Tuesday, 23 December 2014

Memori Aromamu

Ingatkah kau kemarin saat kita bertemu?
Sesekali aku menghirup aromamu
Iya, aroma tubuhmu
Menguar lembut, tidak menusuk
Secercah segar, manis menelusup

Ingatkah kau aku menyurukkan hidungku di bahumu?
Menghirupmu dengan penuh syukur
Tidak, aku tidak serakah
Tidak kuhirup aromamu dengan tergesa-gesa
Biarkan manisnya pelan-pelan masuk
Biarkan segarnya perlahan meresap

Kecanduan kah?
Jika aku terus mengingatnya
Terus menginginkannya
Tapi aku tidak terburu-buru
Tak seperti pecandu yang hilang akal
Karena aku tahu sifat aroma
Menggoda, namun lekas sekali hilang
Jika kau memburunya, ia tak ada
Jika kau mendiamkannya, ia akan datang

Persis seperti aromamu
Yang lain kuat sekali kucoba untuk kuingat tapi malah menghilang
Aromamu, yang dengan santai kuhirup
Masih ada endapannya dalam otakku
Meski tak kuingat, meski tak kulupa
Ia masih sesekali membelai
Aromamu, yang berbeda dengan yang lain
Mengendap di benakku

Friday, 12 December 2014

Perlu Sepuluh Tahun Bagiku Untuk Akhirnya Mampu Memanggilnya "Bapak"

Perlu sepuluh tahun bagiku untuk akhirnya mampu memanggilnya dengan sebutan Bapak. Sepuluh tahun itu aku memanggilnya dengan sebutan Om. Pertama kali Ibu mengenalkanku dengannya dan menyuruhku memanggilnya Om. Aku manut saja. Kusangka ia teman Ibuku seperti yang lainnya. Teman biasa. Namun kemudian semuanya menjadi tak biasa.

Kudapati Ayahku tak lagi serumah dengan kami. Lalu bulan berikutnya Om itu pulang ke rumahku setiap hari. Aku yang sehari-harinya sibuk dengan urusan sekolah, mainan dan buku, tak pernah mengerti apa artinya. Tak pernah pula kutanyakan pada Ibuku. Karena jawabannya sudah kudengar dari Ayahku. Setiap hari ia meneleponku di sekolah saat jam istirahat. Membuat jam bermainku hilang dan perutku berkeruyuk kelaparan. Sakit hati dan marahnya ia ceritakan ke aku, yang saat itu masih berseragam merah putih dengan rambut dikelabang satu. Sering ia menyindir si Om dengan sebutan Ayah baru. Aku mendengar semua curhatannya dengan tatapan kosong ke pintu.

Entah sejak kapan, yang jelas aku masih memanggilnya Om, kubiasakan diriku menerimanya sebagai Ayah yang baru. Dua tahun berlalu, saudara-saudara baruku, bahkan tetanggaku, semuanya bersatu padu berseru, “Lho, kok manggilnya Om, sih? Papa dong harusnya!”

Saat itu aku marah. Siapa mereka berhak mengaturku mau panggil dia apa? Ibuku saja tidak menyuruhku, apalagi memaksaku. Satu dari Bibiku yang memang paling kemayu, terus menerus menyuruhku memanggil Papa ke Ayah baru. Kalau bukan karena didikan Eyang Uti bahwa yang muda harus menghormati orang tua dan berlaku sopan, sudah kumaki benar Bibiku itu. Berani betul dia begitu. Ayahku cuma satu!

Aku yang kemudian berseragam putih biru, akhirnya tak tahan dengan semua seruan itu. Aku mengadu pada Ibuku sambil bersungut-sungut. “Aku benci didikte harus memanggil Om dengan sebutan Papa. Om ya Om, Ayah ya Ayah! Suruh Bibi berhenti merecokiku, Bu!” Ibuku menenangkanku. Ia bilang tak usah didengar omongan Bibi. Ibuku tak memaksaku untuk mengubah panggilan kebiasaan itu.



Tahun berikutnya, entah bisikan dari mana. Kuberanikan diri memanggilnya Papa. Saat itu aku di rumah berempat dengan Om dan kedua anaknya yang kemudian menjadi saudaraku, serumah pula denganku. Ibuku menelepon menyuruhku menyampaikan pesan pada Om bahwa Ibu pulang kantor terlambat. Kutelan ludahku. “Ibu barusan telepon, katanya pulangnya terlambat…..P..Pa…,” kataku. Dengan volume yang makin mengecil pada akhir kalimat. Om membalas dengan kata Ya, tanpa mengalihkan pandangannya dari koran yang dibacanya. Aku cepat-cepat pergi. Jantungku bergemuruh. Berat sekali rasanya memanggilnya dengan sebutan Papa.



Tahun berikutnya, entah bagaimana awalnya, aku jadi menyebutnya Pak disertai dengan namanya. Seperti Pak Jo, Pak Ri, Pak Yon. Lidahku semakin fasih menyebutnya Pak. Hingga tahun ketujuh dan kedelapan, aku memanggilnya Pak. Tanpa embel-embel nama. Aku sudah masuk perguruan tinggi, tak serumah lagi, setidaknya untuk Senin sampai Jumat. Karena kuliahku di lain kota. Saat itu aku baru menyadari ia jadi Ayahku. Bukannya aku tak menganggapnya sebagai Ayahku selama ini. SD kelas enam aku les sampai jam delapan malam. Rute perjalananku melewati sawah gelap, dan aku hanya bersepeda. Tapi ia menungguku di perempatan jalan besar sebelum sawah. Lalu aku diboncengnya sampai rumah. Ia menungguiku di rumah sakit saat aku opname karena tifus. Sejak SMP ia pula yang ambil raportku di sekolah. Sempat menjadi pergulatan pikir saat aku mengisi formulir pendaftaran sekolah dan kuliah, kolom nama Ayah kutulis nama siapa? Hingga Ibuku berkata, tulis sesuai Akte saja.



Tapi ketika aku kuliah, ia yang paling sering tanya aku kapan pulang. Paling sering melongok ke pintu gerbang tiap Jumat malam, dan bertanya apakah aku tidak pulang minggu ini. Aku pernah buru-buru pulang dari kuliah, padahal masih hari Rabu, ketika kudengar kabar ia masuk rumah sakit setelah stroke ringan. Sepanjang jalan di bus aku terus menangis. Bahkan saat KKN sebulan yang harusnya tak boleh pulang sebelum waktunya, aku diantar temanku di pangkalan bus menuju kotaku karena kudengar kabar ia masuk rumah sakit karena kecelakaan, lagi-lagi sambil menangis di bus.



Tahun berikutnya, kudapati diriku dengan ikhlas, ringan dan bebas memanggilnya Bapak. Di saat jumlah warna putih rambut dan kumisnya sudah semakin banyak. Suatu hari aku merenung sendirian. Selama itu aku telah menganggapnya sebagai Bapakku. Bukan sekedar laki-laki yang menikahi Ibuku, tapi sebagai Bapakku. Yang selalu khawatir meski tak ditampakkan, yang selalu bangga meski tak ditunjukkan. Dan aku perlu sepuluh tahun untuk akhirnya memanggilnya Bapak. Meski dari tahun pertama, otak dan hatiku sudah berkata “Dia Bapakku” sambil menunjuknya.

Thursday, 11 December 2014

Duh Gusti, lindungilah mereka ke mana pun mereka pergi.........

Hujan terus mengguyur kota. Kau terus mengemudi menuju rumah. Pada satu titik hujan mulai mereda. Tongkat pembersih tak lagi mengayun pada kaca. Satu kilometer dari rumah, kau melihat mereka beriringan. Tak banyak, cukup tiga. Satu telah renta, yang dua masih begitu muda. Sudah sering kau melihatnya, duduk bertiga di depan rumah orang. Bersandar pada tembok pagar menjulang, terkadang yang paling kecil mengecipakkan kakinya di selokan. Yang tua tepekur kelelahan. Dari manakah mereka? Tak ada yang pernah dapat menduga. Ada niat dalam dirimu menolong mereka. Tetapi kesempatan itu masih saja belum ada. Sering kau melihat mereka. Yang renta selalu tampak seperti tertidur, kali lain yang paling kecil tidur bersandar pada yang renta, memainkan jenggotnya yang kotor tak keruan.

Tapi hari itu, ya, hari itu. Kau tak lagi mau menunda. Segera berhenti roda besar mobilmu di depan restoran. Dengan terengah kau pesan tiga bungkus nasi dan air mineral. Menunggu dengan berdebar. Tuhan, niatku baik, lancarkanlah, bisikmu tak tenang. Istirahatkan dulu mereka sejenak di sana, sampai aku datang. Rasanya ingin sekali kau bantu pegawai restoran untuk membungkus pesanan. Begitu lama. Hingga akhirnya tiba. Degup jantungmu makin tak beraturan. Perlahan kau pinggirkan mobilmu ke tepian di seberang. Tak peduli banyak mata memandangmu keheranan. Bergegas kau hampiri mereka. Senyum kau sunggingkan, jangan sampai mereka takut!

"Dek, sudah makan?" tanyamu. Mereka tak menyahut. Air muka mereka penuh harap, tangan si kecil seakan-akan sudah ingin segera meraih plastik di tanganmu. Mereka tahu, itu nasi. Dengan ukuran tiga kali dari sehari-hari.

"Pak, makan ya," katamu pada yang renta. Ia tergeragap. Mukanya tertutup topi. Kakinya dia tarik-tarik, ditekuk-tekuk. Entah takut, entah merasa tak pantas, merasa kotor. Kau tahu kalau kau terlalu lama di sana, kau akan menakuti mereka. Si kecil sudah penuh harap. Segera kau sodorkan. "Makan ya, Pak, Dek," katamu lirih. Bergegas kau pergi. Sengaja kau putar balik. Mereka bertiga menghadap dinding pagar. Melahap nasi penuh syukur tanpa sisa.

Sampai di rumah, saat tak ada orang. tak ada AC yang mengeringkan air mata, kau merasakan pipimu basah. Banjir. Kau menangis sampai sesak. Sampai tak ada tenaga untuk mengganti karbon dioksida dengan oksigen di dada. Tanpa suara. Tapi perih terasa. Bibirmu mengucap syukur tanpa henti. Atas semua rezeki yang diberi. Pedih hati melihat mereka, yang seharusnya bahagia dengan masa kecilnya, mendapatkan ilmu dengan mudahnya, malah harus berjalan tak tentu arah setiap harinya, hanya agar perutnya tak bergemuruh tiada hentinya.

Hujan sudah lama berhenti. Tapi sendunya masih kau resapi. Denting butiran air dari daun ke bumi, menjadi melodi pengiring di sore hari. Menyaksikan mata kosongmu yang masih merekam kejadian tadi. Duh Gusti, lindungilah mereka ke mana pun mereka pergi.........

Menolak Jamaah

Banyak orang yang memilih untuk shalat berjamaah jika ada barengannya. Pahalanya berlipat dua puluh tujuh kali katanya. Aku percaya itu. Di kantor, di kampus, di kost-kostan, di mana pun aku akan shalat dan aku tak sendiri, aku memilih untuk ikut berjamaah. Siapa yang tak ingin pahalanya berlipat sebegitu banyak dalam waktu sangat singkat? Selain itu, karena hafalan surat pendekku hanya sebatas surat pendek qul hu, dengan berjamaah, bacaan surat pendekku tak melulu qul hu. Tapi sesuai yang dibaca oleh imam pada saat itu.

Tetapi semangatku berjamaah tak pernah ada saat di rumah. Mungkin sebagian orang, bahkan banyak orang, tentunya shalat berjamaah pula di rumah. Di luar rumah saja berjamaah, masa di rumah sendiri pahala shalatnya hanya tunggal saja?

Bahkan aku punya mushola di rumah. Bukan, bukan seperti mushola di kompleks rumahku. Hanya sebuah ruuangan yang memang diperuntukkan untuk shalat, cukup untuk lima sampai enam orang. Lengkap dengan tempat wudhu di sebelah, dan banyak mukena serta sajadah. Kupilih cat warna hijau yang sering digunakan sebagai lambang warna agama Islam. Tapi sejatinya aku memilihnya karena senada dengan ruang lain yang ada di sebelahnya.

Aku tak pernah ingin berjamaah di rumah. Bukan tak pernah. Justru karena pernah, aku tak ingin lagi mengulanginya.

Bilang saja aku aneh, sebut saja aku gila. Aku pernah berjamaah dengan Ibuku. Aku didapuknya untuk menjadi saat itu. Aku tak menolak. Karena toh aku sering jadi imam bagi teman-temanku, bergantian, karena kami sama-sama perempuan.

Aku tak tahan dengan suara Ibuku. Bukan karena suaranya buruk. Sebenarnya suara Ibuku merdu. Tetapi suara Ibuku, terutama saat berdoa usai shalat, bergetar. Dengan suara mirip decitan pada beberapa suku kata. Terutama saat beliau menggumamkan “Ya Allah”. Desah nafasnya meremangkan tengkuk. Betapa suaranya begitu memohon, lemah, tak berdaya. Membuat hati mencelos tak karuan. Membuatku didera perasaan tak bersalah tanpa sebab.

Ibuku, yang menjadi panutan banyak orang, disegani semua orang, ditakuti sebagian orang, dihormati beribu orang. Saat ia shalat ia begitu lemah. Semua kekuatannya, disiplinnya, kerasnya, ia letakkan entah di mana. Di saat semua bersandar padanya, ia bersandar hanya pada-Nya. Pada Tuhannya. Saat demikian, aku tak dapat lagi bertahan. Suaranya saat berdoa sama seperti suara saat dia kecewa, saat ia sedih, saat ia lelah, saat ia bingung, saat ia sakit, saat ia nelangsa, saat di mana aku tak dapat berbuat apa-apa. Dan aku benci itu.

Bukan, aku bukan benci pada Ibuku. Tak mungkin aku membencinya. Tapi aku membenci diriku yang tak mampu membuat suara lemahnya berangsur kuat, membuat suaranya yang pelan kembali lantang, membuat kekalutannya berubah tenang. Ibuku selalu bisa menyelesaikan masalahku, tapi aku tak bisa membantunya meneyelesaikan masalahnya. Aku ini anak macam apa??

Perasaan bersalah yang mendadak muncul itu, rasa seperti dipuntir pada perutku ketika mendengar suaranya ketika berdoa itu, membuatku tak ingin shalat berjamaah dengannya. Karena aku tidak kuat. Bacaan shalatku berantakan, shalatku tak khusyuk. Maka dari itu aku hanya bisa memohon dalam sujudku, memohon kepada Tuhan untuk melindunginya. Aku memohon pada Tuhan dalam diam, karena aku tak ingin Ibuku mendengarku menangis meminta perlindungan untuk Ibu pada Tuhan. Karena ia jelas akan bertanya aku kenapa. Biarlah pahalaku ketika shalat di rumah satu saja, aku akan mencari dua puluh tujuh pahala shalat berjamaah di lain tempat. Daripada hatiku teriris mendengar suara Ibu, lalu aku menangis dan membuatnya makin bersedih.

Sepele? Coba saja kau jadi aku, sehari saja.

Thursday, 27 November 2014

Review : Dikatakan Atau Tidak Dikatakan, Itu Tetap Cinta

Ada banyak orang yang suka mengungkapkan apa yang dia rasakan dengan gamblang, termasuk ketika ia jatuh cinta. Entah itu dengan terang-terangan "I love you" atau dengan bahasa puitis yang tersirat, diwakilkan dengan lagu, dengan bunga, dengan apapun.
Tetapi ada juga orang yang begitu pemalu untuk mengungkapkan cinta. Ia simpan rasa sukanya dalam hati. Ditunjukkannya dengan perhatian, atau dalam lantunan doa.

Tere Liye kini menjadi salah satu penulis yang digandrungi para pecinta. Buku ini adalah buku kedelapannya yang kemudian membuat saya menjadi penasaran dengan bukunya yang lain. Buku setebal 72 halaman ini berisi kumpulan sajak tentang cinta, tentang rindu, tentang perasaan. Dengan kata-kata yang bisa mewakili apa yang dirasakan para pecinta, yang menenangkan mereka yang sedang bertanya-tanya tentang cinta, disertai ilustrasi di tiap sajaknya, memberi sajian tersendiri bagi para pecinta yang sedang membacanya. Bahkan sangat mungkin akan ditulis ulang jadi status di media sosial, menjadi bahasa tersirat untuk menyentil mereka yang dicinta, karena biasanya para pecinta yang sedang jatuh cinta, menjadi pemalu mendadak untuk mengungkapkan perasaannya, seterbuka apapun mereka.

Buku ini seakan menjawab pertanyaan saya, kenapa ada pecinta yang menyimpan rasa cintanya dalam hatinya saja,  tanpa menunjukkannya pada dunia. Seolah-olah tak ingin mengakui statusnya, tidak bangga dengan keberadaan pasangannya. Setelah membaca buku ini, saya jadi bisa melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Tidak banyak orang yang bisa mengungkapkan cintanya dengan verbal. Meskipun terkadang bahasa tubuh ketika jatuh cinta tak dapat disembunyikan. Tetapi bibir mereka tak pernah mengutarakan cinta. Ternyata kata cinta itu disebut berulang-ulang dalam hatinya, dalam doanya, dalam sujudnya. Karena mereka percaya jodoh tak akan ke mana. Jika memang cinta itu untuknya, tanpa perlu digembar-gemborkan, tetap akan menjadi miliknya. Dikatakan atau tidak dikatakan, itu tetap cinta.


anindrustiyan

Review : Aku Ingin Jatuh Cinta Sesakit-sakitnya

Berapa banyak kamu menangis karena cinta?
Berapa banyak kamu mengalami patah hati?
Berapa banyak kamu merasakan sakit hati, sesak nafas, pikiran yang tak bisa lepas dari dia, karena cinta?
Ada yang pernah bilang, berani merasakan cinta, berarti juga siap untuk merasakan sakitnya. Dan berapa pun banyaknya orang yang sudah mengalami sakit hati, kecewa, terluka, sedih, marah, karena cinta, mereka selalu tak pernah kapok untuk mencinta.
Adimodel menuangkan semuanya dalam 144 halaman. Tentang awal mencinta yang tak perlu alasan, tentang rupa cinta, tentang rindu yang menjadikanmu tak dapat tidur, tentang keegoisan para pecinta yang ingin memiliki cinta untuknya sendiri, tentang keinginan, tentang harapan, tentang tuntutan, dan tentang menunggu.

Orang yang jatuh cinta memang terkadang menjadi tak normal. Adimodel menuliskannya dengan lugas, tapi romantis juga. Ia yang biasanya mengekspresikan karyanya dalam karya fotografi, kini mengekspresikan cinta dalam tulisan. Apa yang biasanya dialami para pecinta, apa yang diinginkan dan diharapkan pecinta, bagaimana pikiran para pecinta ketika jatuh cinta, ia tulis semua. Apa yang biasa saya dan teman-teman saya alami, semua terwakilkan di sini. Ketika para pecinta tak sanggup menuliskannya, Adimodel mewakilkannya. Disertai ilustrasi apik dari beberapa ilustrator yang semakin mewakili apa itu cinta, apa itu menunggu, apa itu rindu, menjadikan buku ini semakin tidak membosankan.

Ini bukan kumpulan sajak, bukan pula novel. Tetapi kumpulan kata yang ingin diungkapkan para pecinta ketika jatuh cinta. Ketika mereka merasakan sakit karena cinta, tapi tak pernah berhenti untuk terus mencinta.
Selamat membaca, selamat jatuh cinta sesakit-sakitnya.


anindrustiyan

Monday, 31 March 2014

Love Yourself. My Beginning to The Journey to find myself again.

It was a very long time I post nothing here. I was busy with my life. Followed some test to get a new job (and I get it!!!), and doing some things that makes me have no time to write something here. And my emotions was so...I don't know...full of drama. A lot of one-side-speculations, it seems I have a war with my own heart, with my own mind, with myself! And it was not a great moment. I become an unloveable girl, my emotion up and down easily. Everything seems so wrong for me. I tried to share with my friends and still didn't get the answer I really want. Something that calm me down. Then suddenly, one night, I tried to talk with myself. Do I love myself? Then I was busy to read some articles about "how to love yourself" and being so fanatic with "self-esteem" things. I motivate myself to up again, read some quotes, do a workout again, making some DIY. I feel busy for a while but still feel the "storm" inside my heart & mind. I cried when I pray, I listened to some up-beat songs, still trying to fix my heart up. I don't know why am I so emotional?

And one night, I remember I have a friend who has a different perspective about life. I tried to text him through BBM and what a surprise, he gave me some words that so different. He saw some things from a different point of view. Well, he never gave me a solution but what he said is always calming. Here's the answers from him and from my other friends with the same questions I asked to them :

1. Why am I so emotional these days? Seems like everything's so wrong to me.
    Common answer I got : "Ya...you're still like a child. Stop being childish, grow up!"
    His answer                  : "Enjoy that emotions. Emotions makes you as a human. Just counting from 1 to
                                          12 to calm you down"
2. Why I become a thinker? I always think it hard, about everything, untill the details. I'm tired of it.
    Common answer        : "that's not your bussiness, think about yourself."
    His answer                 : "that's good. It means that you have a pure heart. Just change it slowly to be a
                                         positive thoughts."
3. I'm so afraid when somebody make a distance to me. I always think that must be something wrong from
    me that make them decide to go away from me!
    Common answer        : "ask them, then introspection yourself"
    His answer                 : "go away from you doesn't always mean they hate you. it can be something
                                         dangerous for you, and they keep a distance from you because they don't want
                                         anything bad happen to you.
4. Many people says that I'm childish. And they want me to change.
    Common answer        : "yes you are! grow up!"
    His answer                 : "then they were childish too. sometimes the adults need more attention then the
                                         children"

Maybe some people will not agree with his thoughts. But that was, surprisingly, calm me down. I don't feel any anger & emotions that overflow anymore after that chat.

And from many "how to love yourself" articles I found on the web, one from tinybuddha.com is my favorite. Here's the points of them :

  1. Begin your day with love
  2. Take time to meditate & journal (I change meditate with shalat)
  3. Talk yourself happy
  4. Get emotionally honest
  5. Expand your interest (I made some diy canvas quotes & enjoyed it much!)
  6. Enjoy life enhancing activities (I started to running again every week, with some new up-beat songs)
  7. Become willing to surrender (it's a little bit hard, but I'm still trying. this one that my friend told me too)
  8. Work on personal & spiritual development
  9. Own your potential
  10. Be patient with yourself
  11. Live in appreciation (love your IMPERFECTLY perfect self)
  12. Be guided by your intuition (when your mind say "go" then you should go, don't stay)
  13. Do what honors & respects you (don't participate in activities that bring you down, don't allow toxic people in your life)
  14. Accept uncertainty. Put yourself on the PRESENT and be at peace. Don't stuck yourself to the past.
  15. Forgive yourself. For example : "I forgive myself for judging myself as an ugly girl. I'm beautiful inside out"
  16. Discover the power of fun.
  17. Be real. Speak up and speak out!
  18. Focus on the positive. Avoid any negative things or thoughts.
  19. Become aware of self neglect & rejections. You can do the best, you are the winner and you deserve to be a winner.
  20. Imagine what your life would look like if you believed in your worth. Free & happy!!
  21. And if necessary, seek a professional help. Sometimes people can't do it by themself when they feel they fall to deep. It's not a bad idea to seek a professional to help you out from those condition. Some school has their psychology teacher and they will help you happily.
See the full article here : tinybuddha.com