Tuesday, 24 July 2012

Malang Moslem Fair 2012

Three days ago I was busy with an event by Hijabers Malang at MX mall. Called Malang Moslem Fair 2012, it was held from 20th July - 22nd July. There were a fashion bazaar from Zoya, Wardah, Amanda Brownies, Butik Mungil, Queen Mozza, and communities bazaar from Rumah Zakat, PAY Malang, Hijabers Mom Community Malang and Corat-Coret community.

First day of the fair, there were a performances from HM voice and kids fashion show. Not too much people came. But it was fun, still. The second day was the busiest day. There were a hijab clinic by Zoya and beauty clinic by Wardah. People who came got a goodie bag from Zoya. Who would like to missed them? =)
Almost a hundred people came for this day. There was a fashion parade / fashion show too. I would say, the second day was a fashion day. But sooooo rushed hour!!! Where were the people when we need? However, the show must go on and that were I and my friends did. So tired, so emotionally, but thank's God it's done.

What a surprised!!! I become a MC at the third day. And it was fun. I should thinking to make it as my job. Hahaha. I was thinking, the program at the third day was not too interested for the people. Because what they waited for has done in the second day!!! However we still had some program at the third day and we finished it nicely. Such as Hijab Creation Competition by Hijabers Mom Community, socialization by PAY (Pecinta Anak Yatim) Malang, tausiyah by Ustadz Hendra from PPPA, and hadrah performance. Well, I would like to say I'm proud to be a part of this event. I have learn many things, like handling event, how to publishing event, how to work on team, and also get many new friends :)

Here they are the pictures!!

me and Willy on duty
one of the wedding dress collection. the model is my college friend, Firda
me, Ima, Frili after the show. second day
Baim Maulana. He made a mini album for charity. Great idea, amazing voice!!
Luckyta as a model at hijab clinic by Zoya
Here they are HM voices

why I look so tired here??? O_o
Lya, the President of Hijabers Malang
here's the models
the models, not including the little girl =))
with one of the model, Kiky
with Amel, one of the committee
the MC is ME!!!! XD

me on stage!! \(^o^)/

tausiyah by Ust. Hendra from PPPA

actually I don't want to post this picture. Can you find something wrong here? :|

here too :|

hadrah performance
my outfit on the first day

For further photos, especially the fashion show photos, please check my fashion blog ANINDSENSE. =)

Tuesday, 10 July 2012

Redup

Hampir setahun sejak pertemuan pertamaku dengannya. Samar-samar aku ingat wajahnya, senyumnya. Bagaimana ia serius ketika bekerja, alisnya yang bertaut tanda ia sedang berpikir. Kegesitannya, emosinya, keceriaannya. Namun dalam pertemuan pertamaku itu perhatianku tak hanya tertuju padanya. Ada yang lain, yang tak teraih, namun membekas di hati. Kesederhanaannya, kedewasaannya, ketenangannya. Mereka berdua berbeda. Mereka berdua bersahabat.

**

Aku berjanji bertemu dengannya pagi ini. Kupersiapkan diriku sebaik mungkin. Aku tak sabar ingin melihatnya. Apakah dia juga? Lama tak bertemu, berubah kah dia? Sebenarnya ada saat kami bertemu kembali setelah pertemuan pertama kami. Tapi aku tak pernah punya nyali untuk mendekatinya. Seperti biasa dia tampak ceria. Akan kah ia menebar senyum cerianya lagi?

Aku menghubunginya. Ia membalas posisi dia sekarang. Aku sengaja mengulur waktu sedikit meskipun jarakku sudah dekat dengannya. Menata hati. Dan akhirnya aku menemukannya. Duduk bersila di hadapan sebuah laptop. Tampak serius seperti biasa. Namun ada ceria di matanya, dan seulas senyum di bibirnya. Cantik. Tapi kenapa dadaku berhenti bergemuruh? Ada yang salah. Bukan, bukan dari dia. Dariku kah?

Aku berjalan di depannya. Ia tak menyadari kehadiranku. Lalu aku menghempaskan tubuhku di sebelahnya, ia menoleh dan aku langsung disambut senyum lebarnya. Sejenak kami sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Hampir dua jam, kalau itu bisa dibilang sejenak. Aku meliriknya. Astaga, ia melihatku! Dengan matanya yang bulat besar, senyum mengembang di wajahnya yang makin lebar ketika aku menyadari bahwa ia melihatku. Laptopnya sudah ditutup.

"Sudah selesai?" tanyaku. Ia mengangguk. Tapi ia tak beranjak dari duduknya. Ia tampak bosan. Aku....entah kenapa aku tak bisa memberikan inisiatif. Otakku sepertinya berhenti berkreasi. Andai saja aku bisa membaca apa yang ada di pikirannya. Senang kah dia bertemu aku? Atau jemu? Jangan-jangan dia juga berpikir sama sepertiku. Ini di luar ekspektasiku!!

Bukan...bukan dia yang salah. Dia tampak menyenangkan, seperti biasa. Hanya saja, setelah bertemu dengannya, semangat yang tadinya ada mendadak menguap. Entah kenapa. Biasa saja.  Aku paksakan untuk berbicara. Menanyakan kesehariannya. Ceritanya menyenangkan. Beberapa hal membuatku terpingkal. Tapi kemudian ada jeda setelah tawa. Ada hening setelah ramai. Mungkin aku jahat. Tapi aku malah ingin bertemu dengan yang lain. Ingin melihat ketenangannya. Keteduhannya. Yang bisa menyeimbangkan sinar menyilaukan.

Akhirnya aku menyerah. Kami pun pulang. Tak ada indikasi pertemuan akan diteruskan. Tak ada yang berkata "Senang bertemu denganmu" atau semacamnya. Hanya saling bertukar senyum, saling melambai, lalu pulang ke arah masing-masing. Hanya demikian. Singkat saja. Seandainya tadi aku berani, mungkin aku akan menambahkan kata "maaf" setelah kata "terima kasih".

Monday, 2 July 2012

Finding You Again - Part II

Aku yakin itu cuma delusiku. Rindu yang berlebihan dan tak tertuntaskan. Malah menyiksaku di awal. Karena seperti candu pada narkotika. Aromanya terus ada di otakku, mendorongku untuk terus menghubunginya tapi tahu bahwa itu sedikit tak beretika. Yang pada akhirnya hanya membuatku menelan kerinduan luar biasa dan keinginan akan menyurukkan kepalaku ke lengannya, ke lengkungan lehernya. Menghirup aromanya. Menyimpannya dalam dada.

Aku menoleh kesana kemari mencari sumber aroma. Aku tak beranjak. Di depanku memang ada pria, tapi bukan dia. Diam-diam aku menarik nafas dengan dalam. Melebarkan diafragma, memperluas ruang dalam paru-paru. Ya, itu aromanya. Tapi sumbernya dari pria di depanku ini. Aku tak mengenalnya, jelas. Penampilannya biasa saja. Tapi cukup menarik. Mungkin kalau di novel-novel, sang penulis akan membuat si tokoh nekat berkenalan, atau tak sengaja menabrak, atau kemungkinan-kemungkinan lain yang aneh. Yang akan sangat membuatku gugup dan tampak konyol jika benar-benar melakukannya.

Terlalu fokus pada aroma itu membuatku tak sadar kalau aku berdiri di tengah jalan. Seorang wanita gemuk menabrakku, membuatku jatuh menabrak punggung pria beraroma sama itu. Wanita itu terus berjalan sambil mengomel. Dan aku mengucapkan kata maaf bertubi-tubi pada pria yang kutubruk. Mampus. Tubrukan itu membuatku makin terperangkap pada wanginya. Oh, good, this is really like at the novel.

"Maaf, mas. Maaf, ya. Nggak sengaja,"
"Nggak apa-apa, nggak apa-apa," balasnya pelan.
Aku bangkit dan mencari bukuku. Tubrukan kami tadi juga menyenggol tumpukan buku dan membuatnya berantakan.
"Aduh, bukuku mana ya?" gumamku sambil mencari di antara buku-buku yang berserakan, sambil menatanya asal saja.
"Ini?" tanya pria itu sambil memberikan buku warna hijau yang tadi kupegang.
"Ah, iya, bener. Makasih ya, maaf," kataku sambil meraihnya dan buru-buru ke kasir. Setelah membayar buku, buru-buru aku keluar toko buku dan ke parkiran. Dan mendadak wajahku pias. Kunci motorku di mana ya?
"Nyari ini?" tanya seseorang sambil nyodorin kunci motorku.
"Ya ampun, makasih, maaf ya mas," dia lagi. Please, aku pengen cepet pergi dari sini sebelum aku menubruknya lagi dengan alasan yang lain.

****


Kuhirup aroma kopi hitam di genggamanku. Banyak yang bilang bau kopi bisa menetralisir indra penciuman. Kusesap cairan hitam pekat mengepul itu, meyakinkan aroma parfum di toko buku yang membuatku gugup tadi bisa hilang tidak hanya di rongga hidung dan paru-paruku, tapi juga dari indra pengecapku. Hangatnya kopi dan aromanya yang kuat sedikit merilekskan pikiranku, juga mengurangi kegugupan dan gemetar badanku.

Aroma parfum itu, sudah lama aku tak menghirupnya. Setelah aku memutuskan untuk mengambil beasiswa satu semester di luar negeri. Saat aku pulang ia tak lagi ada di sini. Tak lagi ada untuk menenangkanku. Dan baru saja aroma yang sama persis menguar dari pribadi yang berbeda. Semestinya nuansanya juga berbeda. Tapi ini.....sama persis seperti dia. Aku bisa saja membeli parfum yang sama. Memuaskan rinduku dengan menghirup aroma parfumnya dari botolnya. Tapi tak akan sama. Panas tubuhnya membuat aroma itu menjadi khas. Aroma yang mencandukan.

"Nina!!!" seru seseorang memanggilku. Kakak!
"Nina, kamu kenapa? Kata tetangga sebelah kamu pulang gemetaran,"
"Aku...bau itu...parfum itu, kak. Aku mencium bau parfum itu lagi," kataku. Kakakku terdiam.
"Di mana? Di mana kamu bertemu dia?" tanya kakakku.
"Di toko buku. Tapi itu bukan dia. Hanya bau parfumnya saja yang sama. Tapi baunya sama persis. Mestinya beda, karena panas tubuhnya beda. Tapi sama, kak," cerocosku.
"Sssst...sudah..sudah. Kamu udah di rumah. Nggak apa-apa, ada kakak," kata kakakku sambil memelukku.

****

to be continue

Sunday, 1 July 2012

Finding You Again - Part I

Hidupku sepertinya memang hanya untuk buku. Mencariku? Susurilah rak-rak buku di perpustakaan, atau di antara tumpukan buku baru di toko buku. Masih tak mendapatiku? Cari saja cafe dekat situ, maka kau akan mendapatiku sedang duduk di sudut, dengan buku di tangan dan secangkir kopi panas mengepul di meja hadapanku.

Tampak seperti karakter novel, eh? Novel metropop yang menyuguhkan cerita wanita perkotaan, dengan kesibukannya dan cerita cintanya. Kuakui novel-novel semacam itu agak mempengaruhiku. Bukan dari semangatnya dalam menunggu pria perlente menawarkan cinta. Tapi dari kehidupannya yang tampak menyenangkan. Mandiri, berkelas, dan klasik.

Namun aku juga tak menolak cerita berlatar Eropa abad pertengahan. Di mana korset, rok mengembang, sepatu balerina, rambut kriwil ditata apik dan payung berenda merupakan tren di masa itu. Saat pesta dansa digelar di mana-mana. Mencuri pandang pada para pemuda berjas dan bertopi tinggi. Berdansa dengan salah satu di antara mereka. Lalu saling mengirim surat, dan akhirnya menikah dengannya. Tanpa tarik ulur perkenalan yang memakan waktu dan energi seperti jaman sekarang. Segalanya terlihat elegan, berkelas, dan jelas.

Hari ini, dengan tekat bulat aku bersemangat ke toko buku. Niatku mencari buku untuk bahan risetku. Tapi berlama-lama di toko buku, meski hanya melihat-lihat tetap menjadi hobiku. Untuk yang satu ini aku lebih suka berangkat sendiri. Saat aku menemukan duniaku. Saat aku menghirup dalam-dalam aroma lembaran kertas buku baru. Membaca lima halaman awalnya. Membelai sampulnya. Tak perlu dulu uang banyak, begitu saja aku sudah senang.

Setelah menemukan buku yang aku cari, aku tak langsung ke kasir. Aku jalan-jalan dulu ke rak buku novel dan komik. Melihat-lihat novel baru. Membaca sekilas buku yang segelnya sudah terbuka. Saat melintasi rak buku komik mendadak kakiku mengerem. Ada aroma familier menguar di daerah itu. Bukan aroma buku baru. Tapi aroma yang aku rindu.

continued at Finding You Again - part II