Thursday, 13 December 2012

Book Review - The Various Flavours of Coffee


Hal pertama yang menarik dari buku ini adalah : kopi.
Bisa dibilang jarang ada novel tentang kopi, maksudku yang benar-benar ada informasi tentang kopi. Sejarahnya, jenis-jenisnya kopi dan racikannya, cara meraciknya, bahkan mungkin budaya cara meminumnya. Kebanyakan novel tentang kopi hanya menggunakan cafe sebagai setting tempat dan menyelipkan beberapa nama jenis racikan kopi. Selebihnya, kisah tentang tokohnya.

Robert Wallis, seorang penyair amatir yang terancam miskin karena tidak segera menyelesaikan kuliahnya dan uang jatah bulanan kiriman ayahnya akan dihentikan, memiliki selera tinggi tentang gaya hidup. Pakaiannya yang selalu update, berselera tinggi dalam segala hal, termasuk juga kopi. Saat ia sedang duduk di sebuah cafe dan melontarkan ketidakpuasannya terhadap kualitas kopi yang disajikan cafe tersebut, ia bertemu Samuel Pinker. Ia merekrut Robert Wallis untuk mendefinisikan kualitas dari berbagai macam kopi yang dimilikinya sebagai bagian dari usaha yang dirintisnya.
Robert kemudian menyetujui kerjasama tersebut. Dengan kemampuannya mengenali dan mendefinisikan kualitas kopi baik dari aroma maupun rasa, ia dan putri Samuel Pinker, Emilly Pinker membuat sebuah Pedoman. Pedoman ini yang akan mereka gunakan untuk memajukan usaha cafe milik Samuel Pinker, cafe yang menyajikan bukan sembarang kopi.
Seringnya bertemu dan membuat Pedoman bersama, membuat Robert pada akhirnya memiliki rasa terhadap Emilly. Samuel Pinker kemudian mengutus Robert Wallis untuk ke daratan Afrika, menemukan dan membuka lahan perkebunan untuk Pinker di sebuah daerah yang dikenal sebagai pusat asal kopi. Robert berangkat. Di sana ia kemudian bertemu dengan seorang budak milik saudagar Arab yang menawan, yang dengan berani menyelipkan sebiji kopi di tangan Robert Wallis.  Mereka kemudian saling jatuh cinta, dan berusaha membebaskan Fikre, budak tersebut, dari saudagar Arab yang memilikinya. Namun pada akhirnya, Fikre malah meninggalkan Robert! Emilly malah menikah dengan orang lain!

Betapa mengejutkan bahwa apa yang didapat dari buku ini tentang kopi ternyata lebih dari yang dibayangkan. Sejarah kopi. Setting waktu novel ini sekitar tahun 1895, di London. Itu masih termasuk zaman Ratu Victoria (nilai plus, karena aku lagi suka cerita apa pun pada zaman Victoria). Pada saat itu sepertinya kopi masih belum terlalu populer, tetapi sedang menuju kepopuleran itu sendiri. Mengingat keluarga kerajaan lebih suka minum teh dan  menganggap teh adalah minuman ningrat. Jenis-jenis tanaman kopi dari berbagai negara disebutkan. Dan, wah, ternyata yang namanya kopi moka itu bukan hanya campuran kopi dengan coklat, tetapi memang ada tanamannya sendiri! Menyenangkan bisa membaca novel yang menyatukan fakta dan sejarah dengan fiksi romansa. Dan semuanya seimbang. Kadang kan ada novel yang terlalu menitikberatkan pada cerita cinta si tokoh dan si kopi cuma sebagai atribut dari para tokoh. Di sini kopi sebagai fokusnya, tetapi cerita cinta dan kehidupannya juga menarik untuk diikuti.

Boleh dikatakan, keputusanku membeli buku ini, tidak mengecewakan. Dan apa lagi yang lebih tepat menemani membaca buku ini selain kopi itu sendiri? :)

Love,
anind


Judul buku   : The Various Flavours of Coffee (Rasa Cinta dalam Kopi)
Pengarang    : Anthony Capella
Jenis            : Novel
Tebal hal       : 680 hal + cover

Tuesday, 4 December 2012

Finally, Graduated!!

Finally, I'm graduated :')
After almost a year for me to finished my thesis, finally I'm graduated. But unfortunately, a week before my graduation day, I got conjunctivitis :(
My left eye become so red. And it getting worst because my eye allergic to the medicine from the doctor. It become so red and swollen. At my graduation day, it was not too red again, but still swollen. However the show must go on, right? I wear my makeup by my self! And satisfied enough with it ;)
All my makeup from Wardah cosmetics.








Sunday, 14 October 2012

Logika dan Emosi

Lagi-lagi dia begitu. Tak lagi mengindahkanku. Selalu saja aku dianggap angin lalu. Semua kata-kataku didengar tanpa acuh.
Sakit. Nyeri. Perih. Terus aku memperingatkannya. Ia hanya melirikku. Kadang malah mencebik padaku. Dan kemudian berlalu.

Seperti hari ini. Ia berdandan begitu rapi. Cermin di depannya memantulkan kemolekannya yang kukagumi. Senyum tersungging. Mata bersemangat berapi-api. Aroma tubuhnya begitu wangi. Sesuai namanya.

"Wangi," panggilku lirih. Ia melirik sekilas, lalu berlanjut konsentrasi pada bibirnya yang dipulas.
"Jangan pergi," kataku. Memohon. Seperti biasa. Aku tahu tak akan berhasil. Tak pernah berhasil.
"Kamu akan terluka lagi," lanjutku. Ia mendengus kesal. Lalu pergi sambil menghentak-hentak. Aku hanya bisa diam. Memandangnya dengan sedih.

*

"Wangi..," panggilku lagi. Letih mendera. Tapi tak jua aku menyerah. Tetap saja aku bertahan. Tapi aku tak bisa berbuat lebih banyak. Ia yang memilih. Ia yang memegang kendali. Aku hanya bisa memanggil. Terus memanggil. Dan ia menangis. Terisak. Teriak. Pilu mendengarnya. Ia meracau di sela isaknya. Sesak.

"Maaf.....maaf aku tak mendengarmu. Maaf aku mengacuhkanmu....," isaknya. Aku hanya bisa memandangnya dalam diam. Ia bersandar pada cermin. Terus terisak sampai pagi. Dan aku terus terjaga sampai fajar menyingsing.

"Aku juga merasakannya, Wangi. Sakitmu adalah sakitku. Perihmu juga perihku. Tak perlu kau ceritakan, aku sudah merasakan," kataku pelan.
"Berkali-kali kau memperingatkanku, tapi aku malah tak peduli dengan semua itu. Kau sudah bilang nanti aku sakit lagi. Nanti aku luka lagi. Tapi aku terus saja. Sakit rasanya....sakit karena dia...sakit karena kau juga terluka...," tangisnya.
"Aku terus memanggilmu, Wangi. Tapi aku juga tidak pergi. Karena aku tahu kamu akan begini. Maka aku terus berjaga. Agar saat kamu sadar kau tahu aku ada," jawabku.
Dadaku sesak. Sesak oleh perihnya. Sesak oleh sakitnya. Oleh isaknya. Sampai akhirnya ia berhenti. Menyeka tangis dari pipinya. Masih terisak. Namun makin lama makin berkurang. Ia menarik nafas panjang. Menghembusnya. Mencoba melepas sesak yang mengikat. Mencari kelegaan dalam kehampaan.

*

Terjadi lagi. Ia menjalin hubungan dengan yang lain lagi. Dan aku masih merasa ini tak baik. Sama seperti yang sudah-sudah. Bahagia, lalu sedih. Tawa, lalu tangis. Bukan seperti yang biasa. Tapi sedih dan sakit yang tak berkesudahan. Perih dan nyeri yang melebihi irisan pedang pada nadi. Dan kini aku sudah lelah. Aku letih. Lelah akan acuhnya. Letih akan tangisnya.
"Wangi," panggilku pelan. Ia tak menoleh. Bahkan melirikku pun tidak.
"Wangi!" panggilku lebih keras. "Apa sih??" balasnya.
"Jangan pergi lagi!" kataku.
"Diam!" serunya.
"DENGARKAN AKU!!!!!" teriakku. Dan ia terhenyak. Terhuyung dalam keterkejutan akan suaraku yang meninggi tak biasa.
"Berkali-kali, berkali-kali!!! Tidak letih kah kau dengan mereka?? Kau begitu terpesona oleh mereka sampai aku kau pinggirkan!!! Dan saat ganti kau yang didepak oleh mereka, kau baru kembali dengan tangismu!!! Kau memohon maaf padaku karena tak mendengarku. Aku capek!! Aku letih!!!" jeritku. Ia masih diam. Memandangku tak percaya.

"Wangi.....aku begini karena aku menyayangimu. Hanya karena aku bayanganmu bukan berarti aku tak mengerti. Aku memang tak bisa apa-apa. Aku tak bisa merangkulmu, menahanmu. Tapi aku melihatmu dan aku merasakan pedihmu. Karena aku bagian dalam dirimu.....," kataku pelan. Letih sudah mendera. Wangi jatuh lemas. Air mata mengalir lagi. Aku telah menamparnya. Dan kami lalu terisak bersama.


*anind*

Saturday, 1 September 2012

Review - Kisah Lainnya by Ariel, Uki, Lukman, Reza, David

Buku ini saya beli bukan sekedar karena saya penggemar karya mereka. Bukan pula karena bonus CD Suara Lainnya. Namun juga karena saya penasaran isinya.

Membaca tulisan Ariel di halaman pertama, saya merasa ini buku bagus. Tulisan selanjutnya saya merasa ini bukan sekedar buku untuk koleksi fans semata. Ada emosi, ada chemistry, ada pengungkapan yang jujur di sini. Setiap orang pernah salah, pernah melakukan kekeliruan dan pernah terlena. Hal itu juga yang pernah mereka alami. Dan mereka dengan jujur mengakuinya. Cerita mereka mengalir apa adanya. Dengan ciri khas masing-masing, mereka mengungkapkan apa yang mereka rasakan dan mereka alami dalam membentuk grup Peterpan, ketenaran yang diraih Peterpan, proses pembuatan album, dan masalah-masalah yang ada.

Di bagian pengantar, Ariel sudah menuliskan bahwa buku ini bukan sebagai penjelas dan konfirmasi atas apa yang terjadi pada Peterpan serta bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Karena sudah banyak media yang menyoroti hal tersebut, tinggal bagaimana kita menerima, memahami dan menyikapinya. Tapi buku ini menceritakan apa yang dilakukan dan bagaimana para personel Peterpan menyikapi peristiwa yang terjadi. Senang rasanya melihat mereka kemudian menemukan sesuatu yang menjadikan mereka lebih dewasa. Vakum hampir selama dua tahun membuat mereka menemukan space untuk merenung dan menata kehidupan pribadi mereka yang sedikit terabaikan karena kesibukan ngeband. Uki dengan pernikahan barunya, Lukman dan Reza yang menemukan kembali semangat spiritual ibadahnya, serta David yang menyembuhkan sakitnya. Kalau misal waktu tersebut tidak mereka dapatkan, mungkin saja konser-konser mereka bisa tertunda karena harus menunggu David sembuh. Atau Uki yang tidak punya waktu banyak untuk bayinya, serta Lukman dan Reza yang akan tetap seperti dulu dan tidak berubah.

Selain dari buku Kisah Lainnya, instrumen lagu-lagu hits mereka dalam album Suara Lainnya menandakan kematangan mereka dalam bermusik. Ketika mendengarnya, saya seperti baru sadar dan takjub bahwa lagu-lagu tersebut bisa disajikan dalam bentuk yang berbeda dan ternyata menjadi lebih indah. Mendengar lagu Bintang Di Surga membuat saya ingin menangis karena menyadarkan saya betapa rindunya saya dengan mereka. Lagunya menjadi lebih emosional, tetapi ada kelegaan di bagian akhirnya. Semacam orang yang sedang diliputi kegundahan, berlari, lalu kemudian mendapatkan pencerahan atas masalah yang dihadapinya.

Membaca buku ini diiringi dengan mendengarkan instrumen-instrumen dari CD Suara Lainnya membuat saya merasa band ini telah kembali dari istirahat panjangnya :)

buku Kisah Lainnya dan CD Suara Lainnya, sesaat setelah dibuka dari segelnya

Tuesday, 14 August 2012

Catatan Semarang - Semua Berjalan Begitu Cepat (Day 3)

Kali ini Mama yang bangun terlebih dulu daripada saya. Beliau sibuk membereskan barang bawaan agar ringkas dan tak merepotkan. Rencananya kami dijemput travel pukul sepuluh. Saya bangun dengan linglung. Kepala saya agak berat. Saya melihat keluar jendela. Ada semburat jingga di langit Semarang. Matahari bulat keemasan. Rasanya saya tak ingin pulang. Ini sudah seperti pulang.

Kakak berjanji akan ke hotel lagi sebelum kami berangkat. Setelah membeli beberapa donat untuk bekal di perjalanan, saya dan Mama duduk menonton TV. Sudah mandi, sudah siap pulang. Mendadak ponsel Mama berbunyi. Telepon dari travel yang berkata kami dijemput lima menit lagi. Kaget. Ini masih jam delapan! Mama protes karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Saya diam. Kakak belum ke sini. Kami belum sempat berfoto. Mama meminta dijemput setengah jam lagi. Saya berpakaian dengan enggan. Berharap tiba-tiba kakak datang. Tapi ternyata tidak. Saya meneleponnya. Ia bilang masih di rumah. Saya mau pamitan di telepon, tapi mata saya basah lagi. Saya sampai tak sanggup berkata-kata, saya kasih telepon ke Mama. Saya menangis. Merasa sedih, marah dan kesal. Saya masih ingin bertemu kakak saya lagi. Kakak berkata, "Udah, dhik. Jangan nangis terus. Nggak apa-apa. Nanti lain kali kita ketemu lagi,". Saya menangis seperti anak kecil yang tidak mau diajak pulang.

Akhirnya mobil travel datang. Saya tak berani menelepon Papa dalam kondisi sedih dan habis menangis seperti ini. Saya bersandar di jendela mobil, diam, menatap kosong ke depan. Sampai di Ungaran saya ketiduran. Perjalanan pulang lebih buruk daripada keberangkatan. Kami sampai di rumah pukul lima sore. Rasanya capek luar biasa. Untung saya mengantuk dan bisa tidur lebih awal. Malam itu saya tidur tanpa mimpi.

Catatan Semarang - Semua Berubah, Aku Hanya Bisa Berurai Air Mata (Day 2)

Saya terbangun lebih dulu dari Mama. Tampak beliau sangat menikmati istirahatnya. Saya melongok dari jendela. Mengucapkan selamat pagi pada matahari di langit Semarang. Bersyukur pada Tuhan, akhirnya saya bisa kemari lagi. Entah kenapa begitu sulit hanya untuk kembali.

Saya menyiapkan apa saja yang akan saya bawa untuk Papa. Sambil menunggu kakak saya datang, saya dan Mama sarapan di Dunkin. Hotel kami satu gedung dengan Gramedia dan Dunkin Donuts. Saya sempatkan membeli sebuah buku yang berjudul Kisah Lainnya yang ditulis oleh personel ex-Peterpan. Selanjutnya buku ini, dan buku kiriman sahabat saya Mami Primadonna Angela yang berjudul Japan in June, yang mendorong saya kuat-kuat untuk membuat catatan tiga hari di Semarang ini. Begitu saya kembali ke Dunkin, kakak saya datang. Kami berpelukan. Sepuluh tahun kami berpisah. Sejak Papa mulai stroke dan Pakdhe, ayah kakak saya, meninggal. Kami loose contact nyaris sepuluh tahun ini. Kami bertemu lagi setelah kakak saya sempat menginap beberapa hari di rumah Papa. Senang rasanya bisa mempunyai kakak.

Mama menjelaskan rute yang akan kami jalani pagi ini. Saya dan kakak ke rumah Papa lalu lanjut nyekar ke makam eyang di Bergoto. Mama tak ikut. Untuk efisien waktu, beliau hunting oleh-oleh di pasar Johar. Saya dan kakak berangkat lebih dulu. Rumah Papa yang sekarang ditinggali berada tepat di belakang rumah Thamrin 23. Hanya saja lebih kecil. Rumah itu juga rumah Papa. Dulu rumah itu ditempati saudara Papa.

Saya tak pernah bisa membayangkan, rumah yang ditempati Papa sekarang sebegini kecilnya. Saya sempat merasa, mungkin Kakak salah masuk rumah. Tapi ia tampak begitu yakin dan biasa. Ada seorang wanita tua sedang duduk di teras. Ia mempersilakan kami masuk. Ia sempat mengira saya ini istri Kakak, karena kebetulan Kakak memang baru menikah. Saya tersenyum saja. Saya masuk, rasanya semua seperti runtuh.

Papa. Tua, sakit, tak bisa bergerak. Duduk di kursi roda di depan TV. Kurus, berjenggot, tak terawat. Saraf di bibirnya tak lagi berfungsi sempurna, tak bisa menahan air liur yang terus menetes. Raut mukanya bercahaya ketika melihat saya. Saya, putri terkecilnya, yang paling disayang dan dititipkan harapan terbesarnya pada saya, namun juga yang paling jauh seakan tak tergapai. Hubungan kami...rumit. Kami, terutama saya, susah untuk bilang saya sayang Papa dengan gamblang. Sejak saya masih kecil pun, Papa jarang di rumah. Papa kerja di Jakarta sedangkan saya di Blitar sama Mama. Tapi kami saling menyalurkan energi, kerinduan, dan kasih sayang. Non verbal. Kami saling mendoakan dalam hati. Dalam diam, namun rasa sayang itu tersampaikan. Saya tahu Papa mencintai saya, begitu pun sebaliknya. Sifat dan fisik saya semua mirip dengan Papa. Dan saya bangga. Bangga luar biasa.

Saya meletakkan barang bawaan, oleh-oleh untuk Papa di meja sebelahnya. Saya menarik kursi dari sebelah TV ke sebelah Papa. Mengamati wajahnya yang menua, namun bersinar dengan kehadiran saya. Saya bercerita cukup banyak. Saya ceritakan yang sekiranya Papa belum tahu. Beliau merespon sedikit-sedikit. Lebih banyak "ooo" dan mengangguk, sesekali terkekeh-kekeh. Persis eyang. Papa sudah makin sulit bicara. Jarang dilatihnya. Papa harus mengulang perkataannya dan saya harus memperhatikan dengan seksama, baru saya paham. Saya amati rumah kecil Papa. Hanya ada dua kamar. Pintu belakang yang terbuka, menampakkan halaman kecil. Halaman itu dulu tersambung dengan halaman belakang rumah Thamrin.

Mendadak saya ingat. Salah satu pesanan Papa, cukuran kumis, tertinggal di hotel. Saya berjanji untuk kembali lagi nanti malam, mengantar cukuran kumis. Mungkin ini kehendak Tuhan, agar saya bisa bertemu Papa lebih lama hari ini. Saya pamit untuk ke makam eyang. Saya cium tangan kanannya yang tak bisa digerakkan, menghalau nyamuk yang menghisap darah dari kaki kanannya yang mati rasa. Saya peluk beliau. Kurus, tua. Sempat saya selipkan beberapa lembar uang di saku kanan kemejanya. Ada lubang kecil yang ditisik di kemeja di bagian dada kirinya. Kemeja garis-garis merah yang dulu dibelikan Mama. Hati saya tak karuan. Papa tidak pernah pakai baju berlubang. Ini pertama kalinya saya melihat Papa dalam kondisi demikian.

Selama perjalanan dari Thamrin ke Bergoto saya diam terus. Kakak saya bertanya, setelah lulus nanti saya mau kerja di mana. Dia menyarankan saya kerja di Semarang saja biar bisa merawat Papa. Saya belum bisa menjawabnya.

Setelah membeli bunga, Kakak dan saya menuju makam eyang. Tampak bersih. Persis seperti pertama kali saya kemari tiga belas tahun yang lalu. Kala itu saya disuruh menghafal nama eyang putri dan eyang kakung. Ternyata saya harus membacanya di nisan eyang putri. Kalau tadi saya cukup kagum dengan diri saya sendiri karena tidak menangis di depan Papa, kini saya kalah. Melihat kedua makam eyang saya yang begitu tenang dan damai membuat tangis saya pecah. Kakak hanya bisa menepuk kepala dan pundak saya. Ia biarkan saya menangis lama, memeluk nisan eyang putri. Rindu ini, betapa besar. Saya dulu jarang bertemu beliau, tapi kami begitu dekat. Cara tertawa eyang putri menurun ke saya, terkekeh, kadang terpingkal namun tak bersuara.

Saya menangis hampir lima belas menit lamanya, mungkin lebih. Sedikit meracau, saya curhat kepada mereka tentang kondisi Papa. Berharap mereka bisa membantu. Memohonkan kepada Tuhan untuk menyelamatkan Papa, melindungi Papa. Satu-satunya putra mereka yang masih harus berjuang di dunia. Saya agak iri dengan saudara Papa yang sudah meninggal, Pakdhe Daris dan Om Innisisri atau Om Yatmo. Bukannya saya mendoakan Papa untuk cepat meninggal. Saya tak berani membayangkan betapa hancurnya saya jika suatu saat itu terjadi. Namun yang saya irikan dari om-om saya, bahwa mereka telah dipanggil Tuhan terlebih dahulu, tak perlu lagi merasakan penderitaan dunia dalam kondisi tua, sakit dan tak berdaya. Saya hanya bisa mendoakan semoga Papa diberi kenyamanan oleh Tuhan. Mungkin ini waktu dan kesempatan yang diberikan Tuhan untuk Papa, untuk menebus masa-masa yang ia lewati tanpa ibadah karena terlalu sibuk mencari nafkah. Semenjak Papa sakit, Papa jadi lebih rajin shalat. Dengan duduk tentunya. Belakangan Papa sudah tak bisa wudlu. Papa tetap shalat dengan bertayamum.

Saya taburkan hanya bunga mawar putih di makam eyang putri. Saya ingat beliau pernah berpesan pada Papa kalau nanti eyang putri meninggal, minta disekar hanya dengan bunga mawar putih. Saya menaburkan bunga mawar merah dan putih di makam eyang kakung. Saya tak pernah bertemu dengannya. Beliau meninggal jauh sebelum saya menatap dunia.

Setelah puas menangis dan mendoakan kedua eyang saya, kakak dan saya ke makam pakdhe, ayah kakak. Letaknya satu tingkat di atas makam eyang. Kali ini giliran Kakak saya yang menangis. Di antara dua besaudara,dia yang paling dekat dengan Pakdhe. Mas Ocky lebih dekat dengan Budhe. Kebetulan, suara dan wajah Kakak juga mirip Pakdhe. Saya merenung. Kami, saudara sepupu yang sempat merasa sendirian, kini bertemu lagi. Betapa ini kuasa Tuhan yang luar biasa. Saya yang sejak kecil terbiasa sebagai anak tunggal, rasanya senang sekali bisa memiliki kakak laki-laki yang melindungi dan menyayangi saya. Kami berjanji untuk saling menguatkan.

Saya pulang ke hotel, Kakak langsung ke Jatingaleh. Sampai di kamar sudah ada Mama dan petugas kebersihan hotel. Saya tunggu sampai petugas itu menyelesaikan pekerjaannya dan keluar dari kamar. Saya tutup pintu dan duduk di kasur. Mama cukup bertanya, "Piye?" dan saya ceritakan semuanya. Saya menangis lagi. Awalnya saya masih bisa bercerita sambil menangis. Sampai pada kondisi baju yang dikenakan Papa, saya tak sanggup lagi bercerita. Mama bangkit dari kursi dan memeluk saya. Saya menjerit dalam tangis. Saya menjerit bahwa pria yang saya jenguk tadi seakan bukan Papa. Papa tak pernah memelihara jenggot sepanjang itu, tak pernah mengenakan baju berlubang, tak pernah makan dan minum dari piranti yang kotor. Papa yang kuingat adalah pria yang selalu bercukur rapi, wangi, mengenakan baju rapi dan tak bertisik, rambut disisir rapi, dan makan dengan piranti bersih. Hal itu melukai saya. Betapa Mama menjaga agar saya tak pernah merasa kekurangan. Tapi Papa malah puasa setiap saat. Ini menghancurkan hati saya. Saya tahu bagaimana rasanya lapar. Membayangkan Papa setiap hari harus menahan lapar, rasanya perih sekali. Saya menangis, Mama juga menangis. Setelah tangis saya reda, Mama bilang bahwa apa yang saya lakukan tadi, dengan tidak menangis di depan Papa adalah hal terbaik yang sudah saya lakukan. Saya tak ingin Papa menangis, maka saya juga tidak menangis di depan Papa. Mama berkata bahwa saya dididik alam. Bahwa saya mengerti dan memahami kehidupan dari kondisi orang-orang di sekitar saya.

Malam cepat sekali datang. Matahari istirahat, digantikan bulan. Kakak saya datang dan kami pun kembali ke rumah Papa. Obrolan kami malam itu lebih bebas. Wanita yang tadi saya ceritakan, adalah istri Papa. Ia sedang tarawih di masjid. Papa bilang, istrinya tadi menanyakan siapa saya dan bertanya mengapa saya tidak menginap di rumah Papa. Ada sebersit harapan dalam perkataan Papa bahwa itu pertanda kalau istri Papa sudah mau menerima saya sebagai anak Papa, meski lain istri. Kunjungan saya tak bisa lama. Kakak saya harus menjemput istrinya di kantor pukul delapan malam. Saya pamitan. Saya peluk lagi Papa saya. Sempat kami berfoto bersama. Sebagai bukti bahwa saya telah mengunjunginya dan sebagai pengingat bahwa Papa kandung saya masih ada.

Sampai di kamar hotel, saya memandang langit Semarang dari jendela. Bukan hitam, tidak gelap. Melainkan bersemu merah. Pantulan dari lampu-lampu yang digunakan warga kota Semarang. Malam itu tidur saya tak nyenyak lagi. 

Catatan Semarang - Membuka Kenangan dan Membuat Kenangan (Day 1)

Butuh empat tahun bagi saya untuk akhirnya kembali kemari. Kota ini, bukan kota kelahiran saya. Bukan pula kota di mana saya dibesarkan atau menuntut ilmu. Namun ada yang mengikat sayan dengan kota ini. Kepingan-kepingan kenangan ada di sini. 

Dengan persiapan seadanya, dan secepatnya, saya ditemani Mama, menyempatkan waktu ke Semarang. Nawaitu kami adalah bertemu Papa. Saya tak berani membayangkan seperti apa kondisi Papa sekarang. Yang jelas keinginan saya untuk bertemu dengan beliau sangat besar. Sejak minggu lalu, saya sudah memesan tiket travel dan booking kamar hotel untuk dua malam. Saya menghitung hari dengan sangat tidak sabar. Anehnya sampai H-1 keberangkatan ke Semarang saya masih enggan untuk siap-siap. Meski akhirnya hari Kamis malam saya paksakan untuk packing. Itu pun sebelumnya sempat kesal karena keberangkatan Jumat pagi nyaris diundur Jumat malam karena Mama mendadak ada rapat. Namun akhirnya rapat dimajukan hari Kamis sehingga kami tetap bisa berangkat hari Jumat pagi. 

Jumat pagi, pukul 10.30 kami berangkat. Agak terkejut dengan mobil travel yang akan kami tumpangi, tampak kurang meyakinkan. Ketika berangkat, saya cukup kesal dengan sopir travel yang menyetir sambil menelepon, padahal setirannya kencang sekali. Multitasking yang riskan. Sampai di Kediri dia baru meletakkan ponselnya dan saya mulai bisa terlelap. 

Suhu panas di luar membangunkan saya. AC tak lagi mempan mendinginkan meski masih terasa sedikit-sedikit. Kami berhenti istirahat sebentar di Caruban. Tak berapa lama melanjutkan lagi perjalanan. Suhu di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah ini benar-benar panas. Kami melewati hutan yang meranggas. Pepohonan tampak kering dan kurus. Saya membayangkan bila ada pengendara motor sedang beristirahat di sini dan membuang puntung rokok sembarangan, esoknya pasti akan ada berita di media telah terjadi kebakaran hutan di kawasan Ngawi. 

Kami sampai di Sragen. Kota ini juga menyimpan kenangan bagi keluarga saya. Salah seorang Om saya tinggal di sini. Sayang beliau sudah meninggal. Kami dulu begitu dekat. 

Selepas Sragen saya mencoba untuk tidur. Berhasil. Bangun-bangun kami sudah sampai di Salatiga. Karena lewat jalan alternatif, saya jadi tak begitu mengamati keadaan di luar. Jalan di kota Salatiga biasanya membangkitkan kenangan saya juga. Saya ingat pernah berhenti di sebuah restoran di Salatiga bersama Papa dan Mama. Dan menurut saya, sampai di Salatiga artinya sudah dekat dengan Semarang. Ponsel saya tak berhenti bergetar. SMS bertubi-tubi dari Papa, kakak dan teman-teman yang menanyakan posisi saya terus berdatangan. 

Macet di Ungaran. Teman-teman memprediksikan saya sampai di hotel sekitar pukul tujuh malam. Sebenarnya bisa lebih awal. Tapi sopir mendahulukan mengantar paket-paket. Saya makin tak sabar. Apalagi kami melewati daerah Banyumanik, Semarang Atas. Tampak pabrik, truk-truk dan baliho sebuah minuman bersoda yang terkenal. Sejak kecil, apabila sudah sampai kawasan ini, artinya sebentar lagi kami sudah sampai di rumah eyang. Semakin ke bawah, saya melihat bukit dengan kerlap-kerlip lampu. Ini yang saya rindukan dari Semarang. Ini juga merupakan kepingan kenangan. 

Ternyata kami diantar paling akhir. Karena kami menginap di hotel di pusat kota, yang letaknya cukup dekat dengan kantor agen travel. Setelah check-in, saya bergegas mandi. Saya dahulukan bertemu dengan teman-teman saya. Mereka menjemput saya di hotel, malah membawakan makanan juga untuk Mama. Kami pun pergi. Teman saya ini ada empat. Mas Ardhelas, Mbak Odhiet, Meta dan Mas Luthfi. Kami berkenalan dan bersahabat dari sebuah aplikasi chatting dengan nama room Harry Potter. Kesukaan dan kecintaan kami akan Harry Potter membuat kami bersahabat sejak SMA hingga sekarang. 

Sambil digonceng Mas Luthfi, saya mengamati sekitar. Merasakan hawa Semarang yang hangat, menghirup aroma dan atmosfer Semarang yang selalu sama. Tak pernah berubah sejak dulu. Semarang merupakan ibu kota Jawa Tengah, tapi nuansanya tak pernah seperti ibu kota. Ini juga yang saya rindukan dari Semarang. 

Kami berlima makan malam sambil mengobrol. Tertawa bersama mereka selalu menyenangkan. Saya jarang ke Semarang. Dan ini kunjungan ke Semarang sambil bertemu mereka untuk pertama kali. Tapi setiap kemari saya seperti merasa pulang. Dewasa ini, keinginan saya untuk menyatukan kembali sepupu-sepupu dan kakak-kakak saya yang ‘hilang’ semakin besar. Arti keluarga bagi saya sangat luar biasa. Pulang dari makan malam, kami putar-putar terlebih dahulu. Melewati jalan besar di kawasan Simpang Lima, dan akhirnya, jalan Thamrin. 

Mas Luthfi orangnya anteng. Sepanjang memboncengkan saya, dia hanya diam. Mungkin ia mempersilakan saya reuni dengan atmosfer Semarang. Mungkin juga karena ia tak tahu harus berkata apa. Tapi begitu sampai di jalan Thamrin, ia menoleh ke belakang, ke arah saya, dan berkata, “Ini Thamrin,”. Dari awal berbelok dan memasuki jalan Thamrin, saya sudah merasakannya. Saya bisa bilang, ini jalan pulang. Sebentar lagi saya akan menggeser pintu kamar, mengganti baju dan bermain nintendo bersama Papa di depan Eyang. 

Laju motor Mas Luthfi sedikit melambat. Mata saya mencari angka 23. Nomor rumah Mbah Rayi, eyang saya. Hati saya mencelos. Tubuh saya lemas. Rumah itu sudah bukan lagi rumah. Ia berubah menjadi sebuah warung makan. Tak ada lagi pagar sepinggang. Tak ada lagi halaman luas dengan daun kering berserakan. Saya ingin berpegangan. Ingin memeluk seseorang, sekadar untuk menguatkan saya. Tapi saya hanya bisa berpegangan pada belakang motor. Pikiran saya kosong. 

Dua kali belok kami sudah sampai lagi di hotel. Melihat punggung teman-teman saya menjauh pulang, sebenarnya saya tak rela. Saya masih ingin menghabiskan waktu dengan mereka. Kalau bisa sampai pagi. Tertawa bersama mereka sangat menguatkan saya. Masih ingin keliling Semarang dengan mereka. Mengenal lebih jauh seperti apa rupa Semarang. Membandingkan wajah Semarang dulu dalam ingatan saya dengan Semarang yang sekarang. Malam itu, saya tak bisa tidur. Sekalinya bisa tidur, tidur saya tak nyenyak.

Saturday, 4 August 2012

JAPAN IN JUNE - Review

The more you travel, the more you marvel at how alike we actually all are.

Finally, baca bukunya Mami Donna lagi. Beda dari biasanya, buku mami yg kali ini gak bisa ditemuin di toko buku biasa. Coba aja ke Gramedia, tanya buku Japan in June, sama petugasnya akan ditunjukin buku mami Donna yg lain, atau lebih mungkin buku traveling ke Jepang. FYI, buku ini cuma bisa beli online di nulisbuku.com, kayak buku saya Lolipop Love *numpang promosi*.

Kira-kira buku ini berisi apa hayo? Kalo inget karya-karya mami macam Belanglicious, Kintaholic, Resep Cherry, Kotak Mimpi, Quarter Life Fear / Dilema, mungkin akan berpikiran "paling novel kayak biasanya lagi, dengan latar tempat Jepang, latar waktu bulan Juni (keliatan dari judul lah ya)." Well, tetoooot, Anda salah!! Buku ini bercerita pengalaman perjalanan Mami Donna dan Om Isman di Jepang bulan Juni 2011 lalu.

Biasanya saya suka agak males baca cerita perjalanan orang ke suatu tempat, kecuali kalo saya lagi riset karena mau ke tempat itu. Soalnya terkadang beberapa orang mereview perjalanannya dengan kurang menarik. Tapi keinginan ke Jepang sudah ada sejak dulu, dan Mami kan penulis terkenal *uhuk* yang gaya menulisnya selalu menarik untuk dibaca *uhuk lagi*. Penasaran juga, kayak apa sih seorang penulis menuliskan pengalaman travelingnya ke luar negeri? Bakal semenarik karyanya? Kita buktikan.

Dari awal baca halaman pertama udah ngebatin "It's gonna be fun!" Dan benar. Apa yang ditulis Mami Donna di sini berbeda dengan apa yang biasa orang tulis tentang Jepang. Ditambah khas Mami yang nyeletuk-nyeletuk lucu, buku ini jadi terasa bukan buku review traveling biasa (BBRTB). Nggak cuma cerita tentang 'kronologi' perjalanan Mami Donna dan Om Isman ke Jepang. Tapi juga tips-tips bepergian ke Jepang. Apa saja persiapannya, yg perlu dibawa, mengurus visa, sampai tata cara mandi di pemandian air panas dan tata cara makan di Jepang. Very usefull!! Terus ada foto-foto perjalanannya Mami. Ceritanya Mami juga aduuuuh bikin pengen ke Jepang. Itu..itu yang bikin pengen banget itu omamori (jimat) yang dijual di kuil. Katanya bisa mengabulkan permohonan. Ada yang bertuliskan minta jodoh, lulus kuliah, segera punya anak, lancar melahirkan, karir bagus, panjang umur. Kalo punya duit banyak itu aku beli semuanya .__. Ada juga cerita Mami waktu ke Disneyland. Seru banget ya kayaknya. *gigit-gigit bantal, peluk boneka Minnie*

Mami menceritakan pengalamannya dengan cukup mendetail, menyebutkan nama-nama makanan yang disantapnya selama perjalanan, rute perjalanan, informasi mendalam tentang suatu hal (sushi misalnya) dan banyak lagi. Nggak cuma rute perjalanan macam : hari pertama kami ke sini, lalu ke sini, trus ke sana. kami beli ini, itu, inu. Kalo saya sebutin di sini nanti jadi spoiler dong. Hihihi.

Yang jelas, ini bukan buku review traveling biasa (BBRTB). Belinya aja di tempat khusus, di nulisbuku.com. Apalagi saya dapetnya eksklusif juga, dapet tanda tangan looooh. *pamer* *ditimpuk*

Kalo saya baca buku ini saya jadi penasaran dan pengen ke Jepang, semoga review saya ini bikin penasaran dan pengen beli bukunya mami Donna. Ingat! Hanya di nulisbuku.com, bukan di tempat lain *suara iklan penjual alat kebugaran*

ITADAKIMAAAASU


ini dalemnya. fotonya berwarna uy!


Thursday, 2 August 2012

Klenteng Merah

Imlek. Tahun Baru Cina. Semua warga keturunan Tiong Hoa berduyun-duyun ke klenteng. Ramai-ramai mereka berdoa agar tahun ini penuh berkah. Apalagi ini tahun Naga. Naga dipercaya sebagai dewa yang membawa keberuntungan. Tapi, menjelang tahun baru ini sama sekali tak dirasakan hujan dan angin yang mendekati badai. Ini malah membuat para warga keturunan Cina gelisah. Tak ada angin dan tak ada hujan artinya susah mencari rejeki selama setahun mendatang. Pertunjukkan barongsai digelar semalam suntuk. Para biksu dan warga berdoa dengan khusyuk. Yang lain menonton barongsai atau duduk diam dirumah masing-masing sambil menatap langit. Berharap hujan dan angin segera datang ke bumi. 

Ni O menatap klenteng di depan rumahnya. Klenteng kini ramai dikunjungi warga, tidak hanya warga keturunan tapi juga warga lokal. Menyaksikan barongsai. Seperti tiada lelah, pemain barongsai itu terus menerus menari di balik kostum barongsai, mengedip-kedipkan mata dengan genit dan mengundang tawa. Lampion-lampion terus menyala. Ornamen naga raksasa di depan klenteng tampak gagah dan indah. Suka cita itu tak sampai di hati Ni O. Entah mengapa ia tak menikmati malam pergantian tahun Cina ini. Biasanya ia akan semalaman di klenteng. Setelah sembahyang ia akan membantu ibu-ibu di sana atau bergosip dengan para remaja. Atau bercanda dengan Han Wen, teman sejak kecilnya. 

Dari kejauhan Ni O bisa melihat Han Wen berkeringat di balik kostum barongsai warna kuning. Biasanya Ni O akan melemparkan handuk ke muka Han Wen sambil menyodorkan sebotol air mineral. Lalu Han Wen akan menjepit dirinya dengan mulut barongsai. Dan mereka tertawa bersama. Tapi kali ini tidak. 

Ni O berbaring lagi di kasurnya. Menatap langit-langit. Menyusuri garis kecoklatan bekas bocor di sana. Panjang, meliuk, seperti tubuh naga. Kamarnya bau Hio. Setengah jam yang lalu ibunya berdoa di kamarnya, sebenarnya di setiap ruangan di rumah ini. Ni O pura-pura tidur agar tidak mengganggu ibunya. Dan juga agar ia tak disuruh ke klenteng. Bukannya malas. Ia hanya sedang tidak bersemangat. 

Tiba-tiba jam besar di ruang tengah berdentang. Dua belas kali. Sudah ganti tahun. Ni O mendengar sorak sorai di klenteng. Tetapi ia juga mendengar suara tangis kecemasan samar-samar. Suara nyanyian seorang wanita menelusup di telinganya. Ni O diam, menajamkan pendengarannya. Nyanyian itu masih ada, namun kemudian hilang. Ni O duduk di kasurnya dan menatap klenteng dari jendela. Tak ada yang menyadari, mata naga raksasa itu bersinar sekejap tepat ke mata Ni O. 

Tuesday, 24 July 2012

Malang Moslem Fair 2012

Three days ago I was busy with an event by Hijabers Malang at MX mall. Called Malang Moslem Fair 2012, it was held from 20th July - 22nd July. There were a fashion bazaar from Zoya, Wardah, Amanda Brownies, Butik Mungil, Queen Mozza, and communities bazaar from Rumah Zakat, PAY Malang, Hijabers Mom Community Malang and Corat-Coret community.

First day of the fair, there were a performances from HM voice and kids fashion show. Not too much people came. But it was fun, still. The second day was the busiest day. There were a hijab clinic by Zoya and beauty clinic by Wardah. People who came got a goodie bag from Zoya. Who would like to missed them? =)
Almost a hundred people came for this day. There was a fashion parade / fashion show too. I would say, the second day was a fashion day. But sooooo rushed hour!!! Where were the people when we need? However, the show must go on and that were I and my friends did. So tired, so emotionally, but thank's God it's done.

What a surprised!!! I become a MC at the third day. And it was fun. I should thinking to make it as my job. Hahaha. I was thinking, the program at the third day was not too interested for the people. Because what they waited for has done in the second day!!! However we still had some program at the third day and we finished it nicely. Such as Hijab Creation Competition by Hijabers Mom Community, socialization by PAY (Pecinta Anak Yatim) Malang, tausiyah by Ustadz Hendra from PPPA, and hadrah performance. Well, I would like to say I'm proud to be a part of this event. I have learn many things, like handling event, how to publishing event, how to work on team, and also get many new friends :)

Here they are the pictures!!

me and Willy on duty
one of the wedding dress collection. the model is my college friend, Firda
me, Ima, Frili after the show. second day
Baim Maulana. He made a mini album for charity. Great idea, amazing voice!!
Luckyta as a model at hijab clinic by Zoya
Here they are HM voices

why I look so tired here??? O_o
Lya, the President of Hijabers Malang
here's the models
the models, not including the little girl =))
with one of the model, Kiky
with Amel, one of the committee
the MC is ME!!!! XD

me on stage!! \(^o^)/

tausiyah by Ust. Hendra from PPPA

actually I don't want to post this picture. Can you find something wrong here? :|

here too :|

hadrah performance
my outfit on the first day

For further photos, especially the fashion show photos, please check my fashion blog ANINDSENSE. =)

Tuesday, 10 July 2012

Redup

Hampir setahun sejak pertemuan pertamaku dengannya. Samar-samar aku ingat wajahnya, senyumnya. Bagaimana ia serius ketika bekerja, alisnya yang bertaut tanda ia sedang berpikir. Kegesitannya, emosinya, keceriaannya. Namun dalam pertemuan pertamaku itu perhatianku tak hanya tertuju padanya. Ada yang lain, yang tak teraih, namun membekas di hati. Kesederhanaannya, kedewasaannya, ketenangannya. Mereka berdua berbeda. Mereka berdua bersahabat.

**

Aku berjanji bertemu dengannya pagi ini. Kupersiapkan diriku sebaik mungkin. Aku tak sabar ingin melihatnya. Apakah dia juga? Lama tak bertemu, berubah kah dia? Sebenarnya ada saat kami bertemu kembali setelah pertemuan pertama kami. Tapi aku tak pernah punya nyali untuk mendekatinya. Seperti biasa dia tampak ceria. Akan kah ia menebar senyum cerianya lagi?

Aku menghubunginya. Ia membalas posisi dia sekarang. Aku sengaja mengulur waktu sedikit meskipun jarakku sudah dekat dengannya. Menata hati. Dan akhirnya aku menemukannya. Duduk bersila di hadapan sebuah laptop. Tampak serius seperti biasa. Namun ada ceria di matanya, dan seulas senyum di bibirnya. Cantik. Tapi kenapa dadaku berhenti bergemuruh? Ada yang salah. Bukan, bukan dari dia. Dariku kah?

Aku berjalan di depannya. Ia tak menyadari kehadiranku. Lalu aku menghempaskan tubuhku di sebelahnya, ia menoleh dan aku langsung disambut senyum lebarnya. Sejenak kami sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Hampir dua jam, kalau itu bisa dibilang sejenak. Aku meliriknya. Astaga, ia melihatku! Dengan matanya yang bulat besar, senyum mengembang di wajahnya yang makin lebar ketika aku menyadari bahwa ia melihatku. Laptopnya sudah ditutup.

"Sudah selesai?" tanyaku. Ia mengangguk. Tapi ia tak beranjak dari duduknya. Ia tampak bosan. Aku....entah kenapa aku tak bisa memberikan inisiatif. Otakku sepertinya berhenti berkreasi. Andai saja aku bisa membaca apa yang ada di pikirannya. Senang kah dia bertemu aku? Atau jemu? Jangan-jangan dia juga berpikir sama sepertiku. Ini di luar ekspektasiku!!

Bukan...bukan dia yang salah. Dia tampak menyenangkan, seperti biasa. Hanya saja, setelah bertemu dengannya, semangat yang tadinya ada mendadak menguap. Entah kenapa. Biasa saja.  Aku paksakan untuk berbicara. Menanyakan kesehariannya. Ceritanya menyenangkan. Beberapa hal membuatku terpingkal. Tapi kemudian ada jeda setelah tawa. Ada hening setelah ramai. Mungkin aku jahat. Tapi aku malah ingin bertemu dengan yang lain. Ingin melihat ketenangannya. Keteduhannya. Yang bisa menyeimbangkan sinar menyilaukan.

Akhirnya aku menyerah. Kami pun pulang. Tak ada indikasi pertemuan akan diteruskan. Tak ada yang berkata "Senang bertemu denganmu" atau semacamnya. Hanya saling bertukar senyum, saling melambai, lalu pulang ke arah masing-masing. Hanya demikian. Singkat saja. Seandainya tadi aku berani, mungkin aku akan menambahkan kata "maaf" setelah kata "terima kasih".

Monday, 2 July 2012

Finding You Again - Part II

Aku yakin itu cuma delusiku. Rindu yang berlebihan dan tak tertuntaskan. Malah menyiksaku di awal. Karena seperti candu pada narkotika. Aromanya terus ada di otakku, mendorongku untuk terus menghubunginya tapi tahu bahwa itu sedikit tak beretika. Yang pada akhirnya hanya membuatku menelan kerinduan luar biasa dan keinginan akan menyurukkan kepalaku ke lengannya, ke lengkungan lehernya. Menghirup aromanya. Menyimpannya dalam dada.

Aku menoleh kesana kemari mencari sumber aroma. Aku tak beranjak. Di depanku memang ada pria, tapi bukan dia. Diam-diam aku menarik nafas dengan dalam. Melebarkan diafragma, memperluas ruang dalam paru-paru. Ya, itu aromanya. Tapi sumbernya dari pria di depanku ini. Aku tak mengenalnya, jelas. Penampilannya biasa saja. Tapi cukup menarik. Mungkin kalau di novel-novel, sang penulis akan membuat si tokoh nekat berkenalan, atau tak sengaja menabrak, atau kemungkinan-kemungkinan lain yang aneh. Yang akan sangat membuatku gugup dan tampak konyol jika benar-benar melakukannya.

Terlalu fokus pada aroma itu membuatku tak sadar kalau aku berdiri di tengah jalan. Seorang wanita gemuk menabrakku, membuatku jatuh menabrak punggung pria beraroma sama itu. Wanita itu terus berjalan sambil mengomel. Dan aku mengucapkan kata maaf bertubi-tubi pada pria yang kutubruk. Mampus. Tubrukan itu membuatku makin terperangkap pada wanginya. Oh, good, this is really like at the novel.

"Maaf, mas. Maaf, ya. Nggak sengaja,"
"Nggak apa-apa, nggak apa-apa," balasnya pelan.
Aku bangkit dan mencari bukuku. Tubrukan kami tadi juga menyenggol tumpukan buku dan membuatnya berantakan.
"Aduh, bukuku mana ya?" gumamku sambil mencari di antara buku-buku yang berserakan, sambil menatanya asal saja.
"Ini?" tanya pria itu sambil memberikan buku warna hijau yang tadi kupegang.
"Ah, iya, bener. Makasih ya, maaf," kataku sambil meraihnya dan buru-buru ke kasir. Setelah membayar buku, buru-buru aku keluar toko buku dan ke parkiran. Dan mendadak wajahku pias. Kunci motorku di mana ya?
"Nyari ini?" tanya seseorang sambil nyodorin kunci motorku.
"Ya ampun, makasih, maaf ya mas," dia lagi. Please, aku pengen cepet pergi dari sini sebelum aku menubruknya lagi dengan alasan yang lain.

****


Kuhirup aroma kopi hitam di genggamanku. Banyak yang bilang bau kopi bisa menetralisir indra penciuman. Kusesap cairan hitam pekat mengepul itu, meyakinkan aroma parfum di toko buku yang membuatku gugup tadi bisa hilang tidak hanya di rongga hidung dan paru-paruku, tapi juga dari indra pengecapku. Hangatnya kopi dan aromanya yang kuat sedikit merilekskan pikiranku, juga mengurangi kegugupan dan gemetar badanku.

Aroma parfum itu, sudah lama aku tak menghirupnya. Setelah aku memutuskan untuk mengambil beasiswa satu semester di luar negeri. Saat aku pulang ia tak lagi ada di sini. Tak lagi ada untuk menenangkanku. Dan baru saja aroma yang sama persis menguar dari pribadi yang berbeda. Semestinya nuansanya juga berbeda. Tapi ini.....sama persis seperti dia. Aku bisa saja membeli parfum yang sama. Memuaskan rinduku dengan menghirup aroma parfumnya dari botolnya. Tapi tak akan sama. Panas tubuhnya membuat aroma itu menjadi khas. Aroma yang mencandukan.

"Nina!!!" seru seseorang memanggilku. Kakak!
"Nina, kamu kenapa? Kata tetangga sebelah kamu pulang gemetaran,"
"Aku...bau itu...parfum itu, kak. Aku mencium bau parfum itu lagi," kataku. Kakakku terdiam.
"Di mana? Di mana kamu bertemu dia?" tanya kakakku.
"Di toko buku. Tapi itu bukan dia. Hanya bau parfumnya saja yang sama. Tapi baunya sama persis. Mestinya beda, karena panas tubuhnya beda. Tapi sama, kak," cerocosku.
"Sssst...sudah..sudah. Kamu udah di rumah. Nggak apa-apa, ada kakak," kata kakakku sambil memelukku.

****

to be continue

Sunday, 1 July 2012

Finding You Again - Part I

Hidupku sepertinya memang hanya untuk buku. Mencariku? Susurilah rak-rak buku di perpustakaan, atau di antara tumpukan buku baru di toko buku. Masih tak mendapatiku? Cari saja cafe dekat situ, maka kau akan mendapatiku sedang duduk di sudut, dengan buku di tangan dan secangkir kopi panas mengepul di meja hadapanku.

Tampak seperti karakter novel, eh? Novel metropop yang menyuguhkan cerita wanita perkotaan, dengan kesibukannya dan cerita cintanya. Kuakui novel-novel semacam itu agak mempengaruhiku. Bukan dari semangatnya dalam menunggu pria perlente menawarkan cinta. Tapi dari kehidupannya yang tampak menyenangkan. Mandiri, berkelas, dan klasik.

Namun aku juga tak menolak cerita berlatar Eropa abad pertengahan. Di mana korset, rok mengembang, sepatu balerina, rambut kriwil ditata apik dan payung berenda merupakan tren di masa itu. Saat pesta dansa digelar di mana-mana. Mencuri pandang pada para pemuda berjas dan bertopi tinggi. Berdansa dengan salah satu di antara mereka. Lalu saling mengirim surat, dan akhirnya menikah dengannya. Tanpa tarik ulur perkenalan yang memakan waktu dan energi seperti jaman sekarang. Segalanya terlihat elegan, berkelas, dan jelas.

Hari ini, dengan tekat bulat aku bersemangat ke toko buku. Niatku mencari buku untuk bahan risetku. Tapi berlama-lama di toko buku, meski hanya melihat-lihat tetap menjadi hobiku. Untuk yang satu ini aku lebih suka berangkat sendiri. Saat aku menemukan duniaku. Saat aku menghirup dalam-dalam aroma lembaran kertas buku baru. Membaca lima halaman awalnya. Membelai sampulnya. Tak perlu dulu uang banyak, begitu saja aku sudah senang.

Setelah menemukan buku yang aku cari, aku tak langsung ke kasir. Aku jalan-jalan dulu ke rak buku novel dan komik. Melihat-lihat novel baru. Membaca sekilas buku yang segelnya sudah terbuka. Saat melintasi rak buku komik mendadak kakiku mengerem. Ada aroma familier menguar di daerah itu. Bukan aroma buku baru. Tapi aroma yang aku rindu.

continued at Finding You Again - part II

Saturday, 30 June 2012

Jakarta, Second Flash Trip of This Year

Came to Jakarta again!! Actually this trip was to helped my mom for her meeting. But she allowed me to came first before her. She must came at Monday, 25th June and went home at Wednesday, 27th June. I arrived at Jakarta at Saturday, 23rd June and went home at Friday, 29th June.
It was fun because besides I helped my mom in her meeting, I met my friends too! (and bought some things XP)

23rd June
I arrived at Soekarno-Hatta Airport at around 14:30 WIB and I straight to met Opa Charles at Seven Eleven in front of TipTop. At 18:00 WIB I came to my aunt house and take a rest.



24th June
Goes to Plaza Semanggi and met Farah Soraya!! Couldn't linger to met her because she came with her friends after attended to wedding party and I hunted a pair of flat shoes!

with Farah Soraya

25th June
My mom arrived and I join her at night. I went to met my other Plurk friends first, Kak Achy a.ka @blacklily and Icha a.k.a @ichawashere. We met at Arion Mall, took a dinner at Warung Pasta. Then I continued to my aunt's work place. My stomach felt so full!! After dinner at Warung Pasta, I took some dessert at my aunt's work place. Gosh, please forgive me for too much ate at that night. T_T
After my aunt finished her work, we went together to my mom's hotel. And I started to work. I hate the elevator. It smells orange and was shaking. I got a headache there. :/

@blacklily, me and @ichawashere. do we have a same smile?

take a pict at Fiesta Restaurant, Sari Pan Pacific Hotel, while waiting for my aunt.

my desserts
27th June
Finally the meeting is over. My mom should went home at that Wednesday but I can went home at Friday. So I accompany her to the airport. We stopped at ITC Mangga Dua first and hunted some things. Muehehe. At the airport we got a lunch. After she flight, I went to my my aunt's house again.

with my little brother. many people said that we have same face. muahahah.

my sister and my little brother

here we are, Moestadibya's family <3

the sisters X3

finally I bought this bangles!!! So vintage!!

28th June
After a very long and tired day yesterday, I choose to took a rest at this day. But I met my Plurk friends at the night and went home together with my aunt. Lovely night! We made a little surprise for the birthday girl, Fitria. So happy to met them all. <3





the birthday girl, Fitria.

here we are! Mimi, me, Aksa, Alif, Fitria, Astrid.

got a cookies from Fitria :*



with Alif


with Aksa

with Kacid

between the boys!!!