Thursday, 22 December 2011

It's not always November Rain

a gift from Primadonna Angela

all the gift, from Atrianic and Primadonna Angela

finally I post my pictures with the gifts! Three books at once! This is a perfect evidence that it's not always November Rain :3

P.S : I think about making my picture logo. It's time to playing with my "crayons"! :D

Wednesday, 21 December 2011

Ghost of You

I keep repeating this song today. Just found it randomly. I read the lyric and felt that it almost same with what I feel right now. I like this part :

And I'll never be like I was
The day I met you
Too naive, yes I was
Boy that's why I let you win
Wear your memory like a stain
Can't erase or numb the pain
Here to stay with me forever
and


One of these days
I'll wake up from this bad dream I'm dreaming
One of these days
I'll pray that I'll be over, over, over you
One of these days
I'll realize that I'm so tired of feeling confused
But for now there's a reason that
You're still here in my heart
Gosh, I feel so gloomy just because of that chat. Maybe that's why I think that this song is really represent me.

The Winner!

Never mean to arrogant, this is because I'm so happy. Last month I won two book quizes! One from Primadonna Angela, the author of Belanglicious and Resep Cherry. I won her newest book, Satsuki Sensei (with my name inside!). Then I won a review quiz from Atria, the young-adult publisher because I review one of their book, Prada and Prejudice.
Then, this month, TODAY, I win a pashmina from @hijabersmalang, Twitter account of hijabers malang community. Actually I'm the one of their member, but I win not because of it (I'm not sure they know me well).
Photo's later. I must prepare it all so you know that I'm soooo happy with it! :D

Monday, 19 December 2011

The Chat!

Too much sadness, too much tears, but that's the part of growing up. People teach you how to face the world. Just like me. When you're falling in love then you break up. Then you fighting with your ex, then you befriend with them again. You try to build back those relationship but they wont. Then you accept it and you enjoy it all. You shout out loud that you've move on but you're not. You realizing that you're still in the same place. Stuck. You still hoping that your ex would come back and say love you again. You sing the melody that you happy for them when they find a new relationship but in the deepest of your heart you crying.

This is really happened to me. I thought that I've move on. But I wake up and asking my self, what is move on exactly? What a fool, I don't know it. I thought that I forget and forgive him. But I'm still feel that heartbeat when he called me, when he texted me, when I met him. I screamed when I saw his picture with his new GF.

Just like Inception, I save the deepest memory about us. I thought that he forget it all. But I knew, he's not. It's proven by chat this morning between us :

Him : where are you now?
Me   : at my boarding house. why?
Him : don't you go home?
Me   : nope. I'm just went back home twice a week.
Him : that sounds great.
Me   : great? I'm tired..
Him : oh, so you have tired too?
Me   : that sounds sarcasm :S
Him : :)

That means a loooooot for me. Why? We broke up because he felt that I was too busy, seems like I didn't have tired. He felt that I couldn't make a time for him, just us two. I tried. But sometimes I really enjoy my rush. With that oh so you have tired too sentences means that he still remember my habit, my passion, the reason why we broke up. And that :) means that he hide something about us FOR YEARS! From this, I know that I didn't know him much. He looks like he don't care with anything. He looks like he don't wanna think about it. He looks like he forget it all. But he's not....

Saturday, 17 December 2011

Why I hate Smokers and Cigarettes

Ayah Perokok, Anak Beresiko Leukimia

Membaca artikel di atas, saya hanya bisa tersenyum. Saya juga pernah menjadi korban akibat menjadi perokok pasif. Dulu, di keluarga saya, Papa dan Om saya perokok berat. Papa yang berprofesi sebagai arsitek tentu suka lembur ditemani rokok dan kopi. Gaya hidup kurang sehat di Jakarta yang dianutnya membuat kadar kolesterol dan tekanan darahnya meninggi.

Ketika saya masih berumur 16 hari, saya terpaksa diopname karena tubuh saya membiru. Penyebabnya klep jantung saya tidak mau menutup, yang membuat darah kotor dan darah bersih tercampur. Beruntung saya tertolong. Umur 10 tahun saya sering merasa sesak nafas, pingsan saat upacara dan berat badan saya tidak sesuai, sangat kurus (23kg kala itu). Ketika diperiksa ternyata itu semacam "lanjutan" dari sakit saya dulu. Saya harus minum obat setiap pagi selama dua tahun. Alhamdulillah ketika saya SMP saya dinyatakan sembuh total, berat badan mulai stabil sesuai umur dan tinggi, tidak gampang pingsan dan tidak lagi sesak nafas.

Penyebab utama semua itu? Karena Papa saya perokok. Rokok mempengaruhi kualitas sperma seorang pria, membuatnya menjadi rusak. Sperma rusak ini masih bisa membuahi ovum, tetapi akan berpengaruh pada keturunannya. Papa saya kemudian berhenti merokok ketika terserang stroke sekitar sepuluh tahun lalu. Ayah tiri saya juga perokok berat, berhenti pada tahun 2006. Tetapi hal itu tidak membuatnya luput menderita jantung koroner. Agustus lalu beliau masuk rumah sakit sampai dua kali. Kini beliau sudah berangsur membaik, tetapi harus meminum obat jantung seumur hidupnya.

Pertanyaanya, masihkah anda, para perokok, ingin meneruskan "hobi" merokok anda? :)

Friday, 16 December 2011

Buku, Gambar, Tulis, Aku dan Mama

Sejak kecil aku dibiasakan suka membaca. Mama langganan majalah Bobo, Papa membelikan banyak buku, Tanteku juga. Dari membaca itu imajinasiku jadi luas.
Mungkin hal itu menjadi 'bumerang' bagi Mama. Karena aku suka membaca, aku jadi ingin beli banyak buku. Buat Mama nggak masalah kalo buku yang aku inginkan itu buku pelajaran, tapi sayangnya yang ku inginkan itu buku cerita, novel, komik dan semacamnya. Menurut Mama, buku-buku seperti itu nggak bikin pintar. Dan lebih baik aku menggunakan waktu luangku untuk latihan soal matematika atau membaca buku IPA.
Waktu kecil aku suka Sailor Moon. Papa belikan aku banyak buku Sailor Moon. Dan aku tertarik untuk menggambar anime. Tapi Mama meremehkan gambarku. Katanya "gambar orang kurus".

Yah, namanya juga hobi, mau diolokin sebagaimanapun tetep aja dilakuin. Aku diam-diam suka menulis cerita meskipun kadang nggak sampai selesai. Aku masih suka menggambar di tengah-tengah kejenuhan di kelas. Aku diam-diam nyewa komik dan novel. Kalau aku punya uang sendiri aku lebih suka ke Gramedia daripada ke toko baju.

Setiap mengunjungi Tante di Jakarta atau Papa di Semarang, pulang-pulang aku pasti bawa buku, entah itu cuma satu atau dua. Bagiku buku lebih menarik daripada nongkrong di KFC atau McD. Mama memaklumi hobiku dan sebenarnya bersyukur aku lebih suka ke toko buku daripada toko lain, apalagi dugem.

Suatu hari, gara-gara ditegur petugas perpus kampus karena pake wedges, aku nulis cerpen tentang itu, sebagai bentuk pelampiasan kedongkolanku. Iseng kukirim naskah itu ke majalah. Eh, ternyata dimuat! Aku menunjukkannya pada Mama, dibaca Mama. Sejak itu Mama mendukungku. Saat aku down dengan skripsiku, Mama bilang "Nulis cerpen aja bisa, pasti nulis skripsi kamu juga bisa" =='a

Sampai sekarang Mama masih mendecak tak setuju setiap aku pulang membawa novel atau komik dari toko buku. Nggak hilang akal, aku memanfaatkan Twitter untuk ikut kuis-kuis berhadiah buku. Ketika aku menunjukkannya pada Mama, Mama bilang "Selamat" dan memujiku.

Yah, intinya, aku harus langsung ngasih bukti ke Mama biar Mama percaya bahwa aku bisa.

Wednesday, 14 December 2011

Review : Victoria and The Rogue - Meg Cabot

gara-gara nonton film The Young Victoria, aku jadi suka hunting buku atau film bersetting 1800-an :D
salah satunya buku ini. Well, nggak cuma karena settingnya 1800-an aja sih, tapi juga karena Meg Cabot yang nulis (yep, I'm the one of her biggest fan!).

Victoria yang yatim piatu ini diasuh oleh tiga pamannya di India. Karena Victoria sudah dewasa dan sudah waktunya menikah, ketiga pamannya memutuskan untuk memindahkan Victoria ke London, ke paman dan bibinya yang lain yang memang tinggal di sana. Victoria sempat keberatan, tapi akhirnya ia berangkat juga. Di perjalanan ia bertemu Captain Carstairs, kapten kapal yang ditumpanginya, yang menurutnya sangat angkuh, sombong dan kurang ajar kepadanya. Victoria juga bertemu dengan Lord Malfrey, yang menurutnya sangat sopan, romantis dan mempesona. Entah bagaimana Lord Malfrey meminangnya secara mendadak di atas kapal. Victoria yang kesal dengan perlakuan Jacob Carstairs memutuskan menerima pinangan Lord Malfrey. Keluarga Victoria di London ternyata sangat mengenal Jacob Carstairs, mereka sering mengundangnya ke rumah. Ini membuat Victoria semakin kesal dengan Carstairs dan membuat mereka sering bertengkar. Carstairs sering memperingatkan Victoria untuk berhati-hati terhadap Lord Malfrey, tapi tidak diindahkan Victoria karena ia terlanjur kesal dengan Carstairs dan menganggap Carstairs ingin menghancurkan pertunangannya.

Hingga suatu malam Victoria terjebak hujan badai bersama Lord Malfrey, kemudian Lord Malfrey menawarkan rumahnya untuk tempat berteduh Victoria sementara sampai hujan reda. Ternyata Lord Malfrey yang dibantu ibunya, berusaha 'merusak' Victoria (di Eropa kala itu, jika ada seorang gadis tidak pulang sampai malam dan ketahuan menginap di rumah tunangannya, maka gadis itu dianggap telah rusak). Victoria yang menyadari hal itu kabur dari rumah Lord Malfrey hanya dengan pakaian dalam. Ia ditolong oleh pencopet cilik yang dulu juga pernah ditolongnya. Ia menyuruh pencopet cilik itu untuk mengantarkan surat ke Carstair agar menjemputnya. Sejak itu Victoria yang sebenarnya menyukai Carstairs akhirnya jujur dan berkata bahwa ia mencintai Carstairs, Carstairs pun akhirnya melamar Victoria.


Seperti biasa, Meg Cabot selalu menyuguhkan cerita yang menarik untuk dibaca dari awal sampai akhir. Karena setting waktunya berbeda, bahasa Meg Cabot di buku ini jelas berbeda dengan bahasanya di Princess Diaries series atau dalam novel yang lain. Tapi tidak membuatnya menjadi membosankan (beberapa buku bersetting tahun 1800-an entah mengapa menjadi sangat sastra dan tutur bahasanya baku bahkan kaku). Lucu juga ternyata ada cerita cinta berawal dari benci. Makanya ya, jangan benci sama orang, nanti jadi cinta loh ^^"a

Thursday, 8 December 2011

Angeliers Indonesia

anybody here know or even likes Primadonna Angela's books? I'm the one of her fans. When I was at senior high school, I found one of here book, "Resep Cinta" in my libraries school. Then I felt in love with her books. Last year I found her Twitter account (@cinnamoncherry) and we talked about anything! She likes cooking, writing (ofcourse), cats!, and some classic musical. Me too! It's almost a year we know and close each other although just from Twitter. She just has a fanbase Twitter account (@angeliers_id) who managed by one of her fans too, Mudita Nanda. Angeliers_id has three admin, Mudita Nanda, Ichy Fitri and Alinda Tania. Because Mudita and Alin would face their exam, they searched for the fourth admin and.......it's me! Yep, I'm the fourth Angeliers_id's admin!
I'm so happy about that and made some pictures about us, here they are :

chibi style

couture theme
what do you think? :3


Saturday, 3 December 2011

#DearPapa - a letter to the Guardian

Sabtu, 3 Desember 2011

Dear Papa,
Papa lagi apa? Pasti sedang menonton TV sambil menunggu sms dariku kan? Maafkan aku tak pandai berkata-kata untuk sms denganmu. Bukannya aku tak sayang lagi padamu, atau mengabaikanmu. Aku hanya bingung dengan diriku sendiri. Aku bingung bagaimana menyampaikan perasaan sayangku padamu.

Papa, aku yakin Papa kangen banget sama aku dan Mama.
Aku juga, Pa. Aku kangen banget sama Papa. Tahukah, Pa? Mama juga kangen sama Papa. Meskipun kalian sekarang tak lagi bersama, percayalah, cinta Mama sebenarnya hanya untuk Papa. Tapi keadaan lah yang memaksa begini. Dan aku bangga dengan kalian, karena bisa melewati ini dengan baik, dan masih menyimpan cinta itu. Cinta yang tumbuh tiga puluh tahun yang lalu. Cinta yang melahirkanku.

Papa, ingatkah?
Ketika kita bertiga pergi bersama, membeli buku bahasa Inggris untukku. Aku menangis sambil menggenggam buku cerita bergambar yang kumau, tapi tak diperbolehkan Mama. Kau kesal, lalu mendorong tubuhku dengan kakimu agar berdiri, tapi aku menganggapnya sebagai tendangan? Aku tak marah, dan maafkan aku yang salah paham. Aku masih ingat lho, judul buku itu. The Wizard of Oz.

Papa, aku masih ingat.
Betapa kau menyayangiku. Sayangmu padaku begitu besar. Setiap pulang dari Jakarta, kau membawa banyak hadiah untukku. Dan kau berikan padaku secara berkala. Aku menganggapnya sebagai kejutan tiada habisnya. Seakan koper Papa adalah kantong ajaib Doraemon. Yang setiap saat menyimpan berbagai kejutan dan hadiah untukku. Kau tahu dulu aku suka Sailor Moon. Kau hafal aku dulu suka Westlife, sampai sekarang. Aku juga ingat ketika aku menginap di kantor Papa dulu. Aku tidur di karpet, di bawah meja komputer. Dan kau menjagaku semalaman. Ketika pagi menjelang, kau ingatkan aku untuk meminum obatku. Obat yang kala itu tak boleh absen kuminum, untuk mengobati jantungku. Syukurlah, berkat doamu, aku sembuh, dan bisa berlari tanpa takut sesak nafas lagi.

Papa, masih ingat juga?
Ketika Papa mandi, dan aku mengira Papa akan pergi. Aku berdandan karena aku kira akan kau ajak. Memang aku diajak. Tapi ternyata Papa mengajakku pergi tidur. Aku marah. Aku merasa kau bohongi. Aku menangis hingga tertidur di kamar Om Wid. Juga ketika Papa sedang istirahat dan aku bermain di mobil. Tanpa sengaja mobil berjalan sendiri dengan aku masih di dalam sendirian. Aku yakin kau cemas.

Papa, aku juga masih ingat,
Ketika aku sakit, kau menjagaku di sampingku. Memijat kakiku, berharap panas tubuhku menurun dan aku berlari ceria lagi. Tertawa dan memelukmu lagi.

Papa, begitu banyak kenangan antara kita.
Tapi entah kenapa, aku tak bisa sms lebih dari sekedar membalas "Pagi, papa" setiap pagi. Aku seketika terdiam, tak bisa merangkai kata, untuk bercerita padamu, bagaimana aku sekarang. Aku ingin mengunjungimu. Tetapi keadaan di sana yang mengurungkan niatku. Aku tak ingin ada pertengakaran, Pa. Dengan orang yang menemanimu sekarang di rumah.

Papa, percayalah.
Sebenarnya aku menyayangimu. Sama seperti aku menyayangi Mama. Aku hanya tak pandai menunjukkannya.

Papa, ketahuilah.
Aku ingin menemuimu. Aku ingin memelukmu. Aku terus berdoa supaya Papa lekas sembuh. Bisa berjalan tanpa tongkat lagi. Bisa menggerakkan tangan lagi. Dan aku ingin bertemu kedua kakakku. Aku ingin bisa akrab dengan mereka, Pa. Aku tak peduli dengan masa lalu Papa, mereka dan aku. Aku ingin mereka menganggapku adik. Semua sudah berlalu. Aku ingin mereka dan aku berdamai. Karena bagaimanapun, darah Papa mengalir dalam nadi kami. Dan aku selalu berdoa untuk itu. Kalaupun mereka belum menerimaku saat ini, aku siap kapan pun mereka mau menerimaku. Aku siap memeluk mereka dan memelukmu juga, Pa. Kapan saja.

Papa, I Love You. Aku bangga memiliki namamu di nama tengahku.

Your daughter,
Dhita


#DearMama, a letter to the Angel

Kamis, 1 Desember 2011
Dear Mama,
Lama sekali ya rasanya aku nggak nulis surat buat Mama. Dulu waktu kecil aku suka menulis surat kecil buat Mama. “Semoga Mama betah dengan pekerjaannya” “Selamat Hari Valentine, Mama” “Selamat Hari Ibu, Mama”. Surat-surat kecil itu aku selipkan dengan pita di meja rias Mama. Mama ingat, kan? Betapa tingginya imajinasi anakmu ini. Betapa tinggi harapan anakmu ini. Pasti Mama masih ingat kala aku kecil, aku menggambar seorang wanita sedang berkacak pinggang dengan tulisan “Mama marah” di bawahnya? Tapi Mama nggak pernah marah. Mama malah tertawa.

Mama, ketika dewasa ini,
aku semakin merasa aku berbeda dengan teman-temanku. Bukan perbedaan yang buruk, tetapi bagaimana perilaku hasil didikan Mama yang membuatku bangga. Mama tak pernah menyuarakan kata-kata yang buruk, tak pernah bilang aku nakal, menegurku dengan tenang, meski kadang memang disertai omelan, tapi itu ciri khas Mama, bukan? :)

 Dulu, sejak kecil aku ingin seperti Mama.
Pintar di sekolah, sukses di pekerjaan dan bahagia di rumah. Maafkan aku yang sempat kesal padamu, Ma. Karena Mama begitu sibuk dengan pekerjaan, repot dengan urusan kantor, mengepakkan sayap Mama di dunia karir. Aku merasa kesepian. Di saat aku ingin Mama memelukku di rumah, Mama malah rapat di kantor.

Ma, aku paling suka ketika lampu mati di rumah.
Kita berkumpul di ruang tamu, dengan penerangan seadanya. Tanpa TV, tanpa komputer, tanpa lampu. Mama menceritakan sejarah keluarga yang belum kuketahui. Kita mengenang masa lalu. Ketika masih ada Mbah Uti, ketika masih ada Papa, ketika Om Bambang masih bisa tertawa, ketika Om Innisisri masih manggung sama Om Iwan Fals. Saat itulah aku memiliki Mama benar-benar seutuhnya. Tanpa intervensi dari berkas-berkas kantor, tanpa gangguan suara TV, tanpa dunia maya yang ditawarkan komputer. Kita berbagi cerita, kita berbagi tawa, dan belajar bersama dari pengalaman.

Tahukah, Ma?
Semua orang yang mengenal Mama bilang Mama adalah orang yang sempurna. Itu membanggakanku, tapi juga membebaniku? Tapi aku tahu, Mama tak memaksaku untuk seperti Mama. Mama membolehkanku mengepakkan sayapku sendiri di dunia yang aku sukai kan? Seperti di dunia tulis ini. Yang dulu sempat kau ragukan. Tapi aku membuktikannya pada Mama, kan. Aku bisa, dan aku mampu.

Ma, aku ingin membanggakan Mama.
Lebih dari ini. Aku menyesali bahwa dulu aku pernah iri dengan temanku yang ibunya terlihat lebih asyik dari Mama. Kini aku bersyukur, aku punya ibu seperti Mama. Yang mengajariku segalanya. Mendidikku dengan kasih sayang. Meski aku anak tunggal, tapi tidak semua yang kumau Mama jawab iya. Aku tahu itu untuk kemandirianku.

Ma, aku tahu.
Sebenarnya di balik tegarnya Mama, Mama merasa kesepian. Tak ada yang bisa dibagi keluh kesah ketika Mama sedih, tak ada yang bisa disambati ketika Mama merasa sesak. Mama selalu ada buatku, buat Om dan buat Tante ketika kami butuh bantuan. Mbah Uti, yang menjadi tempat di mana kita bersandar psikologis, telah tiada. Betapa kita mencintainya ya, Ma. Betapa kita merindukannya.

Mama, aku sayang sama Mama.
Aku mencintai Mama melebihi dalamnya samudra dan tingginya langit di angkasa. Aku mencintai Mama melebihi cinta Romeo kepada Juliet. Melebihi karya-karya Kahlil Gibran tentang syair cinta. Melebihi cinta yang dinyanyikan Julio Iglesias. Cinta kepadamu itu candu, yang tak ada habisnya aku reguk seiring perkembangan zaman, seiring menuanya waktu.

Mama, maaf.
Untuk semua gerutuan. Untuk semua kekesalan. Untuk semua kesalahan. Untuk semua kekhilafan. Untuk semua kealpaan. Untuk semua kecerobohan. Untuk semua kebohongan. Untuk semua kesalahan yang pernah kulontarkan dan kugulirkan. Percayalah bahwa sebenarnya aku mencintaimu.

Mama, terima kasih.
Untuk semua hadiah. Untuk semua dukungan. Untuk semua kecupan. Untuk semua dekapan. Untuk semua tangisan. Untuk semua omelan. Untuk semua teguran. Untuk semua belaian. Untuk semua nasihat. Untuk semua cerita. Untuk semua ajaran. Untuk semua bisikan. Untuk semua waktu. Untuk semua tenaga. Untuk semua pikiran. Untuk semua hati. Untuk semua. Yang terus-menerus kau limpahkan. Yang terus-menerus kau curahkan. Yang terus-menerus kau berikan tiada akhir, tiada ujung dan tiada batas untukku. Kata sayang, cinta, love, tresno, ai, amor, dan semua yang menunjukkan itu rasanya tak cukup untuk mewakili perasaan ini.

Mama, I can’t help myself to falling in love with you. Aku bangga, namamu terselip di nama tengahku.

With a lot of LOVE, ~Your daughter, Dhita Rustiyan.~