Wednesday, 29 February 2012

Motivasi sendiri : Les dan Jogging

Ini sebenernya postingan memotivasi diri sendiri.
Lagi skripsi *ugh* gini, tiba-tiba keinget jaman SD. Waktu itu disuruh les di sebuah tempat atas rekomendasi orang tua temen SD. Tempatnya deket dari rumah dan terbukti berhasil membuat beberapa temen yang les di sana jadi makin encer otaknya.

Mama ngedaftarin aku les di situ sejak kelas 5 SD, dengan harapan kolom ranking di buku rapor bisa keisi angka antara 1-10. Metode pengajaran di sana begini. Hafalan untuk IPA dan IPS, guru les bikin daftar soal sebanyak seratus biji lengkap dengan kunci jawaban. Nah, masing-masing anak harus menghafal minimal sepuluh jawaban tiap hari, setor ke guru. Jadi kayak tebak-tebakkan gitu. Kalau hafalannya kuat, sehari 50 biji soal pasti bisa. Lha kalo yang pikunan? Siap-siap kerja keras deh...
Dan unfortunately, aku termasuk salah satu yang paling nggak suka hafalan. Aku baru hafal kalo ngehafalin peristiwa, lirik lagu sama muka cowok ganteng. *bletak!*


Pas kelas enam, tiap jam 5 sore pamit les, pulang jam 8 (kalo kelas enam emang jadwal lesnya menggila). Karena aku ogah dan males hafalan, bolos lah daku. Dari jam 5 sampe jam 8 naik sepeda muter-muter kota Blitar. Kadang berhenti sebentar di Alun-Alun kota, ngeliatin orang-orang di sana, penjual yang gelar tikar dan dagangan (obat kuat dari ular!!) di tanah.
Kira-kira hal itu berlangsung selama lima hari. Dan akhirnya ketahuan Mama. Dihajar lah saya. Dicubitin sampe memar empat hari empat malem di kedua paha. Warna memarnya lumayan lucu peralihannya. Dari biru, ungu, hijau, kuning, baru ilang bekasnya.
Mama tanya, kenapa aku bolos les? Aku jawab aku nggak mau hafalan. Akhirnya di bawah pengawasan (baca : tatapan tajam nan garang) Mama, aku berusaha buuuanget buat hafalin 20 jawaban tiap harinya.

Sometimes kita berada dalam suatu peristiwa nggak enak, yang nggak pengen kita hadapin, padahal itu harus. Kayak ujian, test, skripsi, dan lain-lain. Tapi toh semua itu nggak bisa dihindarin. Tetap harus kita jalani. Seberapa pun malesnya, seberapa pun ogahnya, mau nggak mau tetap harus dijalani. Dan begitu masa itu terlewati, rasa leganya luar biasa! Kayak menghirup udara pas lagi liburan di Puncak. Seger!

Sama kayak skripsi *ugh* ini. Mau nggak mau, seberapa pun kamu males, selama apa pun kamu nge-pending, ujung-ujungnya tetep harus kamu kerjain juga. Ya masa mau nggak lulus sih? Udah kerja tapi ijazah S1 masih disimpan di ruang jurusan? Gitu kok minta kenaikan gaji ato pangkat.

Dan satu lagi yang aku pelajari dari fase ini. Kemarin aku terlalu nggampangin. Ah, entar aja, masih ada waktu. Itu terus yang aku ucapin dalam hati. Giliran temen-temen seangkatan udah ada yang pake toga, rasanya kayak ditabok dan digebugin di ulu hati secara bersamaan. Sakit!
Ketika kamu udah melakukan suatu pekerjaan, kerjain terus sampai selesai! Jangan berhenti meskipun cuma sebentar. Jangan bikin ruang kosong. Ibaratnya kamu lagi lari keliling lapangan. Kalau sudah sampai tiga putaran, kaki sudah terbiasa buat lari. Tiba-tiba kamu berhenti, padahal kamu masih bisa, nafasmu masih kuat. Kaki yang udah terbiasa gerak cepat lalu mendadak kecepatannya berkurang pasti rasanya sakit banget, perut kayak melilit, nafas ngos-ngosan. Buat lari lagi pasti beraaaat banget. Sama kayak ngerjain skripsi ini! Pas udah lancar, jangan 'istirahat'. Teruuuuus kerja. Cari referensi kalo kamu stuck buat nulisnya. Biasakan otak terus terisi informasi seputar skripsimu.

MEI WISUDA!!!!!!

Monday, 27 February 2012

Keputusan Terakhir, cerpen duet bareng @rayfarahsoraya

Ini cerpen duet aku sama @rayfarahsoraya. Baru kenal, dikenalin @IchyFitri. Dia ikut #20hariNulisDuet. Bikin beginian ternyata asik juga :3


Fafa menatap jam di dinding
’8 jam lagi’,batin Fafa.Dibereskan lagi semua yang masih belum masuk.
Satu,dua,tiga,,,Tiga koper besar dan masih ada yang harus ia urus dan ia masukkan ke dalam koper berikutnya. Fafa menghela nafas panjang,lelah. Hampir tiga jam lebih ia masih sibuk mengepak barang.
‘Kenapa harus mendadak gini sih?’
Semuanya hampir ia salahkan,ini bukan karena keinginan Fafa,ini keinginan mereka,atau mungkin Fafa menginginkannya tapi urung mengakuinya.
***

Lima tahun mereka bersama, lima tahun itu pula Fafa memujanya. Rasanya seperti sebagian hidup Fafa didedikasikan hanya untuknya. Hampir seluruh temannya bilang ia terobsesi, berambisi, terhadap wanita itu. Fafa hanya menggeleng, menepis perkataan mereka, olokan mereka, yang berkata bahwa Fafa terlalu berlebihan. Fafa merasa nyaman dengan dia. Itu saja. Itu yang membuat Fafa bertahan dengannya lima tahun ini, meng’iya’kan segala perkataannya. Bukan hanya permintaannya, bahkan omelan kecilnya untuk bergegas mandi atau membereskan ruang TV yg berantakan. Semua Fafa patuhi. Seperti sekarang ini. Ketika ia berkata ingin pindah ke Singapura, tiga hari lalu. Dan ia ingin pergi bersama Fafa. Dan itu harus. Yang berarti mengorbankan pekerjaan Fafa, kuliah Fafa, juga tabungan Fafa.

Tok tok tok
Bunda mengetuk lembut pintu, Fafa tahu, ada yang sangat ingin Bunda katakan sebelum keputusan ini terlanjur bulat. Bagi Fafa, semua sudah positif, Fafa ingin selalu bersama Ninda.
“Masuk,Bunda”
Bunda masuk dan tersenyum kepada anak lelaki yang ia cintai.
“Kamu belum sarapan,Mas”
Fafa menggeleng pelan, “Sebentar ya Bunda, masih banyak yang harus Mas packing“
Bunda duduk di sebelah Fafa, membantu melipat pakaian. Menatap lama anaknya, Fafa tidak ingin Bunda menangis, atau mengatakan sesuatu yang membuat semua keputusan menjadi berat. Bunda mengelus kepala putranya sekilas.
“Kamu yakin sama semua keputusanmu,Nak?”
‘Bunda..kok pertanyaan itu lagi?’,Fafa tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke semua barang-barangnya.
“Kuliah kamu gimana?”
“Bunda, disana banyak beasiswa. Bunda jangan pernah khawatir sama Fafa ya?”
Fafa tahu, semakin ia menghibur Bunda kalau semua semakin baik-baik saja, semakin Bunda khawatir. Tapi keputusan Fafa sudah bulat, demi Ninda. Ia bersedia mengajak serta ke Singapura. Barang-barang Ninda sudah dikemas dan ia bergegas pulang, bahkan Fafa sendiri belum berkemas, namun Ninda yang didahulukan, diutamakan.
Bunda meninggalkan kamar Fafa, tapi ada satu pertanyaan yang membuat Fafa tertegun, hanya satu, yang tidak pernah diajukan Bunda.
“Mas, seberapa yakin Ninda akan menjadi milik kamu? Jawab dengan hatimu sendiri,Bunda tidak perlu tahu. Tapi hati kecil kamu harus tahu”.

*****

Semua sudah siap. Fafa meminta keluarga untuk tidak mengantarnya. Pedih rasanya melihat wajah mereka yang berat melepasnya. Fafa ingin tinggal. Tapi ia juga ingin bersama Ninda. Ia juga ingin merasakan hidup mandiri di negeri orang. Ninda juga tidak diantar keluarga. Hanya sopir yang bertugas mengantar mereka, tanpa menunggu. Dan di sinilah mereka. Duduk berhadapan di sebuah cafe di bandara. Tak ada obrolan. Tak ada candaan. Tak ada kalimat mesra. Masing-masing menggenggam cangkir berisi kopi yang masih utuh. Dari mulai masih mengepul hingga menjadi dingin. Seakan ada hal sama yang mereka pikirkan. Benarkah keputusan ini? Ninda yang ngotot pindah ke Singapura karena tak tahan dengan kondisi keluarganya yang tidak harmonis. Dan dia butuh Fafa untuk terus di sampingnya. Fafa yang tak pernah bilang “tidak” untuknya.
Mereka menunggu panggilan operator yang mengumumkan mereka untuk segera ke pesawat. Setengah jam, satu jam. Fafa mulai merasa ada yang tak beres. Fafa beranjak dari kursinya.
“Aku tanya petugas dulu ya,” katanya, dibalas anggukan Ninda. Fafa mendekati petugas berseragam merah, seragam maskapai penerbangan yang pesawatnya akan mengantar mereka. Menerbangkan mereka ke negara tetangga. Fafa tampak shock, kemudian berlari ke arah counter check in di bawah. Ninda melihatnya, bergegas menyusulnya. Ninda melihat Fafa lemas di depan counter check in.
“Ada apa?” tanya Ninda, heran melihat wajah pucat Fafa.

“Kita ketinggalan pesawat dua jam yang lalu….,” jawab Fafa lemas. Dan di antara kebingungannya, ia seperti melihat sosok Bunda-nya, merentangkan kedua tangan mengajak Fafa untuk pulang.

Review : Satsuki Sensei

Review buku yang telat :| *sungkem ke mami Donna*
Buku ini adalah buku kumcer karya Primadonna Angela. Yang bikin spesial buku ini adalah ada nama saya di dalamnya :3 (baca bagian depan, komentar tentang karya Donna)




Buku ini berisi sepuluh cerpen tentang cinta dan harapan. Uniknya, beberapa tokoh dalam cerpen di sini berkesinambungan. Bintang yang pacaran sama Ardi ternyata bersahabat sama Sita dan Satsuki. Leoni yang ternyata nggak cuma menjahati Sita, tapi juga mencuri ide-ide Dewi. Debora yang diteror oleh Venna, kini bersahabat dengan Dewi. Seriously, cerpen yang tokohnya saling berkesinambungan begini baru aku temui di bukunya mami Donna.

Dari kesepuluh cerpen di sini, yang paling aku suka berjudul "Kopdar". Di sini diceritakeun (sounds familiar.....OVJ...) seorang cewek yang janjian ketemu sama sahabat dunia maya-nya yang ber-nickname Rocket di sebuah cafe. Sedang tegangnya menunggu, dia 'diganggu' seorang cowok yang sebenernya cakep, sih, tapi agak kepedean gitu. Kemudian muncul cowok culun yang ngakunya cari si Aquamarine, si cewek itu. Entah kenapa kok pertemuannya malah jadi awkward. Nggak nyambung kayak waktu di dunia maya. Ketika Aini, si Aquamarine ini, mau pulang, cowok 'pengganggu' tadi ternyata malah si Rocket yang dia tunggu. Rocket alias Kai Sebastian ini bikin skenario demikian untuk mengetahui apakah Aini pantas dia tunggu, pantas untuk Kai jadikan ceweknya, yang nggak cuma suka dengan Kai hanya karena dia tampan dan pemain basket, tapi karena Kai adalah Kai.


Sounds romantic nggak sih? Tapi jujur kalo aku jadi Aini, sebelum aku bilang "Yes, I wanna be your girlfriend", aku tonjok dulu itu si Kai. Soalnya dia sempat meragukan Aini, sih =="

Serunya, masih ada sembilan cerpen lagi yang nggak kalah asiknya :D
Setuju deh, sama kamu :3

WARNING :
Buku ini harus dibaca ketika senggang, boleh sediakan camilan dan minuman ringan. Tidak diperkenankan membaca buku ini disela-sela pelajaran atau bekerja karena dapat menyebabkan Anda pengen baca lagi, lagi dan laaaaaagiiiiiii. :3

Friday, 24 February 2012

Two Days Live in Photobox

Dua hari kemarin bolak-balik mall cuma buat photobox. Haha, lebay. But it was fun! Ya iyalah. Seems like my life must be in front of camera *makin lebay*.
Gara-gara ada event makeup class gratis dari Wardah cosmetics selama dua hari di Gedung Samantha Kridha Universitas Brawijaya, nih. Eh, bukan, bukan berarti aku dateng di acara itu dalam dua hari. Gila, niat amat kalo gitu mah .____.

Day 1
Berangkat ke sana sama adek kost. Ternyata di perjalanan kita dibikin emosi sama kondisi jalanan yang panas, macet pol-polan, debu dimari dimara. Kemudian aku nyeletuk "kalo gini mah, bisa-bisa nggak jadi ke makeup class, malah ngadem di mall,"
Dan ternyata disambut meriah oleh adek kost yang emang gak terlalu interest sama makeup-makeup ini. Jadilah kita bablas ke mall yang letaknya sebelahan ama UB. Yak! Anda benar, MATOS idola kita semua.
Setelah jalan-jalan ke Gramedia, beli kopi di food court, si adek kost ngajakin photobox. Ya sudah, namanya juga born to be a star, diajakin foto ya hayuk aja *plak!*
eh, photoboxnya rame dong. Ada gerombolan mbak-mbak (rada rempong) mau foto sebelum kita. Pas ngeliat mukanya, oalaaaah, abis dari makeup class toh mbak?? =))
Btw, hasil photoboxnya kayak foto di studio yah...





                     




Day 2
Adek kost gak mau diajak ke makeup class, ya sudah, cari korban lain. SMS ke sahabat lama, si Naomy. Kalo dia mah acara beginian hayuk aja. =))
Dan kita dateng setengah jam sebelum acara .____.
Acara pun dimulai. Naomy heboh karena nggak bisa dandannya, mbak-mbak sebelah kita nggak bisa bedain pensil alis ama eyeliner. Udah aku kasih tau, ngeyel. Alhasil, alisnya jadi super tebel kayak ulat bulu  -____-
Aku nya sih nyantai aja. Niat ikut makeup class ini sebenernya cuma numpang dandan ama biar dapet goodie bag aja, wong udah bisa. Huahahahahaha. Aku juga bawa makeup-ku sendiri. Biar gak rebutan. Hahah.
Naomy saking ribetnya, dia minta tolong mbak-mbak Wardah-nya buat ngaplikasiin eye shadow ke matanya. Dan....menor!!! Huahaha *dikeplak Naomy*
Ada sesi photo booth before after juga. Yang dicetak yg after doang -___-
Sambil nunggu foto dicetak, kita jalan ke MATOS (lagi) (dengan muka dandan abis). Dan di sana kita photobox (lagi, buatku).

muka kita sebelum makeup
after make over X)
photobox kita!

Friday, 3 February 2012

Listening

when you get upset, when you sad
you came to me, "I need" you said
and I put everything down from my hand
then I heard you from beginning to the end

that is happened not for once
you always tell me and then gone
and you smiling because you lost your pain
then you said that I'm your friend for main

but why don't you do that to me too?
listen to me just us two
welcoming me with your smile
and listen to my story for a while

you act like you don't interest
then you say you must take a rest
you leave me in the middle of my story
and let me feel not free

the next day you come again
say that you feel the pain
and I act like a fool
listen to your story full

oh my dear
would you like to stop it?
don't you know that I need you
exactly the same like you need me too

this is all about you
the person I choose from the few
and I'm pretty sure that you hide something from me
then I ask you, when will you let me out from this curiousity