Thursday, 31 August 2017

Upacara 17 Agustus di Tahun 17. Memaknai Kemerdekaan RI dengan Satu Tujuan

Seberapa sering kita ingat akan pahlawan bangsa? Mungkin setahun sekali, pada tanggal 17 Agustus saat Peringatan Kemerdekaan RI atau sewaktu Hari Pahlawan tanggal 10 November. Di zaman yang serba sibuk ini, mengingat mereka pada hari-hari tertentu sudah cukup bagus. Dalam mengingat itu, pernahkah kita mencoba memaknai perjuangan tersebut? Mengapa para pendahulu kita berjuang begitu kerasnya agar Indonesia menjadi negara yang merdeka? Lalu, ketika kita sebagai generasi penerus yang hidup di negara yang telah dinyatakan merdeka dari penjajahan negara asing, apa yang kemudian harus kita lakukan? Sudahkah kita berterima kasih atas kemerdekaan negara yang telah diraih?

Seperti tahun 2016 kemarin, saya berkesempatan untuk mengikuti kembali di tahun 2017 ini Upacara Peringatan Kemerdekaan RI di Tugu Proklamasi, Jakarta.  Nyaris sama, rangkaian Peringatan tersebut diawali dengan kegiatan Napak Tilas lalu Upacara 17 Agustus.

Napak Tilas dimulai dari Gedung Joang 45 yang terletak di Jalan Menteng 31. Acara dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta, Bp. Drs. Djarot Saiful Hidayat bersama Bp. Try Sutrisno, Wakil Presiden RI ke-6. Gedung Joang '45 ini dulunya merupakan Hotel Schomper I yang didirikan oleh seorang pengusaha Belanda, LC. Schomper pada tahun 1938. Kemudian setelah Jepang menaklukkan Belanda pada tahun 1942, Gedung tersebut beralih fungsi menjadi tempat penggemblengan bagi para pemuda dan sekarang menjadi salah satu museum sejarah Indonesia.

Rombongan Napak Tilas mulai berjalan dari Gedung Joang 45 menuju Museum Naskah Proklamasi. Sepanjang perjalanan, rombongan yang dipimpin oleh paskibraka dan drum band serta diikuti oleh berbagai kelompok seperti mahasiswa, pelajar, veteran dan tentunya dari PKB-PPK, masing-masing menyerukan semangat perjuangan. Menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, yel-yel perjuangan, tak henti-henti untuk menyemarakkan acara Napak Tilas Proklamasi.

Tiba di Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Rombongan telah dinanti oleh Panitia Napak Tilas. Sambil rombongan beristirahat, saya menyempatkan diri sejenak untuk masuk dan melihat-lihat bangunan bekas kediaman Laksamana Tadashi Maeda, yang dulu dengan rela hati mempersilakan Ir. Soekarno, Drs. Mochammad Hatta, Achmad Soebardjo dan Sayuti Melik untuk merumuskan dan mengetik Naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 16-17 Agustus 1945. Ruangan tersebut ditata semirip mungkin dengan tatanan dahulu, memberikan gambaran peristiwa bersejarah pada kala itu. Ruang tamu sekaligus kantor Laksamana Maeda, ruangan yang digunakan untuk merumuskan teks Proklamasi lengkap dengan diorama ukuran asli Ir. Soekarno, Drs. Moch. Hatta dan Achmad Soebardjo, ruangan untuk mengetik naskah Proklamasi, dan piano yang menjadi pengganti meja bagi Ir. Soekarno dan Drs. Moch.Hatta untuk menandatangani teks Proklamasi yang telah diketik. Pengunjung museum bisa membayangkan bagaimana situasi pada saat perumusan teks Proklamasi.

Akhirnya rombongan kembali melanjutkan Napak Tilas menuju Tugu Proklamasi. Lelah seperti tidak terlihat dan terasa oleh peserta Napak Tilas. Anak-anak pelajar yang turut serta masih terus bersemangat. Bernyanyi dan menyerukan yel-yel ciptaan mereka. Peluh yang meluruh seperti tak ada artinya. Sampai tiba di tujuan akhir Napak Tilas, Tugu Proklamasi. Masing-masing kelompok duduk bersama, senyum puas dan lepas. Rombongan disambut oleh Bp. Djarot Saiful Hidayat, Bp. Try Sutrisno, dan Ibu Meutia Hatta yang tahun lalu juga hadir dalam Napak Tilas di Tugu Proklamasi.

Malamnya merupakan Malam Renungan. Para tamu undangan diharapkan mengenakan pakaian adat Betawi, baju kurung dan kain, baju koko dan sarung yang dikalungkan. Salah satu upaya kami untuk melestarikan salah satu budaya Indonesia. Dalam Malam Renungan ini juga diadakan pelantikan bagi Paskibra yang akan bertugas besok dalam Upacara 17 Agustus.

Dan esoknya, Upacara Peringatan Kemerdekaan RI di Tugu Proklamasi dimulailah. Seperti yang sudah-sudah, Upacara 17 di Tugu Proklamasi berlangsung khidmat. Dan masih seperti dahulu, tangis haru para peserta upacara, kami para generasi penerus para pejuang, masih tetap menetes, mana kala lagu Indonesia Raya dan Mengheningkan Cipta mengalun. Ada rasa rindu. Rindu akan mereka para pendahulu yang telah berpulang. Terkadang saya merasa, ketika kami semua menundukkan kepala untuk mengheningkan cipta, mengucap doa di hati masing-masing, para pendahulu kami pun berkumpul dan tersenyum, menerima setiap doa yang dipanjatkan. Menyaksikan kami dari surga.

Selesai upacara, setiap rumpun berfoto bersama. Tak terkecuali TGP. Tentunya berfoto bersama Panji TGP merupakan suatu kebanggaan. Ketika sedang berfoto, ada sebuah keramaian yang tak biasa di ujung halaman Tugu Proklamasi yang lain. Hampir lupa bahwa selesai Upacara, kami para peserta dihibur oleh musik RAN. Band yang terdiri dari tiga laki-laki, Rayi, Asta dan Nino menyanyikan beberapa lagu hits mereka. Bangga dong, kita upacara di Tugu Proklamasi dihibur RAN. Lebih bangga lagi karena salah satu personilnya, Asta, merupakan putra dari salah satu anggota TGP Jabodetabek, Om Tommy Tamtomo.

Agenda TGP kemudian berlanjut dengan Sarasehan di Puncak, Bogor. Seluruh anggota TGP yang hadir dalam rangkaian acara Upacara 17 di Tugu Proklamasi kemudian bersama-sama menuju Wisma Arga Mulia di Puncak dalam satu bis. Sempat mampir di Cimory sebentar, dan setelah beberapa menit akhirnya sampai juga di tempat tujuan, Wisma Arga Mulia, yang merupakan salah satu tempat pelatihan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Setelah beristirahat sejenak, akhirnya semua anggota TGP yang hadir di Wisma Arga Mulia berkumpul di Meeting Room untuk Sarasehan.

Sarasehan dengan tema "Kembali Ke Jati Diri IKB Ex TGP Be 17 sesuai Nilai-Nilai Kejoangan 1945 di Era Generasi Penerusnya", sarasehan pun dimulai. Dipandu Tante Susi Ariyadi sebagai MC, Sarasehan dibuka dengan sambutan dari Om Tommy Tamtomo sebagai Ketua IKB Jabodetabek dan Om Agus Suseto sebagai Ketua I dari Pengurus TGP Pusat. Lalu disambung dengan Penyerahan Bantuan berupa gergaji besi dan mesin pemotong rumput dari TGP Jabodetabek yang diwakili oleh Tante Vonny Pawaka untuk pembenahan Stadion Godean Jogjakarta, yang diterima oleh Om Danang perwakilan TGP Jogjakarta.

Sarasehan kemudian dipandu oleh dr. Gatot Yudono Kusumo sebagai moderator, serta dipimpin oleh Om Agus Suseto dan Om Nurhadi (TGP Surabaya). Masing-masing sebagai Ketua dari perwakilan Pengurus TGP Pusat. Sedangkan saya sebagai Generasi Ketiga (biasa disingkat G3) didaulat untuk menjadi notulen dalam Sarasehan ini. Sarasehan dimulai pukul delapan malam dan berakhir pukul dua belas malam. Sepanjang sarasehan, saya perhatikan hanya beberapa anggota yang mulai mengantuk. Selebihnya masih luar biasa semangat! Ini buat saya sungguh mengagumkan. Bagaimana tidak? Sarasehan ini waktunya melebihi saya rapat di kantor. Saking semangatnya sampai seakan lupa waktu sudah tengah malam. Semangat ingin memajukan organisasi TGP ke depannya.

Apa yang kami diskusikan bersama dalam sarasehan adalah dengar pendapat dari perwakilan TGP daerah kepada Pengurus TGP Pusat. Inti yang dapat disimpulkan dari Sarasehan adalah tentang program kerja TGP yang harus dievaluasi, dibenahi dan ditetapkan sebagai acuan kegiatan TGP baik di Pusat maupun Daerah. Para anggota ingin adanya kegiatan rutin TGP selain Rangkaian Upacara 17 dan Peringatan Hari Pahlawan 10 November. Selain itu, para G2 (Generasi Kedua) merasa sudah waktunya ada regenerasi ke G3. Sudah seharusnya G3 mulai ikut berpartisipasi aktif dalam organisasi. Bukan semata sebagai perwakilan garis keturunan, tetapi juga sebagai generasi penerus yang melestarikan nilai-nilai TGP. Dalam Sarasehan ini juga dibahas tentang rencana bantuan bagi SMPN 2 Saradan, Madiun, yang merupakan salah satu sekolah TGP di Jawa Timur. SMPN 2 Sumberpucung Malang juga sharing tentang bagaimana mereka melestarikan nilai-nilai TGP dan mengimplementasikannya dalam kegiatan belajar mengajar. Mengingat SMPN 2 Sumberpucung juga merupakan salah satu cagar budaya TGP dan dijuluki Sekolah TGP saat ini.

Dari hasil Sarasehan TGP ini saya kemudian teringat akan pikiran saya beberapa tahun silam, lebih tepatnya keluhan. TGP, menurut saya, saat ini jarang sekali dikenal orang sebagai salah satu pasukan pejuang kemerdekaan RI. Saya sering harus menjelaskan secara singkat apa itu TGP ketika ada orang bertanya. TGP minim sekali literatur. Sehingga akses untuk orang yang ingin mengenal TGP menjadi kurang terfasilitasi. Tentang sejarah TGP, profil TGP, dan perbandingan TGP dengan pasukan pejuang lainnya. Saya akui, dengan kesibukan masing-masing, agak susah bagi kami menyempatkan waktu sejenak untuk mengumpulkan referensi, lalu merangkumnya dalam bahasa terkini agar mudah dibaca dan dipahami generasi muda jaman sekarang. Padahal tentunya kami ingin TGP juga dikenang dan dikenal. Jujur saja deh, jangankan sampai meluas ke orang lain, G3 dalam lingkup TGP sendiri, apakah ada yang benar-benar mengenal TGP? Bagaimana kita akan melestarikan TGP jika kita sendiri tidak mengenal TGP? Saya sendiri saja sangat minim pengetahuan tentang TGP. Hanya garis besarnya saja. Ini merupakan penyesalan terdalam saya karena tidak memanfaatkan kesempatan di masa lampau untuk menggali informasi dari Eyang Uti saya sendiri, Ibu Moestamien Soedibyo, anggota TGP Blitar sebagai pelaku sejarah. Tentunya informasi dari beliau para Generasi Pendahulu  TGP merupakan sumber informasi paling valid. Tapi saya ucapkan terima kasih kepada SMPN 2 Sumberpucung Malang yang telah mulai mengumpulkan informasi tentang sejarah TGP dari berbagai sumber, salah satunya dari Eyang Darmadi (Pak Dengkek), anggota TGP Malang yang Alhamdulillah masih sehat wal'afiat.

Masalah literatur TGP ini dapat direalisasikan meskipun secara perlahan (mengingat waktu dan tenaga yang sangat minim). Tetapi tentunya akan lebih baik apabila semua G3 dapat terlibat dalam kegiatan TGP. Minimal dalam kegiatan rutin tahunan seperti Napak Tilas dan Upacara 17, serta Peringatan Hari Pahlawan 10 November secara kontinyu. Kenapa? Minimal untuk menimbulkan Sense of Belonging, rasa kepemilikan. Ini penting, karena ketika seseorang mempunyai rasa kepemilikan (Rumangsa Handarbeni) dalam sebuah organisasi, maka timbul rasa tanggung jawab untuk menjaga, melindungi, mempertahankan, dan mengembangkan apa yang menjadi miliknya tersebut. Sayang banget ketika saya melihat G2 begitu guyub rukun, rasa persaudaraannya tinggi, perasaan yang diwariskan dari Generasi Pendahulu TGP, tidak terlihat di G3. Saya rasa, kalau sering ikut kegiatan TGP, saling mengenal, muncul sense of belonging, G3 akan menciptakan gebrakan baru di TGP. Melestarikan nilai-nilai TGP yaitu disiplin, jujur, kasih sayang, dan guyub rukun dengan cara anak muda.

Karena ditilik dari tema Sarasehan, "Kembali ke Jati Diri IKB Ex. TGP Be 17 Sesuai Nilai-Nilai Kejoangan 1945 di Era Generasi Penerusnya" ada satu keinginan utama untuk terus melestarikan TGP. Baik profilnya, figurnya maupun nilai-nilai yang terkandung dalam TGP. Karena perjuangan para Generasi Pendahulu TGP hendaknya tidak hanya diperingati secara simbolis setiap tahunnya. Tetapi juga dijaga agar sumbangsih mereka tidak sia-sia. Bahwa kami para generasi penerus sekarang dapat meneruskan langkah dengan kondisi negara merdeka adalah berkat perjuangan para Generasi Pendahulu. Dalam rangkaian Upacara Tujuh Belas Agustus tahun Dua Ribu Tujuh Belas ini, saya menyimpulkan satu hal. Kita semua sebagai Generasi Penerus TGP sebenarnya memiliki SATU TUJUAN. Melestarikan Tentara Genie Peladjar di masa depan.


Blitar, 31 Agustus 2017
Sebuah tulisan di penghujung Agustus,

Anindhita Rustiyan Kusumaningtyas
G3 TGP Blitar


Sambutan dari Gubernur DKI Jakarta, Drs. Djarot Saiful Hidayat

Rombongan PKB-PPK yang siap ikut Napak Tilas

Bp. Drs. Djarot Saiful Hidayat dan Bp. Try Sutrisno membuka Napak Tilas



Melanjutkan Napak Tilas dari Museum Naskah Proklamasi menuju Tugu Proklamasi

Rombongan PKB-PPK tiba di gerbang Tugu Proklamasi

17 Agustus 2017. Berfoto bersama Eyang Mukartini, istri dari Alm. Eyang Dewo Kusumo, TGP Jakarta

Suasana Upacara 17 Agustus di Tugu Proklamasi

Berfoto bersama dengan Panji TGP
 


RAN!

Foto bareng sebelum Sarasehan

Sambutan dari Om Agus Suseto

Penyerahan bantuan bagi pembenahan Stadion Godean, dari TGP Jabodetabek yg diwakili oleh Tante Vonny Pawaka kepada Om Danang dari TGP Jogjakarta

Suasana Sarasehan



18 Agustus 2017, mengunjungi Warso Farm, kebun durian dan buah naga milik keluarga Soewarso Pawaka, sebelum kembali ke Jakarta

Menyempatkan diri ziarah ke makam Eyang Soewarso Pawaka, salah satu anggota /Generasi Pendahulu TGP

Until we meet again next year! We are TGP, we are Unity!


Tuesday, 29 August 2017

Memanggil Kenangan Untuk Melepaskan

Ada berapa banyak kenangan yang telah kau buat? Baik sendiri maupun bersama orang lain? Dengan orang di sekitarmu, bahkan dengan orang yang paling berarti bagimu. Kenangan baik, kenangan buruk. Begitu indah sampai ingin terus mencium aromanya, memeluk wujudnya. Atau begitu buruk sampai sakit, perih, seakan ulu hati terpuntir, sesak tanpa akhir, yang meski sudah kau coba bawa tidur tak juga pergi.

Ketika baru saja terjadi, kenangan akan masih terus jelas terlihat kapan pun kau memejamkan mata. Masih terasa genggamannya, sentuhannya. Masih tercium aromanya. Masih terlihat jelas senyumnya, kilat mata saat tatapannya beradu pandang denganmu. Masih terdengar jelas nyanyiannya. Andai jarimu sanggup menuliskan, atau bibirmu sanggup menuturkan, mendeskripsikan rasanya akan begitu mudah. Tapi terkadang, kenangan itu hanya ingin kita simpan dalam memori kita. Terlalu sayang untuk dibagikan.

Dan segala hal di semesta ini, seakan menggodamu untuk mengingatnya. Mendengar lagu yang biasa ia gumamkan, menghirup aroma kopi yang biasa ia teguk. Hanya dengan memejamkan mata, bisa tergambar jelas caranya mengetuk jari sesuai irama lagu, caranya mendekatkan cangkir ke hidungnya untuk mencium aroma kopi sebelum kemudian menghirupnya pelan-pelan, caranya berjalan, tegap punggungnya ketika memandang jauh dengan lintingan tembakau di jarinya. Tercium jelas aroma tembakau dan parfum yang menguar dari tubuhnya. Tergambar jelas senyumnya, matanya yang tinggal segaris ketika terpingkal. Mata yang pernah menatap tajam ketika menunggu jawaban. Mata yang berkilat protes ketika kau memaksa dirimu untuk terus bekerja padahal tubuhmu sudah kelelahan. Mata yang tak sanggup untuk kau pandang ketika ia terkejut. Mata yang tak mampu kau tatap ketika kau tahu ia memandangmu. Semakin kau gali, terasa jelas sentuhan jemarinya yang ragu-ragu tapi enggan menjauh, yang keesokan harinya berubah menjadi genggaman kukuh. Awal mula dari rangkaian kenangan. Terasa jelas saat jemarimu menyentuh hangat kulitnya, menenangkannya hingga ia terlelap. Penghujung dari susunan kenangan.

Tampak indah, terasa manis. Tapi kemudian tak berani untuk diingat lagi. Setiap kali teringat, hati seperti disiram air dingin, ulu hati seakan terpuntir. Terjaga sepanjang malam, seakan paham akan terputar lagi seperti pita film jika memejam. Ingin membuangnya, ingin mengenyahkan, ingin menjauhkan, tapi tak tahu bagaimana caranya.

Hingga akhirnya, perlahan justru kau panggil semua. Kau urutkan dari awal mula, hingga penghujung akhir. Mengingatnya menimbulkan pedih, tapi terus kau panggil, terus kau nikmati, sampai hilang pedih itu. Sampai ketika kau putar lagi, sudah tak terasa apapun. Hanya senyum. Senyum bahwa kau pernah mengalaminya. Senyum bahwa kau pernah mengenalnya, pernah menghabiskan waktu dengannya, pernah menyusun kenangan bersamanya, pernah begitu peduli padanya. Sampai saat ini. Tak ada pedih lagi. Kau panggil lagi, hanya ada senyum dan nafas yang semakin teratur.

Mungkin ini salah satu caraku untuk berdamai. Memanggil kenangan bukan karena tak ingin melepaskan. Tapi memanggil kenangan justru untuk membebaskan. Kita cenderung tak ingin mengingat karena takut akan rasa sakitnya. Padahal ketika kita memanggilnya, menikmati sensasinya, menghadapinya, kita akan siap. Siap untuk menyimpannya, siap bersahabat dengannya. Sehingga jika suatu saat Tuhan mempertemukan kita kembali, kita akan bertemu bukan dengan tubuh yang berbalik menghindar, telapak tangan yang dingin dan hati yang mencelos samar. Tapi bertukar senyum tulus dan tatapan hangat. Dan tangan kita akan berjabat, lalu berujar, "Apa kabar?"


Blitar, 29 Agustus 2017
Sebuah tulisan di hampir penghujung Agustus, sebelum menyambut September,

AnindRustiyan

(Song while I write this down : Kenangan Yang Salah by Judika)