Monday, 27 June 2011

About Me

Actually I have a blog at anindsaid.blogspot.com. but I decided to "move" it here because my fashion blog and those blog has different email address and it's really annoying. I must log out first, then entering another email. That is so waste my time :/
now I just need to try moving my posts from the old blog to here. I hope I can do it.

Saturday, 18 June 2011

"Another Story of My Mother and I"

“Hoaaaahm.....” aku menguap lebar-lebar. Aku buka mataku pelan-pelan. Hal pertama yang kulihat merupakan hal paling manis di dunia, senyum Ibuku. Aku balas tersenyum. Ibu memelukku dengan sayang. Rasanya hangat.
“Selamat pagi, sayang,” kata Ibuku. Aku mendongak menatap Ibuku.
“Apa itu pagi, Ibu?” tanyaku.
“Pagi adalah saat di mana Paman Matahari mulai datang. Dan di luar sana akan terlihat sangat terang karena cahayanya,” jawab Ibu.
“Bisakah aku melihatnya, Ibu?”
“Nanti. Kau baru saja tumbuh, nak. Kalau kau sudah cukup tinggi, kau akan melihat Paman Matahari dan yang lainnya,”
Aku tersenyum. Dalam pelukan Ibu aku merasa aman dan nyaman. Gelap, tapi menyenangkan. Aku mengantuk lagi, ingin tidur lagi. Namun tiba-tiba sesuatu menabrakku.
“Ah, maaf, maaf,” katanya. Aku melihat yang baru saja menabrakku. Bentuknya panjang, warnanya merah.
“Ibu, itu siapa?” tanyaku.
“Dia adalah Paman Cacing Tanah. Dia teman Ibu, temanmu juga. Dia membantu Ibu untuk tetap subur sehingga dapat membantumu tumbuh besar,” jawab ibu.
“Halo, halo. Wah, kau baru tumbuh ya, nak? Tenang, Paman Cacing akan membantu Ibumu untuk memberimu nutrisi yang kau perlukan. Kau mau cepat besar kan?” katanya ramah. Aku mengangguk tersipu.
“Permisi dulu ya, Paman harus menggali lagi,” pamitnya sambil melambaikan tangan. Aku membalas melambai.
Aku tak lagi merasa ngantuk. Tapi aku juga bingung harus berbuat apa. Tiba-tiba aku merasa badanku basah.
“Ibu, apa ini? Dingin dan basah,” tanyaku.
“Itu air, nak. Air akan membantumu tumbuh cepat,” jawab Ibu.
Aku merasakan air masuk ke tubuh ibu, dan ke dalam tubuhku juga. Rasanya segar sekali. Air ini memenuhi seluruh tubuhku, mengalir di sela-sela rongga tanganku, kakiku. Aku merasakan Ibu menatapku. Aku menatapnya dan Ibu tersenyum padaku.
“Rasanya enak, Bu,” kataku. Ibu memelukku lebih erat.
“Aku merasa agak lapar, Bu,” kataku.
“Makan nutrisi dari Paman Cacing dulu ya. Air dalam tubuhmu juga akan menjagamu tetap kenyang nanti,” kata Ibu. Aku mengangguk. Dan tak lama kemudian aku merasa mengantuk. Ibu mendekapku dan membuaiku hingga aku tertidur.



Aku terbangun tiba-tiba. Aroma yang tak biasa menyergapku.
“Ibu, ini apa? Baunya aneh,” tanyaku.
“Itu pupuk kandang, sayang. Ini makananmu,”
“Makananku? Tapi baunya...,”
“Iya, pupuk kandang adalah pupuk alami. Terbuat dari kotoran hewan-hewan yang sudah terurai. Baunya memang aneh dan tak begitu sedap. Tapi dia memiliki banyak nutrisi untukmu,” jawab Ibu dengan sabar. Ah, aku mencintai Ibuku. Ia selalu bisa menjawab pertanyaanku dan menentramkan aku. Ibuku menyuapiku dengan pupuk tersebut sedikit demi sedikit. Aku mulai terbiasa dengan baunya dan merasa lebih kuat setelah makan. Psst, aku juga merasa tangan dan kakiku mulai panjang.
Ibu tersenyum melihatku. “Besok pagi kau mungkin sudah bisa melihat Paman Matahari, nak,”
“Benarkah, Bu?” tanyaku berbinar-binar. Ibu mengangguk.
“Seperti apa di atas sana, Bu? Apakah menyenangkan?”
“Di atas sana terang, tidak gelap seperti ini. Kau akan menghirup yang namanya udara. Kau juga akan bertemu Adik Ulat. Dia mungkin akan memakan daunmu. Tapi manusia akan membantumu terbebas darinya,”
“Siapa manusia, Bu?”
“Manusia adalah makhluk Tuhan, sama seperti kita. Tapi mereka dapat bergerak dan berjalan ke mana saja. Mereka membutuhkan kita, membutuhkanmu, untuk tetap sehat dan membantu kita tumbuh,”
“Apa mereka penyayang seperti Ibu?”
“Ya, nak. Tapi beberapa dari mereka kadang suka merusak tanaman. Mereka pernah menebang kelompok Paman pohon Jati dan lupa menitipkan penggantinya kepada Ibu. Mereka juga membajak teman Ibu di sawah dengan mesin. Rasanya kasar, dan asap dari mesin membuat teman-teman Ibu dan udara menjadi gelisah,” terang Ibu.
“Ibu, aku takut,” kataku. Ibu memelukku lebih erat.
“Tak apa-apa, nak. Kau dilahirkan karena kau dibutuhkan manusia. Manusia akan merawatmu dan menjagamu,” katanya menentramkan.





Keesokannya aku terbangun karena aku merasa tubuhku hangat, dan terang! Aku telah keluar! Aku mendongak dan Paman Matahari tersenyum di atas sana.
“Selamat pagi, Kacang kecil. Selamat pagi,” sapanya bersahaja. Aku tersenyum dan melambai.
“Selamat pagi, Paman Matahari,” jawabku. Aku menoleh ke sekelilingku. Mengendusi udara yang rasanya sama segarnya dengan air. Sinar dari Paman Matahari menyentuh tubuhku dengan hangat.
“Ibu, aku senang!” seruku gembira. Ibu tersenyum, Paman Matahari tergelak.
Dari kejauhan aku melihat sesosok makhluk, makin lama makin mendekat. Ia membawa sesuatu di tangannya.
“Ibu, siapa dia?”
“Itulah manusia, nak. Ia membawakanmu pupuk kompos, makananmu hari ini,”
“Apa itu kompos?”
“Kompos adalah pupuk yang terbuat dari kumpulan daun-daun mati, kakak-kakakmu dulu. Mereka yang layu atau tak diperlukan manusia, dikumpulkan dan dititipkan ke Ibu sampai mereka membaur dengan Ibu, dan memberi makanan bagi kamu,” jawab Ibu.
“Apa aku juga kelak akan demikian, Ibu?” tanyaku lagi.
“Ibu tidak bisa memastikan, nak. Tapi suatu saat kau pasti akan kembali ke Ibu,” kata Ibu. Aku sebenarnya tidak mengerti maksud Ibu, tapi aku diam saja. Aku memperhatikan manusia itu memasukkan pupuk kompos ke sekitarku dan menyiramiku dengan air.
“Waah, kau sudah besar ya, kacang. Sudah keluar dari tanah. Lekas berbuah ya,” katanya lembut. Aku terpukau. Manusia ini sungguh baik. Ia kemudian pergi. Aku memejamkan mata. Merasakan suasana baru ini. Segar. Tapi aku merasa aku masih lapar. Padahal tadi sudah diberi makan. Aku menatap ke bawah. Ada rumput liar yang ikut makan makananku!
“Hei, itu makananku,” protesku.
“Minta dikit. Pelit amat,” katanya cuek sambil terus makan.
“Itu bukan sedikit, kau memakan hampir separuhnya,” kataku lagi. Rumput liar itu tidak mendengarkanku. Tapi aku mendengar langkah kaki manusia. Beda dengan yang tadi. manusia yang ini terlihat lebih “keras”. Ia membawa sebuah sekop.
“Ah, rumput ini mengganggu,” katanya. Dan ia mencabuti rumput-rumput liar itu! Hore, aku tak perlu khawatir lagi makananku direbut!
Setelah selesai mencabuti rumput-rumput, manusia itu kemudian duduk di batu besar di sebelahku. Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya, mengepitnya dengan mulutnya dan membakarnya. Ia menghembuskan asapnya dengan keras di depanku. Aku merasa sesak.
“Ibu, apa ini? Baunya lebih tidak enak dari pupuk kandang. Membuatku sesak,” tanyaku.
“Itu rokok, sayang. Terbuat dari tembakau kering dan cengkeh,” jawab Ibu.
“Apa? Paman tembakau dibuat menjadi seperti ini? Apa gunanya, Ibu?”
“Tidak ada, Sayang. Ia hanya menjadi kesenangan bagi para manusia terutama yang laki-laki. Ia malah merusak tubuh manusia,” jawab Ibu.
Manusia itu kemudian beranjak pergi. Aku bernafas lega. Akhirnya aku dapat merasakan udara yang segar lagi.



Manusia yang baik kemarin datang lagi. Oh, iya. Aku sudah semakin besar lho. Aku malah sudah punya biji-biji. Kata Ibu, mereka adalah adik-adikku. Sebagian dari mereka akan dititipkan pada ibu agar besar, sebagian dari mereka akan diambil manusia sepenuhnya. Manusia itu mengambil semua biji-bijiku. Kini aku hanya berupa daun dan batang serta akar. Jujur, aku agak sedih ditinggal adik-adikku. Mereka sungguh masih kecil.
Manusia yang merokok kemarin juga datang lagi. Kali ini ia membawa semprotan besar di punggungnya dan menyemprot kami semua. Baunya sungguh tidak enak!
“Apa lagi ini, Bu? Ini bukan air biasa sepertinya,” tanyaku.
“Itu insektisida. Cairan kimia untuk menghindarkan kalian dari serangga yang memakan daun-daunmu,” jawab Ibu.
“Bah! Baunya nggak enak!” kataku. Kulihat tanaman-tanaman lain juga mengernyit tak senang. Tapi benar saja. Beberapa serangga yang datang cepat-cepat menjauh, tak tahan dengan bau kami.
“Hei, kacang, sudah dengar gosip baru?” tanya Singkong di deretan depanku.
“Gosip apa?”
“Beberapa dari Sawi yang sudah dipanen tiga minggu lalu ternyata dikembalikan. Mereka tak laku dijual di pasar,” jawabnya.
“Lho, kenapa?”
“Karena mereka sangat mulus. Beberapa manusia malah memilih sawi yang agak bolong-bolong. Katanya karena sawi yang utuh berarti mengandung insektisida yang buruk untuk kesehatan mereka. Hah! Siapa coba yang ngasih kita semprotan bau itu? Mereka sendiri juga kan,” kata Singkong sarkatis.
“Astaga. Benarkah demikian? Lalu bagaimana nasib para sawi itu?” tanyaku.
“Sebagian dari mereka diberikan secara cuma-cuma. Sebagian lagi yang sudah keburu kering atau layu dibuat jadi kompos,” jawab Singkong. Aku terdiam. Manusia sungguh sulit ditebak. Mereka memberi kami ini itu agar kami cepat tumbuh, tampak segar dan sehat. Tapi pada akhirnya, dengan kemolekan rupa kami, kami malah tidak dipilih karena insektisida yang mereka berikan berdampak buruk bagi kesehatan mereka.
“Ibu, aku bingung dengan manusia,” kataku lelah.
“Istirahatlah, nak. Nanti malam kau harus berjaga mengubah karbondioksida menjadi oksigen kan,” kata Ibu menentramkan aku.



Semakin hari bijiku semakin bertambah. Dan semakin lama semakin lemah pula tubuhku. Air dan pupuk tak lagi dapat menyegarkanku. Beberapa daunku menguning dan jatuh. Aku merasa sangat letih.
“Ibu, aku merasa lemah,” keluhku. Ibu diam saja, tak seperti biasa. Mungkin beliau sedang menenangkan adik-adikku atau tanaman yang lain. Manusia lelaki itu datang lagi. Ia membawa sekop lagi. Seingatku tak ada lagi rumput di sekitarku. Ia berjalan menghampiriku dan menusukkan sekopnya tepat di bawah akarku!
Aku yang lemah sudah tak bisa lagi protes. Aku jatuh lunglai. Direnggutnya aku dan dikumpulkan bersama tanaman mati lainnya. Tapi aku belum mati. Aku hanya berangsur lemah. Setelah terkumpul banyak, kami dimasukkan ke dalam sebuah lubang dan menutupi kami dengan tanah. Ibu!
Ibu tersenyum padaku. Inikah yang beliau maksudkan dulu? Yang Ibu bilang aku akan kembali pada Ibu?
“Aku kembali, Bu?”
“Iya, nak. Kau menjadi kompos sekarang. Kau akan memberi nutrisi bagi adik-adikmu dan tanaman lain,”
“Jadi, aku berguna, Bu?”
“Sangat. Dan Ibu bangga padamu,” jawabnya lembut. Aku tersenyum, menutup mata dan terlelap dalam pelukan Ibuku.