Friday, 16 March 2012

Lollypop Love

Perkenalkan, album duet saya bareng Atiqoh :')
Buku ini kita terbitin di NulisBuku, sebuah self publishing di Indonesia.
Temen-temen kita di Plurk pada kaget ternyata kita belum pernah ketemu X)
Buku ini isinya 11 cerpen cinta berdasarkan imajinasi (sama pengalaman) kita (ninja)
Alhamdulillah yes, udah banyak juga yang baca dan nulis review buku ini buat kita.
Reviewnya dikumpulin di link berikut ini :

Review #LollypopLove 4 by @galsoewandi
Review #LollypopLove 7 by @agungrizkianto *pacarnya atiqoh* (ninja) kabur

Sekarang sih, si Atiqohnya udah ngelairin anak kedua di Nulisbuku.com. Saya.......skripsi dulu deh ;____;

Sunday, 4 March 2012

Two Days Live in Mall

Eerrr....seems like a series, yah. Abis Two Days Live in Photobox sekarang Two Days Live in Mall. -___-"

Day 1
Ke Toga Mas nemenin adek kost beli buku. Abis dari Toga Mas ngelanjutin perjalanan ke MOG buat window shopping alias liat-liat doang *bokek*
Cuma mampir ke Giant beli Teh Tarik ama jus, trus beli es krim, diem di taman sama adek kost, gosipin orang-orang yang lewat depan kita. Hahaha!! XD
Ini dia foto-fotonya :



baru tau kalo ada gerombolan anak sekolah yang ngeliatin di belakang -____-"

setelah es krim kita abis, kita langsung pulang, karena mendungnya udah mulai buka lapak.
Malemnya Mommy comes!!! Hurraaay!!!! Sidaaaak kostaaaaan!!! *gedubrakan beresin kamar*

Day 2 :
Jam setengah sembilan start dari kostan sama Mama ke daerah sekitaran Pasar Besar. Nyari apa?? Nyari mic sodara-sodara!! Karena kita hobi banget karaokean di rumah, mic yang lawas udah gak sensitif lagi, Mama memutuskan untuk beli mic lagi. Udah dapet, cuss ke Matos. Karena jalan Ijen ditutup karena car free day, kita muter lewat jalan Semeru yang aduhai crowdednya. Tiba-tiba pas lewat jalan Merbabu, Mama berhenti mendadak, puter balik, berhenti di penjual Tahwa. That was the first time I drank Tahwa. Not bad. Kata Mama ini minuman khas Semarang (is it?). Karena saya keturunan Semarang, pantes aja saya doyan. :p
Tahwa abis, kita lanjutkan perjalanan ke Matos. Nyampe Matos langsung naik ke Matahari. Beli apa? Sunglasses, kakak. Dengan dalih sering kepanasan di lokasi proyek, Mama beli sunglasses. Udah dapet, merengek minta makan. Mumpung lagi sama Mama, aku pesen Curry Udon dan ngebungkus Sushi. Mama minta dibungkusin Hokben. Setelah kenyang kita turun ke Hypermart.

Naaaaah, di sini terjadi sesuatu awkward tapi bikin bersyukur bisa bahasa Inggris. Pas masuk Hypermart, aku sempet liat ada orang Arab ngomong ke satpam. Si orang Arab nggak bisa bahasa Indonesia, sodara-sodara. Dan itu sukses bikin pak satpam cengar-cengir kebingungan. Aku pun berinisiatif ngebantu. Kasian aja gitu liat muka pak satpam.

Aku      : kenapa mas? bisa saya bantu? *kok kayak sales ya?*
Satpam : ini mbak, bapaknya mau masuk lagi, tapi belanjaannya gak bisa masuk, kan udah dibayar *nunjuk troli berisi mainan dan anaknya*
Aku      : Excuse me, Sir. You just bought this all? *nunjuk belanjaannya*
si Arab  : Yes, this, this, this all. And what's the problem so I must met with this police? *nunjuk belanjaan, nunjuk struk belanjaan, nunjuk pak satpam*
Aku      : Excuse me, can I look at your struck? *si arab ngasih struk*
                Is it you mean you want to take your gift?
si arab   : Yeah, that's right.
Aku      : you must take it at those information booth *nunjuk bagian informasi*
si arab   : I did, but they said that I must meet this police. what's the problem?
Aku      : Let me ask to them *bawa struk ke bagian informasi*
               Mas, bapak ini tadi tanya, struknya dicoret begini dia dapet apa?
petugas : gak ada, mbak. beliau cuma dapet potongan harga 200ribu kalo dia beli termometer di *sensor* (nama apotek)
Aku      : *ngomong ke Arab* Sorry, Sir. You don't get a gift. You just get a discount if you buy thermometer at *peep*
si Arab  : my friend already shopping and just spent seven hundred. I spent one million and don't get a gift??
Aku      : No, there's no promo. But you just get a discount 200rb if you buy thermometer at *peep*
si arab   : *ambil struk, mukanya kecewa, pergi*

Duh, agak nggak enak hati juga sama tu Arab. Nggak tahu kenapa .____.



Thursday, 1 March 2012

Just Because of Parfume

Beberapa paragraf pertama di cerpen terbaru saya :3


Sebagian orang di dunia ini menggilai parfum. Parfum buat mereka, selain untuk melengkapi kesempurnaan penampilan, juga untuk mendeskripsikan karakter mereka. Beberapa menyukai hanya satu macam wewangian, yang sering diinterpretasikan sebagai seseorang yang setia. Beberapa menyukai berbagai macam wewangian, sekadar mengganti suasana atau karena memang mencari wewangian yang pas. Ada juga yang mengkoleksi parfum. Keunikan dari masing-masing botol membuatnya layak untuk dikoleksi.

Termasuk aku, menyukai parfum. Tak hanya parfum untukku, tetapi juga parfum miliknya. Wangi yang selalu menggema ke seluruh ruangan. Meski ruangan itu memiliki ventilasi baik dan lebar, namun wanginya tetap memenuhi ruangan itu. Pengharum ruangan saja kalah. Dan aku menikmati berdua bersamanya di dalam mobil. Dengan aromanya yang dominan, tanpa efek memusingkan. Pernah aku ingin menanyakan merk parfum yang ia kenakan. Tapi aku yakin, hampir semua orang termasuk dia pasti akan menyembunyikan merk parfumnya. Yah, parfum sudah menjadi barang sangat pribadi melebihi ponsel.

Seperti hari ini, dia datang menjemputku. Jantungku sudah berdegup kencang. Melihatnya berjalan saja rasanya sudah mau pingsan. Aku berdiri mematung di dekat gerai KFC bandara. Ia semakin dekat dan tersenyum padaku. Tanpa menyapa ia langsung menunduk meraih tas bajuku. Aku merasa seperti Edward yang tak tahan dengan aroma tubuh Bella. Tapi sama-sama dalam konteks takut kecanduan, takut kebablasan melakukan hal-hal yang ‘tak diinginkan’.

Ia berdiri di samping mobil menungguku. Dibukanya pintu mobil depan. Aku masuk. Aroma parfumnya lagi-lagi sudah menyebar di seluruh mobil. Dan aku menyesalkan bahwa perjalanan nanti sangat singkat. Ia duduk di belakang kemudi. Di perjalanan aku lebih banyak diam. Sesekali melihatnya mengemudi. Memperhatikan tangannya yang lihai memutar kemudi, memindah gigi persneling. Kakinya yang tanggap menginjak kopling, rem dan gas. Aku juga bisa mengemudi. Baru bisa tepatnya. Jadi aku mengagumi gayanya mengemudi yang begitu halus.

Jentikan jarinya di depan mataku mengagetkanku. “Kok lihatin aku?” tanyanya. Aku mendengus pelan, menggeleng. Tapi aku melirik lagi.

“Sepertinya suasana hatimu sedang bagus sekali hari ini,” kataku. Ia tersenyum.

“Bukankah biasanya juga begini?” tanyanya.

“Biasanya kamu dingin,” kataku pelan.

Sial, umpatku dalam hati. Parfumku masih tetap kalah dengan aroma parfumnya. Dan aku terkejut ketika ia seperti bisa membaca pikiranku.

“Parfumku luar biasa ya, parfummu sampai kalah,” katanya. Wajahnya terlihat geli.

“That’s not funny,” kataku kesal. Ia malah tertawa semakin keras. Ia memutar kemudi dengan satu tangan, halus sekali. Memasuki pelataran kantor Mama.

“Sudah sampai,” katanya, masih sambil tersenyum. Aku mengucapkan terima kasih sekilas sambil membuka pintu mobil. Sedikit menyesal kenapa aku terlalu terburu-buru keluar dari mobil. Udara di luar menetralkan paru-paruku. Tapi aku malah tak merasa lega. Ingin rasanya kembali ke dalam mobil, menyuruhnya membawaku jauh entah ke mana dan menghabiskan waktu berdua. Well, itu cuma khayalanku saja sih.