Sunday, 15 October 2017

Salah Satu Alasan Aku Mencintai Kopi, Aku Bertemu Banyak Orang Baik Melalui Kopi

Aku pernah membaca sebuah buku kompilasi cerita tentang kopi. Dari sekian banyak cerita yang kubaca dalam buku itu, satu kutipan yang langsung tertanam di otakku : Kopi yang enak memanggil orang-orang baik. 
Dan aku langsung teringat akan orang-orang di sekitarku, yang setiap hari meminum kopi untuk mengawali hari.

Aku teringat akan Papa. Pekerjaannya dulu sebagai arsitek, ditambah sifatnya yang workaholic, mendorongnya untuk bekerja larut malam. Tak jarang hingga fajar datang. Dan untuk membantunya tetap terjaga, ia butuh kopi dalam hidupnya.
Aku sendiri lupa, kapan pertama kali aku mulai minum kopi. Yang kuingat hanyalah aku mulai kecanduan kopi sejak kuliah. Itu pun kopi instan dengan berbagai macam rasa. Kalau aku ke kedai kopi, aku selalu mencoba berbagai varian rasa. Vanilla, Caramel, Hazelnut Latte. Aku penasaran bagaimana kopi hitam bisa dipadukan hingga tercipta berbagai rasa. Sampai aku kemudian mulai membaca beberapa jenis kopi. Tapi aku tak pernah benar-benar mendalaminya. Aku membiarkan diriku hanya sebagai penikmat. Beberapa pecinta kopi fanatik bahkan bisa menentukan apakah kopi tersebut dipanggang (atau digoreng) dengan tepat atau terlalu lama. Apakah kopi tersebut diseduh dengan suhu air sekian, dan lain-lain. Aku biarkan saja posisiku berada di tengah-tengah. Tidak terlalu buta, tapi tidak ahli.

Kembali ke kutipan tadi. Sepertinya memang benar jika kopi bisa memanggil orang-orang baik. Aku langsung teringat pada seseorang yang meminum kopi sebanyak dokter menyarankan kita jumlah air yang harus kita minum setiap harinya. Awalnya aku begitu takjub dengan betapa seringnya ia minum kopi dalam sehari. Dan kopinya pun hanya kopi hitam. Tanpa campuran apapun selain gula. Selama ini, sudah cukup aku ditegur orang-orang di sekitarku tentang betapa banyak kopi yang kuminum. Ternyata aku menemukan ada yang lebih daripada aku. 

Baru kali ini aku melihat orang yang begitu mencintai dan tergantung pada kopi. Selain Papaku. Yang menularkan keinginanku untuk meminum kopi seketika itu juga. Mengajakku untuk melupakan sejenak permasalahan yang dihadapi. Menghentikan waktu dan tenggelam dalam aroma pekat kopi. Mengabaikan decak tak setuju dari mereka yg hanya pernah meminum kopi, dan bukan penikmat kopi. Berawal dari ajakanku yang tak sengaja untuk ngopi di jam istirahat. Setelah beberapa tegukan, diskusi mengalir begitu saja. Berbagai topik, berbagai pemikiran, berbagai pendapat. Hal ini terjadi beberapa kali. Dalam kurun waktu yang kami miliki untuk kami habiskan bersama. Di situ aku menyadari satu hal, kopi bisa membuka obrolan. Hingga yang paling dalam sekali pun.

Pikiranku kemudian teringat akan beberapa teman dalam hidupku. Kalau dipikir-pikir memang, rata-rata mereka adalah peminum kopi. Meski awalnya kami dipertemukan karena hal yang berbeda, ujung-ujungnya kopi juga termasuk di dalamnya. Senior di kantor pusat, gadis Arab yang berteman denganku karena buku dan tulisan, teman kerja di kantor yang mejanya persis ada di depan mejaku dan yang ada di ruang sebelah, teman-teman di Plurk, salah satu putra teman Mama yang ngobrol denganku tentang kopi saat ia masih kuliah di Prancis, dan masih banyak lagi. Dari kopi, aku mengenal banyak orang baik.

Kopi rasanya sudah menjadi salah satu hal penting dalam hidupku. Bahkan ketika aku tak menemukan teman yang bisa kuajak untuk menemaniku minum kopi, aku memilih ke kedai kopi sendirian. Menikmati kopi sambil mengamati sekitar. Ketika salah satu temanku masuk ruanganku dan tiba-tiba meneteskan air mata tanpa berkata sepatah kata pun, aku langsung meraih kunci dan menarik tangannya, melajukan mobilku ke kedai kopi. Menenangkan dirinya dengan aroma kopi, melemaskan bahu dan mengembalikan sedikit senyum di wajahnya dengan segelas es cappucinno favoritnya.

Aku juga mengamati bagaimana teman-temanku menikmati kopi mereka. Ada yang setelah menyeduhnya di kantor, ia sisakan setengah cangkir untuk diminum keesokan harinya. Meski tak lagi panas, tapi menurutnya rasanya jadi lebih pekat. Ada yang ketika kopi tersebut masih panas, ia hirup dulu aromanya sebelum ia hirup cairannya melewati bibirnya. Kalau kopinya disajikan di cangkir atau gelas dengan pegangan, ia akan menghirup kopinya tepat dari ujung bagian pegangan cangkir tersebut. Kalau dari gelas tanpa pegangan, ia akan menghirupnya dari ujung yang mana saja. Dengan kelingking teracung. Lalu setelah meneguknya, ia akan mendecakkan lidah dan bibirnya. Mencecap setiap tetes yang lewat di bibirnya.

Rasanya baru kali ini aku benar-benar menyadari, kopi tak hanya sekedar minuman. Ia menjadi bagian dari banyak kejadian penting dan bermakna. Ia menyatukan banyak orang. Ia menjadi sebuah pembuka dari kata-kata yang tadinya sulit terucap, inspirasi yang hadir terlambat, serta pengurai penat. Ia juga bisa menjadi pembangkit kenangan. Bahkan bagiku, meski kenangan yang hadir tak selalu menyunggingkan senyuman, aroma kopi menyembuhkan pemikiran akan kenangan tersebut menjadi sebuah pemahaman dan penerimaan. Seperti kutipan lain dalam buku yang sama, Selama perjalanan yang ditempuh oleh secangkir kopi, hati menjadi terbuka. Dan kadang luka hati pun disembuhkan.


Sudah kopi ke berapa hari ini?

Blitar, 15 Oktober 2017
Merindukanmu sebagai partner ngopi dan diskusi

AnindRustiyan


sebuah tulisan setelah membaca buku Chicken Soup for Coffee Lover's Soul, dan setelah cangkir ketiga hari ini.


Thursday, 31 August 2017

Upacara 17 Agustus di Tahun 17. Memaknai Kemerdekaan RI dengan Satu Tujuan

Seberapa sering kita ingat akan pahlawan bangsa? Mungkin setahun sekali, pada tanggal 17 Agustus saat Peringatan Kemerdekaan RI atau sewaktu Hari Pahlawan tanggal 10 November. Di zaman yang serba sibuk ini, mengingat mereka pada hari-hari tertentu sudah cukup bagus. Dalam mengingat itu, pernahkah kita mencoba memaknai perjuangan tersebut? Mengapa para pendahulu kita berjuang begitu kerasnya agar Indonesia menjadi negara yang merdeka? Lalu, ketika kita sebagai generasi penerus yang hidup di negara yang telah dinyatakan merdeka dari penjajahan negara asing, apa yang kemudian harus kita lakukan? Sudahkah kita berterima kasih atas kemerdekaan negara yang telah diraih?

Seperti tahun 2016 kemarin, saya berkesempatan untuk mengikuti kembali di tahun 2017 ini Upacara Peringatan Kemerdekaan RI di Tugu Proklamasi, Jakarta.  Nyaris sama, rangkaian Peringatan tersebut diawali dengan kegiatan Napak Tilas lalu Upacara 17 Agustus.

Napak Tilas dimulai dari Gedung Joang 45 yang terletak di Jalan Menteng 31. Acara dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta, Bp. Drs. Djarot Saiful Hidayat bersama Bp. Try Sutrisno, Wakil Presiden RI ke-6. Gedung Joang '45 ini dulunya merupakan Hotel Schomper I yang didirikan oleh seorang pengusaha Belanda, LC. Schomper pada tahun 1938. Kemudian setelah Jepang menaklukkan Belanda pada tahun 1942, Gedung tersebut beralih fungsi menjadi tempat penggemblengan bagi para pemuda dan sekarang menjadi salah satu museum sejarah Indonesia.

Rombongan Napak Tilas mulai berjalan dari Gedung Joang 45 menuju Museum Naskah Proklamasi. Sepanjang perjalanan, rombongan yang dipimpin oleh paskibraka dan drum band serta diikuti oleh berbagai kelompok seperti mahasiswa, pelajar, veteran dan tentunya dari PKB-PPK, masing-masing menyerukan semangat perjuangan. Menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, yel-yel perjuangan, tak henti-henti untuk menyemarakkan acara Napak Tilas Proklamasi.

Tiba di Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Rombongan telah dinanti oleh Panitia Napak Tilas. Sambil rombongan beristirahat, saya menyempatkan diri sejenak untuk masuk dan melihat-lihat bangunan bekas kediaman Laksamana Tadashi Maeda, yang dulu dengan rela hati mempersilakan Ir. Soekarno, Drs. Mochammad Hatta, Achmad Soebardjo dan Sayuti Melik untuk merumuskan dan mengetik Naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 16-17 Agustus 1945. Ruangan tersebut ditata semirip mungkin dengan tatanan dahulu, memberikan gambaran peristiwa bersejarah pada kala itu. Ruang tamu sekaligus kantor Laksamana Maeda, ruangan yang digunakan untuk merumuskan teks Proklamasi lengkap dengan diorama ukuran asli Ir. Soekarno, Drs. Moch. Hatta dan Achmad Soebardjo, ruangan untuk mengetik naskah Proklamasi, dan piano yang menjadi pengganti meja bagi Ir. Soekarno dan Drs. Moch.Hatta untuk menandatangani teks Proklamasi yang telah diketik. Pengunjung museum bisa membayangkan bagaimana situasi pada saat perumusan teks Proklamasi.

Akhirnya rombongan kembali melanjutkan Napak Tilas menuju Tugu Proklamasi. Lelah seperti tidak terlihat dan terasa oleh peserta Napak Tilas. Anak-anak pelajar yang turut serta masih terus bersemangat. Bernyanyi dan menyerukan yel-yel ciptaan mereka. Peluh yang meluruh seperti tak ada artinya. Sampai tiba di tujuan akhir Napak Tilas, Tugu Proklamasi. Masing-masing kelompok duduk bersama, senyum puas dan lepas. Rombongan disambut oleh Bp. Djarot Saiful Hidayat, Bp. Try Sutrisno, dan Ibu Meutia Hatta yang tahun lalu juga hadir dalam Napak Tilas di Tugu Proklamasi.

Malamnya merupakan Malam Renungan. Para tamu undangan diharapkan mengenakan pakaian adat Betawi, baju kurung dan kain, baju koko dan sarung yang dikalungkan. Salah satu upaya kami untuk melestarikan salah satu budaya Indonesia. Dalam Malam Renungan ini juga diadakan pelantikan bagi Paskibra yang akan bertugas besok dalam Upacara 17 Agustus.

Dan esoknya, Upacara Peringatan Kemerdekaan RI di Tugu Proklamasi dimulailah. Seperti yang sudah-sudah, Upacara 17 di Tugu Proklamasi berlangsung khidmat. Dan masih seperti dahulu, tangis haru para peserta upacara, kami para generasi penerus para pejuang, masih tetap menetes, mana kala lagu Indonesia Raya dan Mengheningkan Cipta mengalun. Ada rasa rindu. Rindu akan mereka para pendahulu yang telah berpulang. Terkadang saya merasa, ketika kami semua menundukkan kepala untuk mengheningkan cipta, mengucap doa di hati masing-masing, para pendahulu kami pun berkumpul dan tersenyum, menerima setiap doa yang dipanjatkan. Menyaksikan kami dari surga.

Selesai upacara, setiap rumpun berfoto bersama. Tak terkecuali TGP. Tentunya berfoto bersama Panji TGP merupakan suatu kebanggaan. Ketika sedang berfoto, ada sebuah keramaian yang tak biasa di ujung halaman Tugu Proklamasi yang lain. Hampir lupa bahwa selesai Upacara, kami para peserta dihibur oleh musik RAN. Band yang terdiri dari tiga laki-laki, Rayi, Asta dan Nino menyanyikan beberapa lagu hits mereka. Bangga dong, kita upacara di Tugu Proklamasi dihibur RAN. Lebih bangga lagi karena salah satu personilnya, Asta, merupakan putra dari salah satu anggota TGP Jabodetabek, Om Tommy Tamtomo.

Agenda TGP kemudian berlanjut dengan Sarasehan di Puncak, Bogor. Seluruh anggota TGP yang hadir dalam rangkaian acara Upacara 17 di Tugu Proklamasi kemudian bersama-sama menuju Wisma Arga Mulia di Puncak dalam satu bis. Sempat mampir di Cimory sebentar, dan setelah beberapa menit akhirnya sampai juga di tempat tujuan, Wisma Arga Mulia, yang merupakan salah satu tempat pelatihan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Setelah beristirahat sejenak, akhirnya semua anggota TGP yang hadir di Wisma Arga Mulia berkumpul di Meeting Room untuk Sarasehan.

Sarasehan dengan tema "Kembali Ke Jati Diri IKB Ex TGP Be 17 sesuai Nilai-Nilai Kejoangan 1945 di Era Generasi Penerusnya", sarasehan pun dimulai. Dipandu Tante Susi Ariyadi sebagai MC, Sarasehan dibuka dengan sambutan dari Om Tommy Tamtomo sebagai Ketua IKB Jabodetabek dan Om Agus Suseto sebagai Ketua I dari Pengurus TGP Pusat. Lalu disambung dengan Penyerahan Bantuan berupa gergaji besi dan mesin pemotong rumput dari TGP Jabodetabek yang diwakili oleh Tante Vonny Pawaka untuk pembenahan Stadion Godean Jogjakarta, yang diterima oleh Om Danang perwakilan TGP Jogjakarta.

Sarasehan kemudian dipandu oleh dr. Gatot Yudono Kusumo sebagai moderator, serta dipimpin oleh Om Agus Suseto dan Om Nurhadi (TGP Surabaya). Masing-masing sebagai Ketua dari perwakilan Pengurus TGP Pusat. Sedangkan saya sebagai Generasi Ketiga (biasa disingkat G3) didaulat untuk menjadi notulen dalam Sarasehan ini. Sarasehan dimulai pukul delapan malam dan berakhir pukul dua belas malam. Sepanjang sarasehan, saya perhatikan hanya beberapa anggota yang mulai mengantuk. Selebihnya masih luar biasa semangat! Ini buat saya sungguh mengagumkan. Bagaimana tidak? Sarasehan ini waktunya melebihi saya rapat di kantor. Saking semangatnya sampai seakan lupa waktu sudah tengah malam. Semangat ingin memajukan organisasi TGP ke depannya.

Apa yang kami diskusikan bersama dalam sarasehan adalah dengar pendapat dari perwakilan TGP daerah kepada Pengurus TGP Pusat. Inti yang dapat disimpulkan dari Sarasehan adalah tentang program kerja TGP yang harus dievaluasi, dibenahi dan ditetapkan sebagai acuan kegiatan TGP baik di Pusat maupun Daerah. Para anggota ingin adanya kegiatan rutin TGP selain Rangkaian Upacara 17 dan Peringatan Hari Pahlawan 10 November. Selain itu, para G2 (Generasi Kedua) merasa sudah waktunya ada regenerasi ke G3. Sudah seharusnya G3 mulai ikut berpartisipasi aktif dalam organisasi. Bukan semata sebagai perwakilan garis keturunan, tetapi juga sebagai generasi penerus yang melestarikan nilai-nilai TGP. Dalam Sarasehan ini juga dibahas tentang rencana bantuan bagi SMPN 2 Saradan, Madiun, yang merupakan salah satu sekolah TGP di Jawa Timur. SMPN 2 Sumberpucung Malang juga sharing tentang bagaimana mereka melestarikan nilai-nilai TGP dan mengimplementasikannya dalam kegiatan belajar mengajar. Mengingat SMPN 2 Sumberpucung juga merupakan salah satu cagar budaya TGP dan dijuluki Sekolah TGP saat ini.

Dari hasil Sarasehan TGP ini saya kemudian teringat akan pikiran saya beberapa tahun silam, lebih tepatnya keluhan. TGP, menurut saya, saat ini jarang sekali dikenal orang sebagai salah satu pasukan pejuang kemerdekaan RI. Saya sering harus menjelaskan secara singkat apa itu TGP ketika ada orang bertanya. TGP minim sekali literatur. Sehingga akses untuk orang yang ingin mengenal TGP menjadi kurang terfasilitasi. Tentang sejarah TGP, profil TGP, dan perbandingan TGP dengan pasukan pejuang lainnya. Saya akui, dengan kesibukan masing-masing, agak susah bagi kami menyempatkan waktu sejenak untuk mengumpulkan referensi, lalu merangkumnya dalam bahasa terkini agar mudah dibaca dan dipahami generasi muda jaman sekarang. Padahal tentunya kami ingin TGP juga dikenang dan dikenal. Jujur saja deh, jangankan sampai meluas ke orang lain, G3 dalam lingkup TGP sendiri, apakah ada yang benar-benar mengenal TGP? Bagaimana kita akan melestarikan TGP jika kita sendiri tidak mengenal TGP? Saya sendiri saja sangat minim pengetahuan tentang TGP. Hanya garis besarnya saja. Ini merupakan penyesalan terdalam saya karena tidak memanfaatkan kesempatan di masa lampau untuk menggali informasi dari Eyang Uti saya sendiri, Ibu Moestamien Soedibyo, anggota TGP Blitar sebagai pelaku sejarah. Tentunya informasi dari beliau para Generasi Pendahulu  TGP merupakan sumber informasi paling valid. Tapi saya ucapkan terima kasih kepada SMPN 2 Sumberpucung Malang yang telah mulai mengumpulkan informasi tentang sejarah TGP dari berbagai sumber, salah satunya dari Eyang Darmadi (Pak Dengkek), anggota TGP Malang yang Alhamdulillah masih sehat wal'afiat.

Masalah literatur TGP ini dapat direalisasikan meskipun secara perlahan (mengingat waktu dan tenaga yang sangat minim). Tetapi tentunya akan lebih baik apabila semua G3 dapat terlibat dalam kegiatan TGP. Minimal dalam kegiatan rutin tahunan seperti Napak Tilas dan Upacara 17, serta Peringatan Hari Pahlawan 10 November secara kontinyu. Kenapa? Minimal untuk menimbulkan Sense of Belonging, rasa kepemilikan. Ini penting, karena ketika seseorang mempunyai rasa kepemilikan (Rumangsa Handarbeni) dalam sebuah organisasi, maka timbul rasa tanggung jawab untuk menjaga, melindungi, mempertahankan, dan mengembangkan apa yang menjadi miliknya tersebut. Sayang banget ketika saya melihat G2 begitu guyub rukun, rasa persaudaraannya tinggi, perasaan yang diwariskan dari Generasi Pendahulu TGP, tidak terlihat di G3. Saya rasa, kalau sering ikut kegiatan TGP, saling mengenal, muncul sense of belonging, G3 akan menciptakan gebrakan baru di TGP. Melestarikan nilai-nilai TGP yaitu disiplin, jujur, kasih sayang, dan guyub rukun dengan cara anak muda.

Karena ditilik dari tema Sarasehan, "Kembali ke Jati Diri IKB Ex. TGP Be 17 Sesuai Nilai-Nilai Kejoangan 1945 di Era Generasi Penerusnya" ada satu keinginan utama untuk terus melestarikan TGP. Baik profilnya, figurnya maupun nilai-nilai yang terkandung dalam TGP. Karena perjuangan para Generasi Pendahulu TGP hendaknya tidak hanya diperingati secara simbolis setiap tahunnya. Tetapi juga dijaga agar sumbangsih mereka tidak sia-sia. Bahwa kami para generasi penerus sekarang dapat meneruskan langkah dengan kondisi negara merdeka adalah berkat perjuangan para Generasi Pendahulu. Dalam rangkaian Upacara Tujuh Belas Agustus tahun Dua Ribu Tujuh Belas ini, saya menyimpulkan satu hal. Kita semua sebagai Generasi Penerus TGP sebenarnya memiliki SATU TUJUAN. Melestarikan Tentara Genie Peladjar di masa depan.


Blitar, 31 Agustus 2017
Sebuah tulisan di penghujung Agustus,

Anindhita Rustiyan Kusumaningtyas
G3 TGP Blitar


Sambutan dari Gubernur DKI Jakarta, Drs. Djarot Saiful Hidayat

Rombongan PKB-PPK yang siap ikut Napak Tilas

Bp. Drs. Djarot Saiful Hidayat dan Bp. Try Sutrisno membuka Napak Tilas



Melanjutkan Napak Tilas dari Museum Naskah Proklamasi menuju Tugu Proklamasi

Rombongan PKB-PPK tiba di gerbang Tugu Proklamasi

17 Agustus 2017. Berfoto bersama Eyang Mukartini, istri dari Alm. Eyang Dewo Kusumo, TGP Jakarta

Suasana Upacara 17 Agustus di Tugu Proklamasi

Berfoto bersama dengan Panji TGP
 


RAN!

Foto bareng sebelum Sarasehan

Sambutan dari Om Agus Suseto

Penyerahan bantuan bagi pembenahan Stadion Godean, dari TGP Jabodetabek yg diwakili oleh Tante Vonny Pawaka kepada Om Danang dari TGP Jogjakarta

Suasana Sarasehan



18 Agustus 2017, mengunjungi Warso Farm, kebun durian dan buah naga milik keluarga Soewarso Pawaka, sebelum kembali ke Jakarta

Menyempatkan diri ziarah ke makam Eyang Soewarso Pawaka, salah satu anggota /Generasi Pendahulu TGP

Until we meet again next year! We are TGP, we are Unity!