Thursday, 22 December 2011

It's not always November Rain

a gift from Primadonna Angela

all the gift, from Atrianic and Primadonna Angela

finally I post my pictures with the gifts! Three books at once! This is a perfect evidence that it's not always November Rain :3

P.S : I think about making my picture logo. It's time to playing with my "crayons"! :D

Wednesday, 21 December 2011

Ghost of You

I keep repeating this song today. Just found it randomly. I read the lyric and felt that it almost same with what I feel right now. I like this part :

And I'll never be like I was
The day I met you
Too naive, yes I was
Boy that's why I let you win
Wear your memory like a stain
Can't erase or numb the pain
Here to stay with me forever
and


One of these days
I'll wake up from this bad dream I'm dreaming
One of these days
I'll pray that I'll be over, over, over you
One of these days
I'll realize that I'm so tired of feeling confused
But for now there's a reason that
You're still here in my heart
Gosh, I feel so gloomy just because of that chat. Maybe that's why I think that this song is really represent me.

The Winner!

Never mean to arrogant, this is because I'm so happy. Last month I won two book quizes! One from Primadonna Angela, the author of Belanglicious and Resep Cherry. I won her newest book, Satsuki Sensei (with my name inside!). Then I won a review quiz from Atria, the young-adult publisher because I review one of their book, Prada and Prejudice.
Then, this month, TODAY, I win a pashmina from @hijabersmalang, Twitter account of hijabers malang community. Actually I'm the one of their member, but I win not because of it (I'm not sure they know me well).
Photo's later. I must prepare it all so you know that I'm soooo happy with it! :D

Monday, 19 December 2011

The Chat!

Too much sadness, too much tears, but that's the part of growing up. People teach you how to face the world. Just like me. When you're falling in love then you break up. Then you fighting with your ex, then you befriend with them again. You try to build back those relationship but they wont. Then you accept it and you enjoy it all. You shout out loud that you've move on but you're not. You realizing that you're still in the same place. Stuck. You still hoping that your ex would come back and say love you again. You sing the melody that you happy for them when they find a new relationship but in the deepest of your heart you crying.

This is really happened to me. I thought that I've move on. But I wake up and asking my self, what is move on exactly? What a fool, I don't know it. I thought that I forget and forgive him. But I'm still feel that heartbeat when he called me, when he texted me, when I met him. I screamed when I saw his picture with his new GF.

Just like Inception, I save the deepest memory about us. I thought that he forget it all. But I knew, he's not. It's proven by chat this morning between us :

Him : where are you now?
Me   : at my boarding house. why?
Him : don't you go home?
Me   : nope. I'm just went back home twice a week.
Him : that sounds great.
Me   : great? I'm tired..
Him : oh, so you have tired too?
Me   : that sounds sarcasm :S
Him : :)

That means a loooooot for me. Why? We broke up because he felt that I was too busy, seems like I didn't have tired. He felt that I couldn't make a time for him, just us two. I tried. But sometimes I really enjoy my rush. With that oh so you have tired too sentences means that he still remember my habit, my passion, the reason why we broke up. And that :) means that he hide something about us FOR YEARS! From this, I know that I didn't know him much. He looks like he don't care with anything. He looks like he don't wanna think about it. He looks like he forget it all. But he's not....

Saturday, 17 December 2011

Why I hate Smokers and Cigarettes

Ayah Perokok, Anak Beresiko Leukimia

Membaca artikel di atas, saya hanya bisa tersenyum. Saya juga pernah menjadi korban akibat menjadi perokok pasif. Dulu, di keluarga saya, Papa dan Om saya perokok berat. Papa yang berprofesi sebagai arsitek tentu suka lembur ditemani rokok dan kopi. Gaya hidup kurang sehat di Jakarta yang dianutnya membuat kadar kolesterol dan tekanan darahnya meninggi.

Ketika saya masih berumur 16 hari, saya terpaksa diopname karena tubuh saya membiru. Penyebabnya klep jantung saya tidak mau menutup, yang membuat darah kotor dan darah bersih tercampur. Beruntung saya tertolong. Umur 10 tahun saya sering merasa sesak nafas, pingsan saat upacara dan berat badan saya tidak sesuai, sangat kurus (23kg kala itu). Ketika diperiksa ternyata itu semacam "lanjutan" dari sakit saya dulu. Saya harus minum obat setiap pagi selama dua tahun. Alhamdulillah ketika saya SMP saya dinyatakan sembuh total, berat badan mulai stabil sesuai umur dan tinggi, tidak gampang pingsan dan tidak lagi sesak nafas.

Penyebab utama semua itu? Karena Papa saya perokok. Rokok mempengaruhi kualitas sperma seorang pria, membuatnya menjadi rusak. Sperma rusak ini masih bisa membuahi ovum, tetapi akan berpengaruh pada keturunannya. Papa saya kemudian berhenti merokok ketika terserang stroke sekitar sepuluh tahun lalu. Ayah tiri saya juga perokok berat, berhenti pada tahun 2006. Tetapi hal itu tidak membuatnya luput menderita jantung koroner. Agustus lalu beliau masuk rumah sakit sampai dua kali. Kini beliau sudah berangsur membaik, tetapi harus meminum obat jantung seumur hidupnya.

Pertanyaanya, masihkah anda, para perokok, ingin meneruskan "hobi" merokok anda? :)

Friday, 16 December 2011

Buku, Gambar, Tulis, Aku dan Mama

Sejak kecil aku dibiasakan suka membaca. Mama langganan majalah Bobo, Papa membelikan banyak buku, Tanteku juga. Dari membaca itu imajinasiku jadi luas.
Mungkin hal itu menjadi 'bumerang' bagi Mama. Karena aku suka membaca, aku jadi ingin beli banyak buku. Buat Mama nggak masalah kalo buku yang aku inginkan itu buku pelajaran, tapi sayangnya yang ku inginkan itu buku cerita, novel, komik dan semacamnya. Menurut Mama, buku-buku seperti itu nggak bikin pintar. Dan lebih baik aku menggunakan waktu luangku untuk latihan soal matematika atau membaca buku IPA.
Waktu kecil aku suka Sailor Moon. Papa belikan aku banyak buku Sailor Moon. Dan aku tertarik untuk menggambar anime. Tapi Mama meremehkan gambarku. Katanya "gambar orang kurus".

Yah, namanya juga hobi, mau diolokin sebagaimanapun tetep aja dilakuin. Aku diam-diam suka menulis cerita meskipun kadang nggak sampai selesai. Aku masih suka menggambar di tengah-tengah kejenuhan di kelas. Aku diam-diam nyewa komik dan novel. Kalau aku punya uang sendiri aku lebih suka ke Gramedia daripada ke toko baju.

Setiap mengunjungi Tante di Jakarta atau Papa di Semarang, pulang-pulang aku pasti bawa buku, entah itu cuma satu atau dua. Bagiku buku lebih menarik daripada nongkrong di KFC atau McD. Mama memaklumi hobiku dan sebenarnya bersyukur aku lebih suka ke toko buku daripada toko lain, apalagi dugem.

Suatu hari, gara-gara ditegur petugas perpus kampus karena pake wedges, aku nulis cerpen tentang itu, sebagai bentuk pelampiasan kedongkolanku. Iseng kukirim naskah itu ke majalah. Eh, ternyata dimuat! Aku menunjukkannya pada Mama, dibaca Mama. Sejak itu Mama mendukungku. Saat aku down dengan skripsiku, Mama bilang "Nulis cerpen aja bisa, pasti nulis skripsi kamu juga bisa" =='a

Sampai sekarang Mama masih mendecak tak setuju setiap aku pulang membawa novel atau komik dari toko buku. Nggak hilang akal, aku memanfaatkan Twitter untuk ikut kuis-kuis berhadiah buku. Ketika aku menunjukkannya pada Mama, Mama bilang "Selamat" dan memujiku.

Yah, intinya, aku harus langsung ngasih bukti ke Mama biar Mama percaya bahwa aku bisa.

Wednesday, 14 December 2011

Review : Victoria and The Rogue - Meg Cabot

gara-gara nonton film The Young Victoria, aku jadi suka hunting buku atau film bersetting 1800-an :D
salah satunya buku ini. Well, nggak cuma karena settingnya 1800-an aja sih, tapi juga karena Meg Cabot yang nulis (yep, I'm the one of her biggest fan!).

Victoria yang yatim piatu ini diasuh oleh tiga pamannya di India. Karena Victoria sudah dewasa dan sudah waktunya menikah, ketiga pamannya memutuskan untuk memindahkan Victoria ke London, ke paman dan bibinya yang lain yang memang tinggal di sana. Victoria sempat keberatan, tapi akhirnya ia berangkat juga. Di perjalanan ia bertemu Captain Carstairs, kapten kapal yang ditumpanginya, yang menurutnya sangat angkuh, sombong dan kurang ajar kepadanya. Victoria juga bertemu dengan Lord Malfrey, yang menurutnya sangat sopan, romantis dan mempesona. Entah bagaimana Lord Malfrey meminangnya secara mendadak di atas kapal. Victoria yang kesal dengan perlakuan Jacob Carstairs memutuskan menerima pinangan Lord Malfrey. Keluarga Victoria di London ternyata sangat mengenal Jacob Carstairs, mereka sering mengundangnya ke rumah. Ini membuat Victoria semakin kesal dengan Carstairs dan membuat mereka sering bertengkar. Carstairs sering memperingatkan Victoria untuk berhati-hati terhadap Lord Malfrey, tapi tidak diindahkan Victoria karena ia terlanjur kesal dengan Carstairs dan menganggap Carstairs ingin menghancurkan pertunangannya.

Hingga suatu malam Victoria terjebak hujan badai bersama Lord Malfrey, kemudian Lord Malfrey menawarkan rumahnya untuk tempat berteduh Victoria sementara sampai hujan reda. Ternyata Lord Malfrey yang dibantu ibunya, berusaha 'merusak' Victoria (di Eropa kala itu, jika ada seorang gadis tidak pulang sampai malam dan ketahuan menginap di rumah tunangannya, maka gadis itu dianggap telah rusak). Victoria yang menyadari hal itu kabur dari rumah Lord Malfrey hanya dengan pakaian dalam. Ia ditolong oleh pencopet cilik yang dulu juga pernah ditolongnya. Ia menyuruh pencopet cilik itu untuk mengantarkan surat ke Carstair agar menjemputnya. Sejak itu Victoria yang sebenarnya menyukai Carstairs akhirnya jujur dan berkata bahwa ia mencintai Carstairs, Carstairs pun akhirnya melamar Victoria.


Seperti biasa, Meg Cabot selalu menyuguhkan cerita yang menarik untuk dibaca dari awal sampai akhir. Karena setting waktunya berbeda, bahasa Meg Cabot di buku ini jelas berbeda dengan bahasanya di Princess Diaries series atau dalam novel yang lain. Tapi tidak membuatnya menjadi membosankan (beberapa buku bersetting tahun 1800-an entah mengapa menjadi sangat sastra dan tutur bahasanya baku bahkan kaku). Lucu juga ternyata ada cerita cinta berawal dari benci. Makanya ya, jangan benci sama orang, nanti jadi cinta loh ^^"a

Thursday, 8 December 2011

Angeliers Indonesia

anybody here know or even likes Primadonna Angela's books? I'm the one of her fans. When I was at senior high school, I found one of here book, "Resep Cinta" in my libraries school. Then I felt in love with her books. Last year I found her Twitter account (@cinnamoncherry) and we talked about anything! She likes cooking, writing (ofcourse), cats!, and some classic musical. Me too! It's almost a year we know and close each other although just from Twitter. She just has a fanbase Twitter account (@angeliers_id) who managed by one of her fans too, Mudita Nanda. Angeliers_id has three admin, Mudita Nanda, Ichy Fitri and Alinda Tania. Because Mudita and Alin would face their exam, they searched for the fourth admin and.......it's me! Yep, I'm the fourth Angeliers_id's admin!
I'm so happy about that and made some pictures about us, here they are :

chibi style

couture theme
what do you think? :3


Saturday, 3 December 2011

#DearPapa - a letter to the Guardian

Sabtu, 3 Desember 2011

Dear Papa,
Papa lagi apa? Pasti sedang menonton TV sambil menunggu sms dariku kan? Maafkan aku tak pandai berkata-kata untuk sms denganmu. Bukannya aku tak sayang lagi padamu, atau mengabaikanmu. Aku hanya bingung dengan diriku sendiri. Aku bingung bagaimana menyampaikan perasaan sayangku padamu.

Papa, aku yakin Papa kangen banget sama aku dan Mama.
Aku juga, Pa. Aku kangen banget sama Papa. Tahukah, Pa? Mama juga kangen sama Papa. Meskipun kalian sekarang tak lagi bersama, percayalah, cinta Mama sebenarnya hanya untuk Papa. Tapi keadaan lah yang memaksa begini. Dan aku bangga dengan kalian, karena bisa melewati ini dengan baik, dan masih menyimpan cinta itu. Cinta yang tumbuh tiga puluh tahun yang lalu. Cinta yang melahirkanku.

Papa, ingatkah?
Ketika kita bertiga pergi bersama, membeli buku bahasa Inggris untukku. Aku menangis sambil menggenggam buku cerita bergambar yang kumau, tapi tak diperbolehkan Mama. Kau kesal, lalu mendorong tubuhku dengan kakimu agar berdiri, tapi aku menganggapnya sebagai tendangan? Aku tak marah, dan maafkan aku yang salah paham. Aku masih ingat lho, judul buku itu. The Wizard of Oz.

Papa, aku masih ingat.
Betapa kau menyayangiku. Sayangmu padaku begitu besar. Setiap pulang dari Jakarta, kau membawa banyak hadiah untukku. Dan kau berikan padaku secara berkala. Aku menganggapnya sebagai kejutan tiada habisnya. Seakan koper Papa adalah kantong ajaib Doraemon. Yang setiap saat menyimpan berbagai kejutan dan hadiah untukku. Kau tahu dulu aku suka Sailor Moon. Kau hafal aku dulu suka Westlife, sampai sekarang. Aku juga ingat ketika aku menginap di kantor Papa dulu. Aku tidur di karpet, di bawah meja komputer. Dan kau menjagaku semalaman. Ketika pagi menjelang, kau ingatkan aku untuk meminum obatku. Obat yang kala itu tak boleh absen kuminum, untuk mengobati jantungku. Syukurlah, berkat doamu, aku sembuh, dan bisa berlari tanpa takut sesak nafas lagi.

Papa, masih ingat juga?
Ketika Papa mandi, dan aku mengira Papa akan pergi. Aku berdandan karena aku kira akan kau ajak. Memang aku diajak. Tapi ternyata Papa mengajakku pergi tidur. Aku marah. Aku merasa kau bohongi. Aku menangis hingga tertidur di kamar Om Wid. Juga ketika Papa sedang istirahat dan aku bermain di mobil. Tanpa sengaja mobil berjalan sendiri dengan aku masih di dalam sendirian. Aku yakin kau cemas.

Papa, aku juga masih ingat,
Ketika aku sakit, kau menjagaku di sampingku. Memijat kakiku, berharap panas tubuhku menurun dan aku berlari ceria lagi. Tertawa dan memelukmu lagi.

Papa, begitu banyak kenangan antara kita.
Tapi entah kenapa, aku tak bisa sms lebih dari sekedar membalas "Pagi, papa" setiap pagi. Aku seketika terdiam, tak bisa merangkai kata, untuk bercerita padamu, bagaimana aku sekarang. Aku ingin mengunjungimu. Tetapi keadaan di sana yang mengurungkan niatku. Aku tak ingin ada pertengakaran, Pa. Dengan orang yang menemanimu sekarang di rumah.

Papa, percayalah.
Sebenarnya aku menyayangimu. Sama seperti aku menyayangi Mama. Aku hanya tak pandai menunjukkannya.

Papa, ketahuilah.
Aku ingin menemuimu. Aku ingin memelukmu. Aku terus berdoa supaya Papa lekas sembuh. Bisa berjalan tanpa tongkat lagi. Bisa menggerakkan tangan lagi. Dan aku ingin bertemu kedua kakakku. Aku ingin bisa akrab dengan mereka, Pa. Aku tak peduli dengan masa lalu Papa, mereka dan aku. Aku ingin mereka menganggapku adik. Semua sudah berlalu. Aku ingin mereka dan aku berdamai. Karena bagaimanapun, darah Papa mengalir dalam nadi kami. Dan aku selalu berdoa untuk itu. Kalaupun mereka belum menerimaku saat ini, aku siap kapan pun mereka mau menerimaku. Aku siap memeluk mereka dan memelukmu juga, Pa. Kapan saja.

Papa, I Love You. Aku bangga memiliki namamu di nama tengahku.

Your daughter,
Dhita


#DearMama, a letter to the Angel

Kamis, 1 Desember 2011
Dear Mama,
Lama sekali ya rasanya aku nggak nulis surat buat Mama. Dulu waktu kecil aku suka menulis surat kecil buat Mama. “Semoga Mama betah dengan pekerjaannya” “Selamat Hari Valentine, Mama” “Selamat Hari Ibu, Mama”. Surat-surat kecil itu aku selipkan dengan pita di meja rias Mama. Mama ingat, kan? Betapa tingginya imajinasi anakmu ini. Betapa tinggi harapan anakmu ini. Pasti Mama masih ingat kala aku kecil, aku menggambar seorang wanita sedang berkacak pinggang dengan tulisan “Mama marah” di bawahnya? Tapi Mama nggak pernah marah. Mama malah tertawa.

Mama, ketika dewasa ini,
aku semakin merasa aku berbeda dengan teman-temanku. Bukan perbedaan yang buruk, tetapi bagaimana perilaku hasil didikan Mama yang membuatku bangga. Mama tak pernah menyuarakan kata-kata yang buruk, tak pernah bilang aku nakal, menegurku dengan tenang, meski kadang memang disertai omelan, tapi itu ciri khas Mama, bukan? :)

 Dulu, sejak kecil aku ingin seperti Mama.
Pintar di sekolah, sukses di pekerjaan dan bahagia di rumah. Maafkan aku yang sempat kesal padamu, Ma. Karena Mama begitu sibuk dengan pekerjaan, repot dengan urusan kantor, mengepakkan sayap Mama di dunia karir. Aku merasa kesepian. Di saat aku ingin Mama memelukku di rumah, Mama malah rapat di kantor.

Ma, aku paling suka ketika lampu mati di rumah.
Kita berkumpul di ruang tamu, dengan penerangan seadanya. Tanpa TV, tanpa komputer, tanpa lampu. Mama menceritakan sejarah keluarga yang belum kuketahui. Kita mengenang masa lalu. Ketika masih ada Mbah Uti, ketika masih ada Papa, ketika Om Bambang masih bisa tertawa, ketika Om Innisisri masih manggung sama Om Iwan Fals. Saat itulah aku memiliki Mama benar-benar seutuhnya. Tanpa intervensi dari berkas-berkas kantor, tanpa gangguan suara TV, tanpa dunia maya yang ditawarkan komputer. Kita berbagi cerita, kita berbagi tawa, dan belajar bersama dari pengalaman.

Tahukah, Ma?
Semua orang yang mengenal Mama bilang Mama adalah orang yang sempurna. Itu membanggakanku, tapi juga membebaniku? Tapi aku tahu, Mama tak memaksaku untuk seperti Mama. Mama membolehkanku mengepakkan sayapku sendiri di dunia yang aku sukai kan? Seperti di dunia tulis ini. Yang dulu sempat kau ragukan. Tapi aku membuktikannya pada Mama, kan. Aku bisa, dan aku mampu.

Ma, aku ingin membanggakan Mama.
Lebih dari ini. Aku menyesali bahwa dulu aku pernah iri dengan temanku yang ibunya terlihat lebih asyik dari Mama. Kini aku bersyukur, aku punya ibu seperti Mama. Yang mengajariku segalanya. Mendidikku dengan kasih sayang. Meski aku anak tunggal, tapi tidak semua yang kumau Mama jawab iya. Aku tahu itu untuk kemandirianku.

Ma, aku tahu.
Sebenarnya di balik tegarnya Mama, Mama merasa kesepian. Tak ada yang bisa dibagi keluh kesah ketika Mama sedih, tak ada yang bisa disambati ketika Mama merasa sesak. Mama selalu ada buatku, buat Om dan buat Tante ketika kami butuh bantuan. Mbah Uti, yang menjadi tempat di mana kita bersandar psikologis, telah tiada. Betapa kita mencintainya ya, Ma. Betapa kita merindukannya.

Mama, aku sayang sama Mama.
Aku mencintai Mama melebihi dalamnya samudra dan tingginya langit di angkasa. Aku mencintai Mama melebihi cinta Romeo kepada Juliet. Melebihi karya-karya Kahlil Gibran tentang syair cinta. Melebihi cinta yang dinyanyikan Julio Iglesias. Cinta kepadamu itu candu, yang tak ada habisnya aku reguk seiring perkembangan zaman, seiring menuanya waktu.

Mama, maaf.
Untuk semua gerutuan. Untuk semua kekesalan. Untuk semua kesalahan. Untuk semua kekhilafan. Untuk semua kealpaan. Untuk semua kecerobohan. Untuk semua kebohongan. Untuk semua kesalahan yang pernah kulontarkan dan kugulirkan. Percayalah bahwa sebenarnya aku mencintaimu.

Mama, terima kasih.
Untuk semua hadiah. Untuk semua dukungan. Untuk semua kecupan. Untuk semua dekapan. Untuk semua tangisan. Untuk semua omelan. Untuk semua teguran. Untuk semua belaian. Untuk semua nasihat. Untuk semua cerita. Untuk semua ajaran. Untuk semua bisikan. Untuk semua waktu. Untuk semua tenaga. Untuk semua pikiran. Untuk semua hati. Untuk semua. Yang terus-menerus kau limpahkan. Yang terus-menerus kau curahkan. Yang terus-menerus kau berikan tiada akhir, tiada ujung dan tiada batas untukku. Kata sayang, cinta, love, tresno, ai, amor, dan semua yang menunjukkan itu rasanya tak cukup untuk mewakili perasaan ini.

Mama, I can’t help myself to falling in love with you. Aku bangga, namamu terselip di nama tengahku.

With a lot of LOVE, ~Your daughter, Dhita Rustiyan.~

Tuesday, 29 November 2011

Review : Prada and Prejudice

pertama kali liat buku Prada and Prejudice, yang ada dipikiranku waktu itu 'harus beli'. Kata 'Prada' dan covernya yang warna pink menarik perhatianku. Apalagi aku tahu judul itu diplesetkan dari judul novel sastra legendaris Pride and Prejudice.
Akhirnya ketika aku dapet buku Prada and Prejudice ini rasanya seneng banget, dicium-ciumin dulu halamannya, dihirup-hirup baunya *sniff sniff*.
Buku ini mengisahkan Callie, cewek yang ingin jadi salah satu dari sosialita sekolah, sedang mengikuti study tour ke London. Ia kemudian membeli sepatu Prada warna merah dengan model klasik di butik Prada ketika ia berbelanja. Saking senangnya, keluar dari toko ia langsung memakainya. Sayangnya, tiba-tiba ia tersandung dan pingsan. Ketika sadar, suasana di sekitarnya sama sekali berbeda. Bukan lagi aspal dan beton tapi tanah, bukan lagi gedung tinggi nan megah tapi hutan! Ia terdampar di tahun 1800an!
Callie kebingungan dan ketakutan menemukan sebuah kastil tak jauh dari hutan dan meminta izin untuk masuk. Entah untung atau kebetulan, Callie dikira sebagai Rebecca yang datang berkunjung dari Amerika.
Callie akhirnya mau tak mau menyaru sebagai Rebecca. Ia membantu Emily membatalkan pertunangannya dan menikah dg cowok pujaannya, mengikuti berbagai pesta, mengenakan gaun indah dan menyelamatkan Victoria, ibu Alex sang pemilik kastil ketika Victoria pingsan dan dikira meninggal.
Callie sering berseteru dengan Alex. Menurutnya Alex adalah cowok paling arogan dan angkuh yang pernah dikenalnya. Namun seiring berjalannya waktu, cinta tumbuh di antara mereka.
Sayangnya, ketika Callie tahu Alex mulai menyukainya, ia malah kembali ke abad 21, tempat di mana seharusnya ia tinggal.

Sesuai judulnya, Prada and Prejudice, buku ini menceritakan prasangka Callie yang salah terhadap Alex, yang dianggapnya sangat arogan, angkuh dan sombong. Namun setelah Callie mengenal Alex, Callie mengubah anggapannya dan malah mencintai Alex.
Secara garis besar buku ini menarik, mengingat settingnya dari tahun 1800an. Tapi karena bahasa yang digunakan adalah bahasa kini dan bukannya bahasa sastra seperti buku Pride and Prejudice asli, buku ini jadi lebih 'tahan' untuk dibaca, dan bisa memberitahu kita bagaimana suasana dan trend busana pada tahun 1800an.

Sunday, 27 November 2011

Sang Terpilih

Kalau bercerita masalah buku favorit atau buku yang paling mengubah hidupku sebenarnya ada banyak. Jujur aku tak bisa menentukan mana yang bisa aku review karena banyak sekali buku yang mengilhamiku baik untuk menulis ataupun untuk semakin peka dan tanggap dengan sekitarku.

Tapi tentu aku harus memilih bukan? Maka pilihanku jatuh pada buku Harry Potter. Buku yang telah menghidupi J.K Rowling dan keluarganya, buku yang telah diangkat menjadi film layar lebar dan menjadi box office, buku yang memiliki penggemar hampir di seluruh lapisan dunia ini menjadi salah satu buku yang menjadi favoritku sepanjang masa.

Awal kemunculan anak laki-laki berkacamata itu ketika aku masih kelas enam SD. Meskipun aku kutu buku, tapi saat itu aku tak terlalu menaruh minat pada buku tebal satu itu. Aku masih terlena dan terpukau dengan karya-karya Enid Blyton. Tapi hampir semua teman sekelasku ternyata menggandrunginya. Bahkan salah satu temanku berinisiatif untuk memberi kami julukan sesuai tokoh Harry Potter. Kala itu aku mendapat peran Hedwig. Hahaha. Aku hampir protes, tapi kemudian aku tahu bahwa Hedwig itu pintar dan cantik, maka aku terima saja.

SMP aku mulai ’mencoba’ membaca Harry Potter. Dan aku ketagihan. Tak ada satu titik pun yang terlewat. Aku pernah diam-diam membaca Harry Potter and The Order of Phenix di kamar, karena Mama sensi sekali kalau aku baca novel.

Aku menikmati saat J.K Rowling menjabarkan menu sarapan di Aula Besar. Aku merutuk Draco ketika mencemooh Harry. Tertawa ketika Ron berceletuk jenaka. Terharu ketika Hagrid memeluk saying Harry. Menangis ketika Sirius mati.

Biasanya, kalau sudah membaca sekali dua kali, membaca ketiga kalinya tak akan sama lagi. Beda dengan Harry Potter! Saat mau menghadapi ujian, aku akan meraih buku kelima dan membuka bab “Ujian OWL”. Aku beri tanda di mana sejarah Hogwarts diceritakan. Aku suka sejarah. Dari sejarah kita bisa belajar dan mengetahui siapa kita sebenarnya. Termasuk sejarah Hogwarts dan sejarah Harry Potter.

Sejak SD aku dikenal kuper. Dan aku tak menyadari, aku sering mengalami bullying dibelakangku. Tidak secara fisik, tentu. Tapi secara psikis, di mana aku diolok dan digunjingkan di belakangku. Dan itu berlangsung hingga SMA. Aku yang sudah kebal ini malah makin menenggelamkan diriku dalam membaca. Tempat di mana aku bisa mengetahui banyak hal dan tak perlu takut digunjingkan.

Ketika SMA, aku mengenal aplikasi chatting mobile, Mig33. Karena aku menyukai Harry, tentulah aku mencari room Harry Potter. Aku mengenal banyak orang di room itu dan rata-rata mereka seumuranku. Ternyata kami cocok. Kami membicarakan Harry Potter mulai dari novel, film hingga merchandise. Tak hanya Harry Potter yang kami diskusikan, tapi juga hal-hal lain yang sedang hangat.

Makin ke sini perkembangan teknologi komunikasi makin banyak. Mulai dari Friendster, kemudian Facebook, Twitter dan Plurk. Karena kami udah akrab, kami tanya-tanya, pada punya akun di FB nggak? Punya akun di Twitter nggak? Dan ternyata kebanyakan dari kami punya akun di social media mana aja. Jadi temen di FB, Twitter, FS, sama Plurk ya itu-itu aja yang di Mig33. hahaha.

Seperti yang aku ceritakan, karena aku terlalu cuek menghadapi bullying maka aku konsen banget sama temen-temen aku di social media. Ketika aku mengeluh tentang perlakuan temen-temen aku di sekolah, aku curhat ke mereka. Mereka mendengarkan (membaca sih tepatnya), menghibur, bersimpati dan kadang memberikan solusi yang menenangkan. Mereka jadi tempat pelarian aku ketika aku mempertanyakan realita.

Jadi agak ngelantur. Tapi ini udah mau sampe inti, kok! Karena ke-solid-an kami di dunia maya, kecintaan kami pada Harry Potter, banyaknya kesamaan dan intensitas kami di social media membuat kami memutuskan untuk menamai perkumpulan kami dengan nama D’Phoenix. Diambil dari Order of Phoenix atau Laskar Dumbledore, pasukan Dumbledore yang siap membela kebenaran dan melawan kejahatan. Dari mereka aku mengerti arti persahabatan. Dari mereka aku merasakan hangatnya persahabatan. Dari mereka aku merasa nyaman dan kuat menghadapi bullying. Dengan mereka aku semakin memperluas wawasan. Dengan mereka aku bisa tertawa.

Juli tahun lalu aku mengunjungi Tante-ku di Jakarta. Kesempatan ketemu anggota D’Phoenix Jakarta! Kami mengadakan kopdar dan meski kami baru pertama bertemu muka, rasanya kayak udah kenal sejak kecil. Ada aja yang diomongin. Ada aja yang diributin. Ketika kami pernah ditertawakan dunia, kami berkumpul dan ganti menertawakan dunia.

Persahabatan kami makin solid. Jarak jauh nggak jadi masalah. Film terakhir Harry Potter membuat kami sepakat nobar di masing-masing daerah. Kita sharing foto nobar. Ngomentarin perbedaan film dan novel. Ngetawain adegan George yang mergokin Harry dan Ginny ciuman di dapur (mooooorning... XD), nangis bareng ketika adegan Papa Snape mati (hiks ;____;).

Sampai sekarang kami masih saling kontak di Twitter, Plurk dan Facebook. Kami mengenang momen di mana kami ber-kyaaaa kyaaa bareng kalau ada salah satu yang nemu merchandise Harry Potter, ketika kami berburu novel terbarunya, ketika kami menemukan anything funny terkait Harry Potter.

Harry Potter nggak Cuma sekedar novel buatku. Harry Potter nggak Cuma sekedar novel best seller yang membuatku jadi punya banyak teman dan bahan obrolan. Harry Potter, dengan kisah persahabatan trionya dengan Hermione Granger dan Ron Weasley, juga menorrehkan cerita persahabatanku sendiri. Di mana kami nggak pernah saling mencela, dan hanya diisi dengan candaan, tawa, simpati, empati, sinergi, energi positif, dan saling menerima apa adanya. Kami tak pernah mempermasalahkan latar belakang masing-masing. Asal tak membuat masalah, saling mendukung dan ’memeluk’, bagi kami itu merupakan hal yang sungguh luar biasa. Kami tak perlu berpura-pura menjadi orang lain untuk diterima menjadi salah satu dari D’Phoenix.

Begitu berartinya D’Phoenix buatku hingga aku membuat sebuah video clip dengan lagu Hold My Hand-nya Michael Jackson ft. Akon (link terlampir di email). Salah satu teman kami juga berinisiatif berbisnis merchandise buatan sendiri, Wand kayu yang bisa menyala dan kaus glow in the dark dengan label Diory Shop.

Aku pribadi menyukai seri Harry Potter nomor tiga (Harry Potter and The Prisoner of Azkaban), nomor lima (Harry Potter and The Order of Phoenix) dan nomor tujuh (Harry Potter and The Deathly Hallow).

Aku kagum banget sama J.K Rowling karena ia sangat memperhatikan detail dan sungguh menakjubkan bagaimana detail yang bisa terlupakan itu ternyata berkaitan satu sama lain. Siapa yang menyangka bahwa Horcrux Voldemort ada di Diadem Ravenclaw? Siapa yang mengira bahwa kalung Slytherin yang disimpan dan kemudian dibuang Harry dari lemari di rumah Sirius ternyata menyimpan Horcrux Voldemort? Detail kayak gitu dan ternyata di akhir cerita merupakan suatu hal yang sangat penting merupakan sebuah kemampuan yang luar biasa buat penulis. Apalagi kalau mengingat Harry Potter sendiri lahir dari perjalanan J.K Rowling dengan kereta. Bisa saja ia hanya sebuah buku dongeng anak-anak. Tapi seiring bertumbuhnya para fans menjadi remaja bahkan dewasa, Harry juga ikut tumbuh, dan ceritanya tak lagi menjadi cerita dongeng anak-anak.

J.K Rowling telah menyuguhkan cerita tentang cinta, persahabatan dan pertarungan dengan kata-kata yang lucu, mengharukan dan mendebarkan di tiap seri buku Harry Potter. Mengilhami berjuta manusia untuk menulis, entah menulis untuk orang lain maupun menulis hidupnya sendiri dengan persahabatan yang disatukan oleh kisah seorang anak laki-laki yatim piatu penyihir, Sang Terpilih, Harry Potter.

Anindhita Rustiyan


*cerita ini diterbitkan di buku #read2share, proyek dari nulisbuku.com*

Tuesday, 15 November 2011

Movie Review : "Sang Penari"


sampul asli novel trilogi "Ronggeng Dukuh Paruk"


poster film "Sang Penari"


baru saja nonton film yang diangkat dari novel trilogi berjudul Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.Film ini dibintangi Nyoman Oka Antara, Prisia Nasution, Lukman Sardi, Happy Salma, Slamet Rahardjo dan Tio Pakusadewo.
Film ini menceritakan tentang Srinthil (Prisia Nasution) yang ingin menjadi ronggeng di Dukuh Paruk sebagai balas jasa terhadap leluhur desa dan ingin membersihkan nama almarhum orang tuanya yang dianggap meracuni warga sekampung dengan tempe bongkrek buatannya. Rasus (Oka Antara) yang mencintai Srinthil sejak kecil, tidak setuju Srinthil menjadi Ronggeng, karena profesi itu tidak hanya mewajibkan Srinthil menari, tetapi juga menjadi milik warga satu desa. Rasus yang merasa kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa, memutuskan untuk menjadi tentara.
Dukuh Paruk yang mayoritas warganya buta huruf, terbuai dengan ajakan seorang pria dari kota yang membawa pembaharuan. Namun ternyata warga Dukuh Paruk dijadikan salah satu desa pengikut Partai Komunis. Hingga akhirnya terjadi pemberontakan G 30 S yang membuat warga satu desa ditangkap tentara. Rasus berusaha mencari Srinthil, namun akhirnya ia menemukan Srinthil sepuluh tahun kemudian. Rasus tetap menjadi tentara sedangkan Srinthil tetap menari dari pasar ke pasar.
Ditengah banyaknya film lokal horor seksis yang beredar, film ini menjadi salah satu film yang mengangkat sastra Indonesia yang bisa mendorong masyarakat untuk melestarikan sastra Indonesia serta menunjukkan potret sejarah Indonesia dari sudut pandang masyarakat pinggiran.

four thumbs up!! *angkat dua jempol tangan dan angkat dua kaki*

Monday, 17 October 2011

Tak Pernah Lega Menangisimu

baru saja hujan
senangnya
aku berpelukan dengan hujan
melepas rindu setelah sekian lama

tapi lalu aku mengingatmu
aku juga merindukanmu
setelah sekian lama berlalu
masih juga rindu menelusup

ingatkah aku pernah berkata
aku merindukan suasana sendu yang dibawa hujan
juga rasa lega yang ditinggalkannya
sama seperti ketika menitikkan hujanku sendiri

tapi berbeda kala aku menangisimu
hujanku selalu datang ketika aku mengingatmu
sendu dan sedih itu memang ada
tapi lega tak pernah ditinggalkannya

tak pernah lega aku menangisimu
tak pernah puas aku menitikkan air mata untukmu
tak hanya gerimis dan rintikkan
tapi deras, hingga menciptakan sungai yang sama derasnya
yang menghanyutkanku dalam kesedihan tak berkesudahan

aku mencintaimu
sangat mencintaimu
aku mencintaimu sama seperti Romeo pada Juliet
aku mencintaimu sama seperti Edward pada Bella
adiktif, dan abadi

cintaku melebihi dalamnya samudra
melebihi tingginya langit di angkasa
melebihi luasnya dunia
lebih dari wilayah kata cinta

senggol aku sedikit dengan hal kecil
yang menarikku ke masa lalu saat engkau ada
maka hujanku akan turun
lengkap dengan badai yang menggetarkan bahuku
dan menyesakkan dadaku

sebut aku berlebihan
panggil aku hiperbola
tapi memang begitu adanya



dedicated to my beloved Grandma, who always will be in my heart, although you left me ten years ago

Sunday, 16 October 2011

Hujan

hujan
aku merindukanmu beberapa hari ini
apa kabarmu?
tak rindukah kau padaku?

aku merindukan suasana sendu yang kau bawa
juga rasa lega yang kau tinggalkan
sama ketika aku menitikkan hujanku sendiri

apakah aku tak cukup membanggakan hingga kau tak terharu?
atau apakah menurutmu aku baik-baik saja hingga tak perlu kau tangisi?

mungkin kau sibuk, mungkin kau tak punya waktu
aku tahu kau tak suka dikekang, begitupun aku
kau suka berpetualang
mencari jiwa yang sedang tak tenang
lalu kau sembuhkan dan kau menghilang

meskipun kadang aku kesal
kala kau terlalu posesif mengenal
tak kunjung juga kau ijinkan matahari bersinar
dan kau tertawa kecil melihatku basah dengan aromamu menguar

aaaah, aroma
aroma yang hanya milikmu
yang tak bisa dipalsu
ingin rasanya dalam-dalam kuhirup
kusimpan dalam paru-paru

aromamu yang segar sekaligus melegakan
mendekapku dengan erat dan nikmat
seperti pasangan yang terlelap dan terbangun bersama keesokan harinya

aaaah, sungguh aku merindukanmu
mampirlah sesekali kemari
akan kuseduhkan teh dan ceritakan perjalananmu yang kemarin
yang membuatmu terlambat datang ke sini

Thursday, 6 October 2011

what EXACTLY I want in education

Pada dasarnya gw suka belajar kok, terutama hal yang menarik hati. Sejak kecil gw pengen sekolah fashion design, tapi emak nggak melihat prospek dari sekolah itu ke depannya (selain jadi tukang jahit) jadilah gw nggak dibolehin kuliah design.
Pas jaman apply PMDK atau pendaftaran reguler kuliah gw sempet mau apply di Institut Seni Jogjakarta ambil design interior, karena sejak kecil pula gw selalu nulis mau jadi arsitek di buku biodata temen-temen. Bokap gw arsitek laah, wajar kalo anaknya pengen ngikutin juga (meskipun waktu itu gw nggak ngerti arsitek tu ngapain sebenernya selain gambar-gambar). Tapi karena gw udah keterima duluan di Malang ya ISI dadah bai bai.

Karena gw interest banget sama komputer dan sering otodidak nguthek-nguthek program komputer, om sama emak nyaranin gw ambil IT. Sok atuh akhirnya gw apply IT sama Ilmu Komunikasi. Eh, pernah juga apply Desain Komunikasi Visual, tapi gak ketrima (hiks).
Dan ternyata gw keterima di Ilmu Komunikasi.

Semester 1 dan 2 dan 3? lancarrrr. nah, terus pemilihan konsentrasi nih. ada tiga. Jurnalis, Audio Visual, Public Relation. Emak menolak Jurnalis mentah-mentah (sebenernya yang kuliah gw apa emak ya?), dan mendorong gw ambil Public Relation dan didukung oleh Tante tercinta yang kerja di hotel juga, jadi tahu gimana seluk beluk PR Perhotelan. Ternyata, gw malah masuk AV. Emak pun menerima, karena dilihat dari nilai juga sama rata ama PR. Pokoknya kunci ngeyakinin emak gw cuma : Entar kerjanya di ini. Asal jelas, monggo dilanjut!

Nah, pengalaman kuliah di Ilmu Komunikasi yang notabene sosial banget, jujur bikin gw melek. Yang selama SMA gw berkutat ama gelas ukur, mikroskop, tabung reaksi, formalin dan magnet, gw jadi terdiam terpana terpaku dan cuma bilang, iya ya, selama ini fenomena sosial itu ada di depan gw tapi gw nggak ngeh. Terus, gw kan juga sempet dasar-dasarnya PR dan jurnalistik. Makin ke sini gw malah makin tertarik ama fashion journalist (nggak jauh jauh ya, gw bukan tipe cewek rempong pedandan tapi jujur gw suka fashion dan make up). Karena menurut gw fashion journalist itu sesuatu topik yang "aman" buat dunia jurnalis. Nggak bakal nyinggung orang (ingat bahwa jurnalis itu kuncinya adalah 5W1H dan TIDAK MEMIHAK).

Karena om dan tante nyuruh gw apply S2 selepas S1, gw bilang gw mau kerja dulu. Bukan masalah biaya, tapi masalah pengalaman. Emak lebih setuju ke gw kali ini. Dan buat S2 gw kepikiran antara PR dan Jurnalis.

See? Intinya gw selalu suka explore dan learning something new apalagi buat hal yang gw suka. Dan sebenernya, dari ocehan panjang lebar gw tadi.....gw masih pengen masuk kuliah fashion designer. Sekian.

Wednesday, 5 October 2011

Make-Up and Saying "I Love You"

baru saja membaca status Facebook teman tentang pesan dari sebuah acara di televisi swasta. Bunyinya (lebih tepatnya tulisannya) begini :

pria jatuh cinta dari apa yang dilihat dan wanita jatuh cinta dari apa yang di dengar.


dan dia berkomentar : jadi, buat para wanita tetaplah berdandan dan buat para pria ucapkan sayang dan kata-kata indah pada pasangan anda.

statement itu bisa berarti dua, biar pasangan makin sayang atau justru membohongi pasangan.
penjelasannya begini. para wanita tetap berdandan, biar dimata pasangannya (cowok pastinya) dia tetap terlihat cantik menawan, tanpa cela. Dan buat cowok, teruslah bilang sayang dan memuji-muji pacarnya biar si cewek nggak ngambekan.

tapi bisa terjadi pula, make up adalah sesuatu yang dipakai untuk menutupi kekurangan, bahkan bisa membuat orang tampil sangat beda dari aslinya. Para wanita yang ketakutan cenderung menggunakan make up berlebihan untuk menutupi kekurangannya. hey, cowok kalo udah bener-bener sayang sama kamu, mau kamu jerawatan pun dia nggak peduli. Karena dia sendiri pun juga ingin diterima apa adanya. Teman saya yg lain pun pernah ngetwit : "ngapain sih para cewek itu pake dandan segala, toh para cowok itu suka mereka nggak pake apa2"
nggak pake apa-apa di sini maksudnya bukan naked loh ya, maksudnya jelas si cowok suka kalo cewek tampil apa adanya dia.
dan cowok yang sering bilang sayang. It's alright kalo itu ditujukan buat istrinya. Dan benar-benar tulus dari hatinya. Tapi kalo masih pacaran, cowok yang sering banget bilang sayang itu bisa dua sisi : posesif ato gombal! Karena sebenarnya kebanyakan cowok lebih suka MENUNJUKKAN sayangnya dia daripada MENGUCAPKAN. Not every boy in the world is like Cassanova or Don Juan. Yang dengan indahnya menrangkai dan mengucapkan kata-kata semacam kau seindah bunga surga yang baru mekar di pagi hari dalam belaian embun yang menyejukkan. Emang udah pernah liat bunga di surga?

But still, I'm not ignoring make-up or even boy who saying I love you constantly. I love them both. Jujur gue tipe cewek yang suka dandan dan suka disemangati dengan kata mesra *ehem*. Cek aja make-up box gue. Mau nyari eye shadow ada, eye liner cair dan pensil ada, lipstick lipgloss ada, mascara sama penjepit bulu mata ada. Manusia juga nggak munafik pasti suka liat yang cakep-cakep dan denger yang indah-indah.

Pernah baca buku The Power of Water? Di situ ditunjukin air yang dikasih kata-kata indah macam Terima Kasih dan Alhamdulillah, hasil kristalnya bagus banget. Sedangkan yang dikasih kata-kata macam Tolol dan Bodoh hasil kristalnya amburadul. Pernah juga dikasih tau sama Almh. Eyang Putri :
ngomong halus sama ngomong kasar itu sama-sama mangap (sama-sama menghabiskan waktu), jadi mending ngomong yang bagus-bagus daripada yang jelek


Kesimpulannya, make-up dan saying I Love You constantly itu nggak apa-apa, asal dilakukan tulus tanpa kepura-puraan. Pake make-up kelamaan juga bikin kulit jerawatan =))

Sunday, 2 October 2011

Guilty Feeling

really, this few days I felt so unproductive in writing. Feels like I want to do nothing.

Yesterday I cried to my mom that I'm afraid about my thesis, I'm afraid that I can't do it well just like her, no revision at all. Sigh, that can be my motivation but also too heavy on my shoulder I think. I think that I'm not ready yet for this but if not now, when?? In case that almost all my friend has programed thesis in this semester.

My uncle said to me I must enjoying what I do, and my thesis is in the list of course. He said if I get revision it means that my lectures want in their deepest heart to make me better than before. It means that they guide me to make my thesis is perfect to read by other people.

What I'm afraid actually is I'm not really sure with my thesis object. I feel that my object is so weak. I can imagine that they would ask me to looking for another object and I don't know what should I take. I know it would be so easy if I know my object for sure.

In another case, I feel that I'm not better than my other friends in skill. But for that I'm hoping that I will get a job as soon as possible. But still, that ASAP would not happen yet if I not start my thesis.

Sigh. Just want to write this. I know the answer though. But still, it will be better if I can share it all before it explode.

Monday, 27 June 2011

About Me

Actually I have a blog at anindsaid.blogspot.com. but I decided to "move" it here because my fashion blog and those blog has different email address and it's really annoying. I must log out first, then entering another email. That is so waste my time :/
now I just need to try moving my posts from the old blog to here. I hope I can do it.

Saturday, 18 June 2011

"Another Story of My Mother and I"

“Hoaaaahm.....” aku menguap lebar-lebar. Aku buka mataku pelan-pelan. Hal pertama yang kulihat merupakan hal paling manis di dunia, senyum Ibuku. Aku balas tersenyum. Ibu memelukku dengan sayang. Rasanya hangat.
“Selamat pagi, sayang,” kata Ibuku. Aku mendongak menatap Ibuku.
“Apa itu pagi, Ibu?” tanyaku.
“Pagi adalah saat di mana Paman Matahari mulai datang. Dan di luar sana akan terlihat sangat terang karena cahayanya,” jawab Ibu.
“Bisakah aku melihatnya, Ibu?”
“Nanti. Kau baru saja tumbuh, nak. Kalau kau sudah cukup tinggi, kau akan melihat Paman Matahari dan yang lainnya,”
Aku tersenyum. Dalam pelukan Ibu aku merasa aman dan nyaman. Gelap, tapi menyenangkan. Aku mengantuk lagi, ingin tidur lagi. Namun tiba-tiba sesuatu menabrakku.
“Ah, maaf, maaf,” katanya. Aku melihat yang baru saja menabrakku. Bentuknya panjang, warnanya merah.
“Ibu, itu siapa?” tanyaku.
“Dia adalah Paman Cacing Tanah. Dia teman Ibu, temanmu juga. Dia membantu Ibu untuk tetap subur sehingga dapat membantumu tumbuh besar,” jawab ibu.
“Halo, halo. Wah, kau baru tumbuh ya, nak? Tenang, Paman Cacing akan membantu Ibumu untuk memberimu nutrisi yang kau perlukan. Kau mau cepat besar kan?” katanya ramah. Aku mengangguk tersipu.
“Permisi dulu ya, Paman harus menggali lagi,” pamitnya sambil melambaikan tangan. Aku membalas melambai.
Aku tak lagi merasa ngantuk. Tapi aku juga bingung harus berbuat apa. Tiba-tiba aku merasa badanku basah.
“Ibu, apa ini? Dingin dan basah,” tanyaku.
“Itu air, nak. Air akan membantumu tumbuh cepat,” jawab Ibu.
Aku merasakan air masuk ke tubuh ibu, dan ke dalam tubuhku juga. Rasanya segar sekali. Air ini memenuhi seluruh tubuhku, mengalir di sela-sela rongga tanganku, kakiku. Aku merasakan Ibu menatapku. Aku menatapnya dan Ibu tersenyum padaku.
“Rasanya enak, Bu,” kataku. Ibu memelukku lebih erat.
“Aku merasa agak lapar, Bu,” kataku.
“Makan nutrisi dari Paman Cacing dulu ya. Air dalam tubuhmu juga akan menjagamu tetap kenyang nanti,” kata Ibu. Aku mengangguk. Dan tak lama kemudian aku merasa mengantuk. Ibu mendekapku dan membuaiku hingga aku tertidur.



Aku terbangun tiba-tiba. Aroma yang tak biasa menyergapku.
“Ibu, ini apa? Baunya aneh,” tanyaku.
“Itu pupuk kandang, sayang. Ini makananmu,”
“Makananku? Tapi baunya...,”
“Iya, pupuk kandang adalah pupuk alami. Terbuat dari kotoran hewan-hewan yang sudah terurai. Baunya memang aneh dan tak begitu sedap. Tapi dia memiliki banyak nutrisi untukmu,” jawab Ibu dengan sabar. Ah, aku mencintai Ibuku. Ia selalu bisa menjawab pertanyaanku dan menentramkan aku. Ibuku menyuapiku dengan pupuk tersebut sedikit demi sedikit. Aku mulai terbiasa dengan baunya dan merasa lebih kuat setelah makan. Psst, aku juga merasa tangan dan kakiku mulai panjang.
Ibu tersenyum melihatku. “Besok pagi kau mungkin sudah bisa melihat Paman Matahari, nak,”
“Benarkah, Bu?” tanyaku berbinar-binar. Ibu mengangguk.
“Seperti apa di atas sana, Bu? Apakah menyenangkan?”
“Di atas sana terang, tidak gelap seperti ini. Kau akan menghirup yang namanya udara. Kau juga akan bertemu Adik Ulat. Dia mungkin akan memakan daunmu. Tapi manusia akan membantumu terbebas darinya,”
“Siapa manusia, Bu?”
“Manusia adalah makhluk Tuhan, sama seperti kita. Tapi mereka dapat bergerak dan berjalan ke mana saja. Mereka membutuhkan kita, membutuhkanmu, untuk tetap sehat dan membantu kita tumbuh,”
“Apa mereka penyayang seperti Ibu?”
“Ya, nak. Tapi beberapa dari mereka kadang suka merusak tanaman. Mereka pernah menebang kelompok Paman pohon Jati dan lupa menitipkan penggantinya kepada Ibu. Mereka juga membajak teman Ibu di sawah dengan mesin. Rasanya kasar, dan asap dari mesin membuat teman-teman Ibu dan udara menjadi gelisah,” terang Ibu.
“Ibu, aku takut,” kataku. Ibu memelukku lebih erat.
“Tak apa-apa, nak. Kau dilahirkan karena kau dibutuhkan manusia. Manusia akan merawatmu dan menjagamu,” katanya menentramkan.





Keesokannya aku terbangun karena aku merasa tubuhku hangat, dan terang! Aku telah keluar! Aku mendongak dan Paman Matahari tersenyum di atas sana.
“Selamat pagi, Kacang kecil. Selamat pagi,” sapanya bersahaja. Aku tersenyum dan melambai.
“Selamat pagi, Paman Matahari,” jawabku. Aku menoleh ke sekelilingku. Mengendusi udara yang rasanya sama segarnya dengan air. Sinar dari Paman Matahari menyentuh tubuhku dengan hangat.
“Ibu, aku senang!” seruku gembira. Ibu tersenyum, Paman Matahari tergelak.
Dari kejauhan aku melihat sesosok makhluk, makin lama makin mendekat. Ia membawa sesuatu di tangannya.
“Ibu, siapa dia?”
“Itulah manusia, nak. Ia membawakanmu pupuk kompos, makananmu hari ini,”
“Apa itu kompos?”
“Kompos adalah pupuk yang terbuat dari kumpulan daun-daun mati, kakak-kakakmu dulu. Mereka yang layu atau tak diperlukan manusia, dikumpulkan dan dititipkan ke Ibu sampai mereka membaur dengan Ibu, dan memberi makanan bagi kamu,” jawab Ibu.
“Apa aku juga kelak akan demikian, Ibu?” tanyaku lagi.
“Ibu tidak bisa memastikan, nak. Tapi suatu saat kau pasti akan kembali ke Ibu,” kata Ibu. Aku sebenarnya tidak mengerti maksud Ibu, tapi aku diam saja. Aku memperhatikan manusia itu memasukkan pupuk kompos ke sekitarku dan menyiramiku dengan air.
“Waah, kau sudah besar ya, kacang. Sudah keluar dari tanah. Lekas berbuah ya,” katanya lembut. Aku terpukau. Manusia ini sungguh baik. Ia kemudian pergi. Aku memejamkan mata. Merasakan suasana baru ini. Segar. Tapi aku merasa aku masih lapar. Padahal tadi sudah diberi makan. Aku menatap ke bawah. Ada rumput liar yang ikut makan makananku!
“Hei, itu makananku,” protesku.
“Minta dikit. Pelit amat,” katanya cuek sambil terus makan.
“Itu bukan sedikit, kau memakan hampir separuhnya,” kataku lagi. Rumput liar itu tidak mendengarkanku. Tapi aku mendengar langkah kaki manusia. Beda dengan yang tadi. manusia yang ini terlihat lebih “keras”. Ia membawa sebuah sekop.
“Ah, rumput ini mengganggu,” katanya. Dan ia mencabuti rumput-rumput liar itu! Hore, aku tak perlu khawatir lagi makananku direbut!
Setelah selesai mencabuti rumput-rumput, manusia itu kemudian duduk di batu besar di sebelahku. Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya, mengepitnya dengan mulutnya dan membakarnya. Ia menghembuskan asapnya dengan keras di depanku. Aku merasa sesak.
“Ibu, apa ini? Baunya lebih tidak enak dari pupuk kandang. Membuatku sesak,” tanyaku.
“Itu rokok, sayang. Terbuat dari tembakau kering dan cengkeh,” jawab Ibu.
“Apa? Paman tembakau dibuat menjadi seperti ini? Apa gunanya, Ibu?”
“Tidak ada, Sayang. Ia hanya menjadi kesenangan bagi para manusia terutama yang laki-laki. Ia malah merusak tubuh manusia,” jawab Ibu.
Manusia itu kemudian beranjak pergi. Aku bernafas lega. Akhirnya aku dapat merasakan udara yang segar lagi.



Manusia yang baik kemarin datang lagi. Oh, iya. Aku sudah semakin besar lho. Aku malah sudah punya biji-biji. Kata Ibu, mereka adalah adik-adikku. Sebagian dari mereka akan dititipkan pada ibu agar besar, sebagian dari mereka akan diambil manusia sepenuhnya. Manusia itu mengambil semua biji-bijiku. Kini aku hanya berupa daun dan batang serta akar. Jujur, aku agak sedih ditinggal adik-adikku. Mereka sungguh masih kecil.
Manusia yang merokok kemarin juga datang lagi. Kali ini ia membawa semprotan besar di punggungnya dan menyemprot kami semua. Baunya sungguh tidak enak!
“Apa lagi ini, Bu? Ini bukan air biasa sepertinya,” tanyaku.
“Itu insektisida. Cairan kimia untuk menghindarkan kalian dari serangga yang memakan daun-daunmu,” jawab Ibu.
“Bah! Baunya nggak enak!” kataku. Kulihat tanaman-tanaman lain juga mengernyit tak senang. Tapi benar saja. Beberapa serangga yang datang cepat-cepat menjauh, tak tahan dengan bau kami.
“Hei, kacang, sudah dengar gosip baru?” tanya Singkong di deretan depanku.
“Gosip apa?”
“Beberapa dari Sawi yang sudah dipanen tiga minggu lalu ternyata dikembalikan. Mereka tak laku dijual di pasar,” jawabnya.
“Lho, kenapa?”
“Karena mereka sangat mulus. Beberapa manusia malah memilih sawi yang agak bolong-bolong. Katanya karena sawi yang utuh berarti mengandung insektisida yang buruk untuk kesehatan mereka. Hah! Siapa coba yang ngasih kita semprotan bau itu? Mereka sendiri juga kan,” kata Singkong sarkatis.
“Astaga. Benarkah demikian? Lalu bagaimana nasib para sawi itu?” tanyaku.
“Sebagian dari mereka diberikan secara cuma-cuma. Sebagian lagi yang sudah keburu kering atau layu dibuat jadi kompos,” jawab Singkong. Aku terdiam. Manusia sungguh sulit ditebak. Mereka memberi kami ini itu agar kami cepat tumbuh, tampak segar dan sehat. Tapi pada akhirnya, dengan kemolekan rupa kami, kami malah tidak dipilih karena insektisida yang mereka berikan berdampak buruk bagi kesehatan mereka.
“Ibu, aku bingung dengan manusia,” kataku lelah.
“Istirahatlah, nak. Nanti malam kau harus berjaga mengubah karbondioksida menjadi oksigen kan,” kata Ibu menentramkan aku.



Semakin hari bijiku semakin bertambah. Dan semakin lama semakin lemah pula tubuhku. Air dan pupuk tak lagi dapat menyegarkanku. Beberapa daunku menguning dan jatuh. Aku merasa sangat letih.
“Ibu, aku merasa lemah,” keluhku. Ibu diam saja, tak seperti biasa. Mungkin beliau sedang menenangkan adik-adikku atau tanaman yang lain. Manusia lelaki itu datang lagi. Ia membawa sekop lagi. Seingatku tak ada lagi rumput di sekitarku. Ia berjalan menghampiriku dan menusukkan sekopnya tepat di bawah akarku!
Aku yang lemah sudah tak bisa lagi protes. Aku jatuh lunglai. Direnggutnya aku dan dikumpulkan bersama tanaman mati lainnya. Tapi aku belum mati. Aku hanya berangsur lemah. Setelah terkumpul banyak, kami dimasukkan ke dalam sebuah lubang dan menutupi kami dengan tanah. Ibu!
Ibu tersenyum padaku. Inikah yang beliau maksudkan dulu? Yang Ibu bilang aku akan kembali pada Ibu?
“Aku kembali, Bu?”
“Iya, nak. Kau menjadi kompos sekarang. Kau akan memberi nutrisi bagi adik-adikmu dan tanaman lain,”
“Jadi, aku berguna, Bu?”
“Sangat. Dan Ibu bangga padamu,” jawabnya lembut. Aku tersenyum, menutup mata dan terlelap dalam pelukan Ibuku.

Monday, 25 April 2011

dawai emosi dan logika

pernahkah kau mengalami hal sesedih ini? aku pernah
pernahkah kau mengalami hal sehampa ini? aku pernah
pernahkah kau berusaha untuk bertahan? aku pernah
pernahkah kau merasa begitu gagal hingga kau merasa bahwa kau patut untuk lenyap?
pernahkah kau merasa begitu berhasil hingga kau merasa bahwa kau patut untuk bersombong?

atas nama cinta, emosi menyetirmu sedemikian mudah
memutar fakta bagaikan memutar roda sepeda
memainkan dusta semudah menghirup udara

atas nama cinta, emosi mendiktemu dengan indah
air mata digulirnya bagai air sungai ke lautan
amarah disulutnya seperti petir menyambar pucuk pohon di hutan

atas nama cinta, logika tak lagi berlaku
ia hanyalah setumpuk daun kering di sudut
teman dipandangnya sebagai musuh

atas nama cinta, logika tak dapat bersuara
alunan tegasnya tertutup melodi emosi yang lembut lagi memuja
eloknya persahabatan tertiup desah angkara

cinta, begitukah kau memberi nama?
dengan dalih cinta, persahabatan dipertaruhkan

manusia diciptakan Ilahi dengan sifat dasar nan buruk rupa
namun Tuhan berbelas kasih dengan meniupkan roh dan memberi akal
agar bagaimanapun hatimu panas dikobar
logika masih bisa berusaha memadamkan

namun akal pun bermuka dua
ia bisa bersikap dewasa
tapi dapat pula memaksa

tidaklah bijak balas berseru
jika di dalam dadamu pun masih beradu
diam pun tak bisa pula kau lakukan
karena alasan masih diperlukan

Thursday, 21 April 2011

Communication Study Excurse

just wanna share my picts when I was attended to Communication Study Excurse. story later, not in the mood to write. sorry... :(




Tuesday, 19 April 2011

Stop Bullying at School

halo halo!!!! long time no see ya! I just concern with my fashion blog so this blog has a little holiday :p
by the way, my opinion has been published at Gogirl! magazine this month!!!! what a surprise...
my picture is in the magazine! there's a little different between the original one and in the magazine.
here I post the original opinion by me.

Stop Bullying at School

Kemarin aku baru beli komik yang nyeritain tentang bullying di sekolah. Beberapa cewek mengalami bullying atau kekerasan yang dilakukan oleh sesama murid. Biasanya dia dikerjai dengan surat-surat anonim bernada kasar, mengejek terang-terangan atau merusak propertinya.
Aku nggak terlalu tau apakah ini bisa dikategorikan bullying. Kalo diliat dari usia, aku mengalaminya ketika aku masih SD. Aku sering dibilang kuper. Nggak secara terang-terangan, tetapi aku bisa merasakan bahwa beberapa teman membicarakan aku dibelakangku. Mungkin karena masih anak-anak dan sedikit terpengaruh tayangan televisi yang belum sesuai dengan usia mereka untuk ditonton, jadi mereka nggak tahu bahwa hal itu sebenernya bisa mempengaruhi kondisi psikologis orang. Aku yang memang terlahir sebagai anak tunggal terbiasa melakukan segala sesuatunya sendirian dan tidak tergantung orang lain. Karena orang tuaku pun mengajarkanku untuk mandiri sejak kecil.
Ketika SMA kelas satu, aku mengalaminya lagi. Bahkan kali ini aku merasa sekali. Beberapa teman sekelas mengatai aku atau menjadikan aku bahan tertawaan mereka dibelakangku. Karena sudah “terlatih”, aku bisa merasakannya dan aku bertahan pura-pura nggak tahu tentang itu.
Aku juga pernah mengalami bullying oleh kakak kelas, juga pada saat kelas satu SMA. Sampai sekarang aku masih nggak tahu alasan mereka apa. Busi motorku dilepas, sehingga motorku nggak bisa kunyalakan. Beruntung ada yang memberitahuku dan membetulkannya. Saat itu kuberanikan diri untuk mengatakannya ke guru BK. Padahal aku tak punya bukti yang kuat. Tetapi pada akhirnya dia mengaku dan aku berteman baik dengan kakak kelas.
Kebanyakan, anak-anak yang mengalami bullying nggak berani untuk mengatakan atau bahkan ada yang nggak sadar. Kalaupun mereka sadar, mereka berusaha tutup telinga dan berpura-pura semua itu tidak terjadi, karena mereka takut kalau mereka speak up mereka akan mengalami bullying lebih hebat. Tetapi sebenarnya hal itu bisa berpengaruh kepada kondisi psikologisnya. Dia akan terus merasa bahwa semua orang mengatainya dibelakang dan dia akan menutup diri dari pergaulan.
Memang mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya itu susah. Tetapi kalo kita nggak speak up sekarang, bullying akan terus terjadi, entah pada kita maupun pada orang lain. Si pelaku bullying harus diadukan agar ia jera. Kalo tidak, dia akan terus melakukan bullying pada orang lain.
Kalo kamu mengalami bullying, ceritakan pada orang tua dan mintalah pendapat mereka serta semangat dari mereka untuk menyelesaikan permasalahan. Jangan mendiamkan bullying karena jika terus dibiarkan, lama-lama si pelaku bullying akan melakukan tindakan bullying sampai pada tindak pidana. Minta tolonglah pada temanmu yang baik untuk menemanimu dan menguatkanmu ketika di sekolah. Bertemanlah dengan para guru. Tetapi tetaplah mandiri dan jangan tergantung pada orang lain.

and here's the picture of the page!! <3

Monday, 4 April 2011

Mommy's Birthday!

2 April 2010 was my mother's birthday. She took me at my room and we all went to Selecta's Park. My sister and I were planed to tried flying fox but when we saw how high it was, we just walked in the middle of the flowers then. hahaha.
We got a little rainy day, but then the rain was stoped so we could having fun!! at Selecta, after walked in the flowers hill and took some pictures, we enjoyed our coffee and some snack and watched some boys swim. how funny they were. here some picture we took at Selecta :






in the night, my sister and I went to Batu Night Spectacular. We took some picture at "Lampion Garden" (there's a miniature of Eiffel) and we tried Bungee Jumping!!!! oh, Gosh, I don't wanna do that again! we screaming happily at the first but then we screaming fearly!!!





but actually that was so fun! and happy birthday, mom :*

Friday, 25 March 2011

My Trully Friends, d'Phoenix

how could I forgot to write about them????

meet my friends, d'Phoenix. we call ourself like that according to Harry Potter. Yes, we LOOOOOVE Harry Potter. Harry Potter connected us for years to years.

We met at Harry Potter's chat room at Mig33, chatting application. Most of us were in a same age but some of us are younger and older. But it doesn't matter. we have a lot of similiarity besides Harry Potter. and some of us were in a same place.

After years to years, we always connected not only at Mig33 but also in Friendster, Facebook, Twitter, and Plurk! And some of us (mostly in a same place) have met and have fun!

we share anything. Life, love, hobbies, experience, a little things. Anything. There's no space between us.

here some picture of me with them who stayed at Jakarta when I got my shocking trip there :


and this is the other d'Phoenix member :



and this video clip I made dedicated to them :


I'm so proud to have them. I can tell and share anything with them. One I proud about them, they never care from where you are and who you are. As long as you never make a trouble. They accepted me whoever I am. They are my trully friends.... :)

I miss you, dad...

I just watching What a Girl Want, Confession of Shopppaholic and The Sisterhood of the Traveling Pants 2. Firstly I want to watch them because I want to know about their fashion sense. But after watched them a lot, I just realize something. I just realize how much I miss my dad. For years to years, I'm too arrogant to admit that I love him too.

Since I was a little girl,I rarely met my dad because he worked far away from my house. He just can went home as much as five a year. And after my parents divorced, practiced I just met my father once a year and it's not every year. Our relationship is so complicated. But my mother always reminds me that my father's still alive and loves me.

every morning, he always send me message just to say "Good Morning". and everyweek he always ask me am I go home or not. My mother always say that I definitely like him. My hair, my skin, my eyes, my nose, my smile, how I walk, how I do something, how emotional I am. and I always proud to know and hear that.

actualy, we love each other but we both don't know how to express our feeling. but deep in my heart I love him as much as I love my mom. and I promise I will meet him once I have a time.

Monday, 14 March 2011

Mother's Story

Actually, I've planed to go back to Malang this morning with the first train. But suddenly, my uncle woke me up and said that my mom is sick and will go to hospital!
I asked her what happen and she said that she didn't know. The only think she knew was she must go to hospital.
Fiuh, I'm thankfuly to Allah for bless her and us all the time. Now I accompany her untill she get better and go home. Friends, please pray for my mom. Thank's!

Thursday, 10 March 2011

I'm NOT Alone

after I posted "Bullying at School" last night, I asked my friends to read it and I asked at Chictopia's forum. Then I got a lot of surprised and powerful answers which gives me a BIG power to face them who don't like my style or even "something" inside of me. And after read their opinion, I really and more realized that I'm not alone, and this is what called FRIENDS. No matter who you are, no matter from where you are, they accept you whoever you are and gives you opinion that makes you grow up together. Love you, friends :)

this that makes me strong :

comment on my plurk
comment on my friend's plurk, Sheila
what they say in Chictopia's Forum

Wednesday, 9 March 2011

Project Fashion - Jasmine Oliver





dari tiga seri buku ini aku cuma punya satu yang warna pink T.T
buku ini aku beli di Gramedia Matraman pas lagi flash holiday kemaren. aku dapet buku ini di bagian buku impor yang lagi diskon (YES!! IT'S IN ENGLISH, GUYS!).
dan aku suuuuuka buku ini. soalnya nyeritain tentang mahasiswa fashion college sih :3
ceritanya (yang di buku Armani Angels) tentang tiga mahasiswi fashion college yang bersahabat. di tengah kesibukan kuliah dan tugas-tugasnya, masing-masing dapet masalah pribadi. Marina yang ngambil side job karena tagihan kartu kreditnya dan pacaran sama Rob, Frankie yang ngambil side job jadi model dan sempat ditipu cowok Belanda bernama Wim, dan Sinead yang gak sengaja putus sama Travis padahal Travis masih sayang sama dia. Frankie sempat bertengkar sama Marina dan Sinead karena mereka bilang mereka ngeliat Wim jalan bahkan nginap sama cewek lain. Tapi kemudian Frankie melihat sendiri Wim jalan sama cewek lain dan persahabatan mereka kembali harmonis. Ceritanya teenlit banget! dan aku berharap buku-buku ini diterjemahin sama Gramedia as soon as possible. :)

Life on The Refrigerator Door - Alice Kuipers



buku ini aku beli karena menceritakan tentang hubungan antara seorang cewek dengan ibunya yang sibuk. aku merasa satu pengalaman sama Claire, sama-sama ber-ibu yang sibuk. Claire berkomunikasi dengan ibunya dengan saling menempel pesan di pintu kulkas. mengingatkan masak, ijin kerja, dsb. hubungan dan emosi antara mereka terbangun dari pesan-pesan kecil di pintu kulkas. bahkan sampai sang ibu menderita kenker payudara, hubungan mereka tak pernah merenggang meskipun jarang sekali tatap muka. Claire kadang suka sebal sama ibunya kalau ibunya tak bisa datang di acara penting Claire di sekolah. tetapi ia tetap menyayangi ibunya. sayangnya di akhir cerita ibu Claire meninggal.

awalnya aku memang suka sebel sama Mama yang rasanya sehari itu kerja terus. berangkat pagi pulang sore, itupun cuma mandi dan makan kemudian pergi lagi, acara alumni SMA lah, rapat desa lah, apa lah. tapi setelah membaca buku ini aku bersyukuuuuur banget bahwa aku masih lebih beruntung dari Claire. aku masih bisa ketemu Mama, ngobrol sama Mama, dan yang paling penting Mama dalam keadaan sehat wal'afiat! Love you, Mom :)

Bullying at School

have you ever got bullying at your school? by your FRIENDS?

this condition makes me wondering, what is friend if they live just to make you feel uncomfort in the same place?


mereka melihatmu seolah kamu itu orang paling udik sedunia, orang paling aneh sejagat raya, dan orang paling "gak lumrah" segalaksi.
padahal sama aja kan kita ama mereka?
sama-sama manusia, sama-sama makhluk ciptaan Allah, dari ras yg sama, agama sama, negara yg sama, kota yg sama, sekolah yg sama, makanan pokok yg sama. tapi kenapa perbedaan itu masih aja SENGAJA dicari?

kadang aku mencoba untuk melihat dari kacamata mereka, bagaimana mereka memandang orang seperti aku. tapi tetep aja aku nggak nemuin jawabannya.

kita gunakan Teori Jendela Johari by (Joseph Luft dan Harrington V. Ingham) :
> Open
Menggambarkan keadaan atau hal yang diketahui diri sendiri dan orang lain. Hal-hal tersebut meliputi sifat-sifat, perasaan-perasaan, dan motivasi-motivasinya.
> Blind
kondisi di mana diri sendiri tidak mengetahui tapi orang lain mengetahui.
> Hidden
kondisi di mana hanya kita yang mengetahui dan orang lain tidak mengetahui.
> Unknown
ini adalah kebalikan dari open, yaitu kondisi di mana kita dan orang lain tidak mengetahui.

bullying yang kualami tidak berupa fisik, tetapi psikis, dan itu lebih membekas. kalo make teori Jendela Johari mungkin aku ada dalam posisi Blind. karena mereka mengetahui apa yg tidak aku ketahui dalam diriku.

semakin ke depannya aku mencoba mengeksplorasi diriku sendiri. kayak semacam pake "Search" di toolbar komputer, semacam kayak discan pake antivir. aku juga minta pendapat keluarga yang notabene orang-orang terdekatku. tapi aku tetap tak menemukan "kesalahan" yang membuatku mengalami bullying psikis di sekolah. pola pikir kami tak sama.

aku mengalami bullying sejak SD sampe sekarang, kuliah. rata-rata karena fashion sense aku. kalo dulu pas SD aku dirasani (diomongin dr belakang) karena aku kuper, ke sekolah dengan tampilan : seragam, rambut dikuncir atau dikepang. memang ada yg salah? masih SD juga.
oke, mungkin karena pengaruh dari eyang uti aku yg memang eranya old school (nah, sekarang malah jadi tren). Atau karena aku lambat update info terbaru di TV. aku punya keluarga yg sangat mementingkan pendidikan dan mereka tahu sejauh apa kemampuanku. mereka tahu kalo aku terlalu banyak di depan TV jelas aku jadi males belajar.

SMP aku nggak mengalami itu. but it was happened again when I was at first class in high school.
cuma di sekolah aja lho, sama-sama pake seragam, kenapa suka mempermasalahkan? emang di sekolah harus dandan banget? kalo dandan dikit malah dibilang norak. sometimes aku nggak ngerti jalan pikiran mereka itu kayak apa, gimana caranya menyelaraskan dengan jalan pikiran mereka sehingga aku bisa "sama" kayak mereka.
untungnya rata-rata yang suka ngolokin dan ngomongin aku di belakangku nggak satu kelas sama aku di kelas penjurusan SMA.

poor me, it's happen again to me right now. dunia perkuliahan yang membebaskan mahasiswanya berpakaian asal tetap rapi dan sopan, tetapi jurusanku bisa dibilang jurusan paling modis. karena selain otak kita juga mengutamakan penampilan karena kita bergerak di bidang komunikasi. tapi tetap saja jadi masalah buatku karena ideologi dan pemahaman kami dalam fashion berbeda. entah kenapa mereka selalu melihat pakaian yg kukenakan selalu nggak pantes dan mereka akan diam kalo aku cuma pake kaos, jeans dan cardigan.

Where's the freedom? bahkan hukum pun masih bisa dianggap dan dibuat fleksibel. sesuatu yang padat bisa dibuat menjadi gel, tak pasti.
perbedaan dalam berbagai kesamaan yang ada di dunia hanyalah interpretasi masing-masing orang. tetapi itu adalah hal yang wajar. Allah menciptakan segala sesuatunya berbeda untuk dikenal, bukan untuk kemudian dianggap negatif dan dibesar-besarkan padahal hanya sesuatu yang tak penting.

Fashion is identity. setiap orang berhak menunjukkan dirinya dalam simbol-simbol dan medianya adalah fashion. masih banyak hal penting untuk dipikirkan daripada mencibiri penampilan orang.

dan apabila menemukan kekurangan dari orang lain apalagi orang itu adalah TEMANMU, belajarlah untuk memberitahunya dan bukannya menggosipi dia dan menjauhinya, hanya menampilkan senyuman ketika ketemu sekilas, tetapi menunjukkan tatapan dingin dan tak bersahabat ketika ia meminta untuk bergabung dalam kelompokmu.

that's why I like to work alone than in group, although it doesn't matter for me if I work in group as long as in the group that accept whoever I am.

Monday, 28 February 2011

Winner!




I won this amazing gift straight from the author, Primadonna Angela. She made a quiz on Twitter and I won them. Glad to read the book and wear the accesories. :)