orang baik. Aku langsung teringat pada seseorang yang meminum kopi sebanyak dokter menyarankan kita jumlah air yang harus kita minum setiap harinya. Awalnya aku begitu takjub dengan betapa seringnya ia minum kopi dalam sehari. Dan kopinya pun hanya kopi hitam. Tanpa campuran apapun selain gula.

Baru kali ini aku melihat orang yang begitu mencintai dan tergantung pada kopi. Yang menularkan keinginanku untuk meminum kopi seketika itu juga. Mengajakku untuk melupakan sejenak permasalahan yang dihadapi. Menghentikan waktu dan tenggelam dalam aroma pekat kopi. Mengabaikan decak tak setuju dari mereka yg hanya pernah meminum kopi, dan bukan penikmat kopi. Berawal dari ajakanku yang tak sengaja untuk ngopi di jam istirahat. Setelah beberapa tegukan, diskusi mengalir begitu saja. Berbagai topik, berbagai pemikiran, berbagai pendapat. Hal ini terjadi beberapa kali. Dalam kurun waktu yang kami miliki untuk kami habiskan bersama. Di situ aku menyadari satu hal, kopi bisa membuka obrolan. Hingga yang paling dalam sekali pun.

Pikiranku kemudian teringat akan beberapa teman dalam hidupku. Kalau dipikir-pikir memang, rata-rata mereka adalah peminum kopi. Meski awalnya kami dipertemukan karena hal yang berbeda, ujung-ujungnya kopi juga termasuk di dalamnya. Senior di kantor pusat, gadis Arab yang berteman denganku karena buku dan tulisan, teman kerja sekaligus sahabat di kantor yang mejanya persis ada di depan mejaku, dan masih banyak lagi. Dari kopi, aku mengenal banyak orang baik.

Kopi rasanya sudah menjadi salah satu hal penting dalam hidupku. Bahkan ketika aku tak menemukan teman yang bisa kuajak untuk menemaniku minum kopi, aku memilih ke kedai kopi sendirian. Menikmati kopi sambil mengamati sekitar. Ketika salah satu temanku masuk ruanganku dan tiba-tiba meneteskan air mata tanpa berkata sepatah kata pun, aku langsung mengajaknya ke kedai kopi. Menenangkan dirinya dengan aroma kopi, melemaskan bahu dan mengembalikan sedikit senyum di wajahnya dengan segelas es cappucinno favoritnya.

Aku juga mengamati bagaimana teman-temanku menikmati kopi mereka. Ada yang setelah menyeduhnya di kantor, ia sisakan setengah cangkir untuk diminum keesokan harinya. Meski tak lagi panas, tapi menurutnya rasanya jadi lebih pekat. Ada yang ketika kopi tersebut masih panas, ia hirup dulu aromanya sebelum ia hirup cairannya melewati bibirnya. Kalau kopinya disajikan di cangkir atau gelas dengan pegangan, ia akan menghirup kopinya tepat dari ujung bagian pegangan cangkir tersebut. Kalau dari gelas tanpa pegangan, ia akan menghirupnya dari ujung yang mana saja. Dengan kelingking teracung. Lalu setelah meneguknya, ia akan mendecakkan lidah dan bibirnya. Mencecap setiap tetes yang lewat di bibirnya.

Rasanya baru kali ini aku benar-benar menyadari, kopi tak hanya sekedar minuman. Ia menjadi bagian dari banyak kejadian penting dan bermakna. Ia menyatukan banyak orang. Ia menjadi sebuah pembuka dari kata-kata yang tadinya sulit terucap, inspirasi yang hadir terlambat, serta pengurai penat. Ia juga bisa menjadi pembangkit kenangan. Bahkan bagiku, meski kenangan yang hadir tak selalu menyunggingkan senyuman, aroma kopi menyembuhkan pemikiran akan kenangan tersebut menjadi sebuah pemahaman dan penerimaan. Seperti kutipan lain dalam buku yang sama, Selama perjalanan yang ditempuh oleh secangkir kopi, hati menjadi terbuka. Dan kadang luka hati pun disembuhkan.


Sudah kopi ke berapa hari ini?

Blitar, 15 Oktober 2017
Merindukanmu sebagai partner ngopi dan diskusi

AnindRustiyan


sebuah tulisan setelah membaca buku Chicken Soup for Coffee Lover's Soul, dan setelah cangkir ketiga hari ini.


Thursday, 31 August 2017

Upacara 17 Agustus di Tahun 17. Memaknai Kemerdekaan RI dengan Satu Tujuan

Seberapa sering kita ingat akan pahlawan bangsa? Mungkin setahun sekali, pada tanggal 17 Agustus saat Peringatan Kemerdekaan RI atau sewaktu Hari Pahlawan tanggal 10 November. Di zaman yang serba sibuk ini, mengingat mereka pada hari-hari tertentu sudah cukup bagus. Dalam mengingat itu, pernahkah kita mencoba memaknai perjuangan tersebut? Mengapa para pendahulu kita berjuang begitu kerasnya agar Indonesia menjadi negara yang merdeka? Lalu, ketika kita sebagai generasi penerus yang hidup di negara yang telah dinyatakan merdeka dari penjajahan negara asing, apa yang kemudian harus kita lakukan? Sudahkah kita berterima kasih atas kemerdekaan negara yang telah diraih?

Seperti tahun 2016 kemarin, saya berkesempatan untuk mengikuti kembali di tahun 2017 ini Upacara Peringatan Kemerdekaan RI di Tugu Proklamasi, Jakarta.  Nyaris sama, rangkaian Peringatan tersebut diawali dengan kegiatan Napak Tilas lalu Upacara 17 Agustus.

Napak Tilas dimulai dari Gedung Joang 45 yang terletak di Jalan Menteng 31. Acara dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta, Bp. Drs. Djarot Saiful Hidayat bersama Bp. Try Sutrisno, Wakil Presiden RI ke-6. Gedung Joang '45 ini dulunya merupakan Hotel Schomper I yang didirikan oleh seorang pengusaha Belanda, LC. Schomper pada tahun 1938. Kemudian setelah Jepang menaklukkan Belanda pada tahun 1942, Gedung tersebut beralih fungsi menjadi tempat penggemblengan bagi para pemuda dan sekarang menjadi salah satu museum sejarah Indonesia.

Rombongan Napak Tilas mulai berjalan dari Gedung Joang 45 menuju Museum Naskah Proklamasi. Sepanjang perjalanan, rombongan yang dipimpin oleh paskibraka dan drum band serta diikuti oleh berbagai kelompok seperti mahasiswa, pelajar, veteran dan tentunya dari PKB-PPK, masing-masing menyerukan semangat perjuangan. Menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, yel-yel perjuangan, tak henti-henti untuk menyemarakkan acara Napak Tilas Proklamasi.

Tiba di Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Rombongan telah dinanti oleh Panitia Napak Tilas. Sambil rombongan beristirahat, saya menyempatkan diri sejenak untuk masuk dan melihat-lihat bangunan bekas kediaman Laksamana Tadashi Maeda, yang dulu dengan rela hati mempersilakan Ir. Soekarno, Drs. Mochammad Hatta, Achmad Soebardjo dan Sayuti Melik untuk merumuskan dan mengetik Naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 16-17 Agustus 1945. Ruangan tersebut ditata semirip mungkin dengan tatanan dahulu, memberikan gambaran peristiwa bersejarah pada kala itu. Ruang tamu sekaligus kantor Laksamana Maeda, ruangan yang digunakan untuk merumuskan teks Proklamasi lengkap dengan diorama ukuran asli Ir. Soekarno, Drs. Moch. Hatta dan Achmad Soebardjo, ruangan untuk mengetik naskah Proklamasi, dan piano yang menjadi pengganti meja bagi Ir. Soekarno dan Drs. Moch.Hatta untuk menandatangani teks Proklamasi yang telah diketik. Pengunjung museum bisa membayangkan bagaimana situasi pada saat perumusan teks Proklamasi.

Akhirnya rombongan kembali melanjutkan Napak Tilas menuju Tugu Proklamasi. Lelah seperti tidak terlihat dan terasa oleh peserta Napak Tilas. Anak-anak pelajar yang turut serta masih terus bersemangat. Bernyanyi dan menyerukan yel-yel ciptaan mereka. Peluh yang meluruh seperti tak ada artinya. Sampai tiba di tujuan akhir Napak Tilas, Tugu Proklamasi. Masing-masing kelompok duduk bersama, senyum puas dan lepas. Rombongan disambut oleh Bp. Djarot Saiful Hidayat, Bp. Try Sutrisno, dan Ibu Meutia Hatta yang tahun lalu juga hadir dalam Napak Tilas di Tugu Proklamasi.

Malamnya merupakan Malam Renungan. Para tamu undangan diharapkan mengenakan pakaian adat Betawi, baju kurung dan kain, baju koko dan sarung yang dikalungkan. Salah satu upaya kami untuk melestarikan salah satu budaya Indonesia. Dalam Malam Renungan ini juga diadakan pelantikan bagi Paskibra yang akan bertugas besok dalam Upacara 17 Agustus.

Dan esoknya, Upacara Peringatan Kemerdekaan RI di Tugu Proklamasi dimulailah. Seperti yang sudah-sudah, Upacara 17 di Tugu Proklamasi berlangsung khidmat. Dan masih seperti dahulu, tangis haru para peserta upacara, kami para generasi penerus para pejuang, masih tetap menetes, mana kala lagu Indonesia Raya dan Mengheningkan Cipta mengalun. Ada rasa rindu. Rindu akan mereka para pendahulu yang telah berpulang. Terkadang saya merasa, ketika kami semua menundukkan kepala untuk mengheningkan cipta, mengucap doa di hati masing-masing, para pendahulu kami pun berkumpul dan tersenyum, menerima setiap doa yang dipanjatkan. Menyaksikan kami dari surga.

Selesai upacara, setiap rumpun berfoto bersama. Tak terkecuali TGP. Tentunya berfoto bersama Panji TGP merupakan suatu kebanggaan. Ketika sedang berfoto, ada sebuah keramaian yang tak biasa di ujung halaman Tugu Proklamasi yang lain. Hampir lupa bahwa selesai Upacara, kami para peserta dihibur oleh musik RAN. Band yang terdiri dari tiga laki-laki, Rayi, Asta dan Nino menyanyikan beberapa lagu hits mereka. Bangga dong, kita upacara di Tugu Proklamasi dihibur RAN. Lebih bangga lagi karena salah satu personilnya, Asta, merupakan putra dari salah satu anggota TGP Jabodetabek, Om Tommy Tamtomo.

Agenda TGP kemudian berlanjut dengan Sarasehan di Puncak, Bogor. Seluruh anggota TGP yang hadir dalam rangkaian acara Upacara 17 di Tugu Proklamasi kemudian bersama-sama menuju Wisma Arga Mulia di Puncak dalam satu bis. Sempat mampir di Cimory sebentar, dan setelah beberapa menit akhirnya sampai juga di tempat tujuan, Wisma Arga Mulia, yang merupakan salah satu tempat pelatihan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Setelah beristirahat sejenak, akhirnya semua anggota TGP yang hadir di Wisma Arga Mulia berkumpul di Meeting Room untuk Sarasehan.

Sarasehan dengan tema "Kembali Ke Jati Diri IKB Ex TGP Be 17 sesuai Nilai-Nilai Kejoangan 1945 di Era Generasi Penerusnya", sarasehan pun dimulai. Dipandu Tante Susi Ariyadi sebagai MC, Sarasehan dibuka dengan sambutan dari Om Tommy Tamtomo sebagai Ketua IKB Jabodetabek dan Om Agus Suseto sebagai Ketua I dari Pengurus TGP Pusat. Lalu disambung dengan Penyerahan Bantuan berupa gergaji besi dan mesin pemotong rumput dari TGP Jabodetabek yang diwakili oleh Tante Vonny Pawaka untuk pembenahan Stadion Godean Jogjakarta, yang diterima oleh Om Danang perwakilan TGP Jogjakarta.

Sarasehan kemudian dipandu oleh dr. Gatot Yudono Kusumo sebagai moderator, serta dipimpin oleh Om Agus Suseto dan Om Nurhadi (TGP Surabaya). Masing-masing sebagai Ketua dari perwakilan Pengurus TGP Pusat. Sedangkan saya sebagai Generasi Ketiga (biasa disingkat G3) didaulat untuk menjadi notulen dalam Sarasehan ini. Sarasehan dimulai pukul delapan malam dan berakhir pukul dua belas malam. Sepanjang sarasehan, saya perhatikan hanya beberapa anggota yang mulai mengantuk. Selebihnya masih luar biasa semangat! Ini buat saya sungguh mengagumkan. Bagaimana tidak? Sarasehan ini waktunya melebihi saya rapat di kantor. Saking semangatnya sampai seakan lupa waktu sudah tengah malam. Semangat ingin memajukan organisasi TGP ke depannya.

Apa yang kami diskusikan bersama dalam sarasehan adalah dengar pendapat dari perwakilan TGP daerah kepada Pengurus TGP Pusat. Inti yang dapat disimpulkan dari Sarasehan adalah tentang program kerja TGP yang harus dievaluasi, dibenahi dan ditetapkan sebagai acuan kegiatan TGP baik di Pusat maupun Daerah. Para anggota ingin adanya kegiatan rutin TGP selain Rangkaian Upacara 17 dan Peringatan Hari Pahlawan 10 November. Selain itu, para G2 (Generasi Kedua) merasa sudah waktunya ada regenerasi ke G3. Sudah seharusnya G3 mulai ikut berpartisipasi aktif dalam organisasi. Bukan semata sebagai perwakilan garis keturunan, tetapi juga sebagai generasi penerus yang melestarikan nilai-nilai TGP. Dalam Sarasehan ini juga dibahas tentang rencana bantuan bagi SMPN 2 Saradan, Madiun, yang merupakan salah satu sekolah TGP di Jawa Timur. SMPN 2 Sumberpucung Malang juga sharing tentang bagaimana mereka melestarikan nilai-nilai TGP dan mengimplementasikannya dalam kegiatan belajar mengajar. Mengingat SMPN 2 Sumberpucung juga merupakan salah satu cagar budaya TGP dan dijuluki Sekolah TGP saat ini.

Dari hasil Sarasehan TGP ini saya kemudian teringat akan pikiran saya beberapa tahun silam, lebih tepatnya keluhan. TGP, menurut saya, saat ini jarang sekali dikenal orang sebagai salah satu pasukan pejuang kemerdekaan RI. Saya sering harus menjelaskan secara singkat apa itu TGP ketika ada orang bertanya. TGP minim sekali literatur. Sehingga akses untuk orang yang ingin mengenal TGP menjadi kurang terfasilitasi. Tentang sejarah TGP, profil TGP, dan perbandingan TGP dengan pasukan pejuang lainnya. Saya akui, dengan kesibukan masing-masing, agak susah bagi kami menyempatkan waktu sejenak untuk mengumpulkan referensi, lalu merangkumnya dalam bahasa terkini agar mudah dibaca dan dipahami generasi muda jaman sekarang. Padahal tentunya kami ingin TGP juga dikenang dan dikenal. Jujur saja deh, jangankan sampai meluas ke orang lain, G3 dalam lingkup TGP sendiri, apakah ada yang benar-benar mengenal TGP? Bagaimana kita akan melestarikan TGP jika kita sendiri tidak mengenal TGP? Saya sendiri saja sangat minim pengetahuan tentang TGP. Hanya garis besarnya saja. Ini merupakan penyesalan terdalam saya karena tidak memanfaatkan kesempatan di masa lampau untuk menggali informasi dari Eyang Uti saya sendiri, Ibu Moestamien Soedibyo, anggota TGP Blitar sebagai pelaku sejarah. Tentunya informasi dari beliau para Generasi Pendahulu  TGP merupakan sumber informasi paling valid. Tapi saya ucapkan terima kasih kepada SMPN 2 Sumberpucung Malang yang telah mulai mengumpulkan informasi tentang sejarah TGP dari berbagai sumber, salah satunya dari Eyang Darmadi (Pak Dengkek), anggota TGP Malang yang Alhamdulillah masih sehat wal'afiat.

Masalah literatur TGP ini dapat direalisasikan meskipun secara perlahan (mengingat waktu dan tenaga yang sangat minim). Tetapi tentunya akan lebih baik apabila semua G3 dapat terlibat dalam kegiatan TGP. Minimal dalam kegiatan rutin tahunan seperti Napak Tilas dan Upacara 17, serta Peringatan Hari Pahlawan 10 November secara kontinyu. Kenapa? Minimal untuk menimbulkan Sense of Belonging, rasa kepemilikan. Ini penting, karena ketika seseorang mempunyai rasa kepemilikan (Rumangsa Handarbeni) dalam sebuah organisasi, maka timbul rasa tanggung jawab untuk menjaga, melindungi, mempertahankan, dan mengembangkan apa yang menjadi miliknya tersebut. Sayang banget ketika saya melihat G2 begitu guyub rukun, rasa persaudaraannya tinggi, perasaan yang diwariskan dari Generasi Pendahulu TGP, tidak terlihat di G3. Saya rasa, kalau sering ikut kegiatan TGP, saling mengenal, muncul sense of belonging, G3 akan menciptakan gebrakan baru di TGP. Melestarikan nilai-nilai TGP yaitu disiplin, jujur, kasih sayang, dan guyub rukun dengan cara anak muda.

Karena ditilik dari tema Sarasehan, "Kembali ke Jati Diri IKB Ex. TGP Be 17 Sesuai Nilai-Nilai Kejoangan 1945 di Era Generasi Penerusnya" ada satu keinginan utama untuk terus melestarikan TGP. Baik profilnya, figurnya maupun nilai-nilai yang terkandung dalam TGP. Karena perjuangan para Generasi Pendahulu TGP hendaknya tidak hanya diperingati secara simbolis setiap tahunnya. Tetapi juga dijaga agar sumbangsih mereka tidak sia-sia. Bahwa kami para generasi penerus sekarang dapat meneruskan langkah dengan kondisi negara merdeka adalah berkat perjuangan para Generasi Pendahulu. Dalam rangkaian Upacara Tujuh Belas Agustus tahun Dua Ribu Tujuh Belas ini, saya menyimpulkan satu hal. Kita semua sebagai Generasi Penerus TGP sebenarnya memiliki SATU TUJUAN. Melestarikan Tentara Genie Peladjar di masa depan.


Blitar, 31 Agustus 2017
Sebuah tulisan di penghujung Agustus,

Anindhita Rustiyan Kusumaningtyas
G3 TGP Blitar


Sambutan dari Gubernur DKI Jakarta, Drs. Djarot Saiful Hidayat

Rombongan PKB-PPK yang siap ikut Napak Tilas

Bp. Drs. Djarot Saiful Hidayat dan Bp. Try Sutrisno membuka Napak Tilas



Melanjutkan Napak Tilas dari Museum Naskah Proklamasi menuju Tugu Proklamasi

Rombongan PKB-PPK tiba di gerbang Tugu Proklamasi

17 Agustus 2017. Berfoto bersama Eyang Mukartini, istri dari Alm. Eyang Dewo Kusumo, TGP Jakarta

Suasana Upacara 17 Agustus di Tugu Proklamasi

Berfoto bersama dengan Panji TGP
 


RAN!

Foto bareng sebelum Sarasehan

Sambutan dari Om Agus Suseto

Penyerahan bantuan bagi pembenahan Stadion Godean, dari TGP Jabodetabek yg diwakili oleh Tante Vonny Pawaka kepada Om Danang dari TGP Jogjakarta

Suasana Sarasehan



18 Agustus 2017, mengunjungi Warso Farm, kebun durian dan buah naga milik keluarga Soewarso Pawaka, sebelum kembali ke Jakarta

Menyempatkan diri ziarah ke makam Eyang Soewarso Pawaka, salah satu anggota /Generasi Pendahulu TGP

Until we meet again next year! We are TGP, we are Unity!